Bagaimana jika Ternyata Thomas & Friends Mahluk Hasil Rekayasa Genetik di Dunia Post-Apokaliptik?
Thomas the Nightmare Engine. (Foto: Youtube Tom Koben)
Editor: Damar Pratama
GEBRAK.ID — Jika membahas dunia Thomas & Friends secara serius, ada satu hal yang terasa sangat aneh: mengapa lokomotif di Sodor memiliki wajah, emosi, kepribadian, dan kesadaran seperti manusia?
Dalam dunia fiksi lain, kendaraan yang bisa berbicara biasanya dijelaskan sebagai robot, AI, atau mesin yang memiliki kesadaran. Namun, Thomas & Friends tidak pernah memberikan penjelasan yang benar-benar jelas mengenai asal-usul para lokomotif tersebut.
Hal ini membuka sebuah teori penggemar yang cukup gelap: bagaimana jika Thomas dan lokomotif lainnya sebenarnya bukan robot, melainkan manusia hasil rekayasa genetika yang hidup ribuan tahun setelah peradaban manusia runtuh?
Teori ini menjadi semakin menarik jika konsepnya dipadukan dengan Novel Man After Man karya Dougal Dixon dan All Tomorrows karya C. M. Kosemen, yang sama-sama menggambarkan masa depan manusia dengan perubahan biologis ekstrem.
Thomas Bukan Robot, Melainkan Organisme
Dalam teori ini, Thomas bukanlah lokomotif biasa yang diberi AI. Ia adalah organisme biologis yang tubuhnya telah direkayasa agar menyerupai lokomotif.
Bayangkan manusia di masa depan yang memiliki teknologi genetika sangat maju. Mereka membutuhkan tenaga kerja untuk mempertahankan jaringan transportasi, tetapi peradaban mereka sudah mengalami krisis sumber daya.
Daripada terus memproduksi mesin yang boros energi karena sumber daya post apokaliptik yang menipis, mereka menciptakan makhluk hidup dari DNA manusia yang dapat melakukan pekerjaan tersebut.
Generasi awal mungkin masih terlihat seperti manusia yang menggunakan teknologi mekanis.
Kemudian proses rekayasa berlangsung selama beberapa generasi:
Manusia → manusia termodifikasi → cyborg → organisme yang bergantung pada rel → organisme berbentuk lokomotif → spesies baru.
Setelah ratusan atau ribuan tahun, generasi terakhir bahkan tidak lagi mengetahui bahwa nenek moyang mereka adalah manusia.
Mereka hanya mengenal diri mereka sebagai “engine”.
Mengapa Mereka Memiliki Wajah Manusia?
Salah satu bagian paling aneh dari desain Thomas adalah wajahnya.
Mata, mulut, ekspresi wajah, rasa takut, kebahagiaan, kemarahan, dan kemampuan berkomunikasi semuanya menunjukkan bahwa para lokomotif memiliki sistem kognitif yang jauh lebih kompleks daripada kendaraan biasa.
Jika mereka adalah robot, wajah tersebut bisa dianggap sebagai desain antarmuka. Namun dalam teori ini, wajah tersebut merupakan sisa biologis dari nenek moyang manusia. Rekayasa genetika mungkin mengubah hampir seluruh tubuh mereka menjadi bentuk lokomotif, tetapi struktur wajah tetap dipertahankan karena memiliki fungsi komunikasi.
Akibatnya, Thomas terlihat seperti lokomotif dari luar, tetapi sebenarnya memiliki anatomi yang jauh lebih kompleks. Bahkan bagian yang kita anggap sebagai komponen mesin mungkin merupakan organ biologis. Boiler, sistem tekanan, roda, dan berbagai mekanisme lainnya bisa saja merupakan hasil evolusi atau rekayasa yang menggantikan fungsi organ manusia.
Dengan demikian, ketika Thomas “rusak”, sebenarnya dia mungkin mengalami cedera biologis. Ketika masuk bengkel, ia bukan sedang diperbaiki seperti mobil. Ia sedang menjalani semacam operasi.
Sodor Bisa Jadi Koloni Eksperimen
Dalam versi teori ini, Pulau Sodor bukan sekadar sebuah pulau biasa.
Sodor mungkin merupakan salah satu fasilitas terakhir yang dibangun manusia sebelum atau setelah keruntuhan peradaban.
Pulau tersebut dirancang sebagai koloni tertutup untuk mengembangkan spesies pekerja baru.
Lokomotif diciptakan untuk menjalankan berbagai fungsi penting:
- mengangkut manusia;
- membawa bahan mentah;
- mengoperasikan tambang;
- menghubungkan kota;
- mengangkut makanan;
- menjaga jalur industri;
- dan mempertahankan infrastruktur yang tersisa.
Kemudian terjadi bencana global.
Peradaban manusia runtuh.
Pabrik-pabrik hilang.
Teknologi modern semakin sulit diproduksi.
Namun Sodor masih bertahan karena sistemnya telah dibuat agar mampu berjalan dengan bantuan organisme yang dapat merawat dirinya sendiri.
Ironisnya, teknologi yang awalnya diciptakan untuk mempertahankan manusia justru menjadi fondasi masyarakat baru.
Mengapa Sir Topham Hatt Memperlakukan Mereka Seperti Pekerja?
Di sinilah teori tersebut berubah menjadi jauh lebih gelap.
Sir Topham Hatt dan masyarakat Sodor mungkin mengetahui bahwa lokomotif memiliki kesadaran.
Namun mereka tidak menganggap kesadaran berarti hak.
Dalam sistem sosial Sodor, lokomotif mungkin secara hukum bukan manusia.
Mereka adalah aset industri yang hidup.
Thomas dapat merasa lelah.
Thomas dapat merasa takut.
Thomas dapat marah.
Thomas bahkan dapat memahami ketika dirinya diperlakukan tidak adil.
Namun menurut hukum Sodor, semua itu tidak penting.
Statusnya tetap: engine.
Akibatnya, ketika Thomas diperintahkan bekerja sepanjang hari, hal tersebut tidak dianggap sebagai perbudakan.
Ketika ia mengalami kerusakan dan diperintahkan kembali bekerja setelah diperbaiki, itu bukan dianggap eksploitasi.
Bagi masyarakat Sodor, semuanya hanyalah bagian dari fungsi biologis mereka.
Ini bahkan membuat Sir Topham Hatt tidak perlu menjadi penjahat.
Ia mungkin benar-benar percaya bahwa dirinya melakukan hal yang normal.
Ia tidak melihat Thomas sebagai manusia.
Ia melihat Thomas sebagai mesin yang memiliki kepribadian.
Dan justru itulah bagian paling mengerikan dari teori ini.
Nama Thomas Bisa Menjadi Sisa Terakhir Identitas Manusia
Ada hal lain yang menarik.
Thomas, Edward, Gordon, James, Percy, dan lokomotif lainnya memiliki nama manusia.
Jika mereka hanyalah robot, nama tersebut mungkin sekadar identitas yang diberikan oleh manusia.
Namun jika mereka adalah keturunan manusia, nama-nama itu bisa menjadi warisan budaya yang tersisa dari peradaban lama.
Bayangkan selama ribuan tahun tubuh mereka berubah, bahasa berubah, teknologi hilang, dan sejarah dilupakan.
Tetapi nama tetap diwariskan.
Thomas mungkin bahkan tidak tahu arti sebenarnya dari namanya.
Ia hanya tahu bahwa nama tersebut sudah dimiliki oleh leluhurnya selama ratusan generasi.
Jadi nama menjadi salah satu bukti terakhir bahwa spesies lokomotif tersebut pernah menjadi manusia.
Setiap Lokomotif Bisa Merupakan Hasil Rekayasa Berbeda
Perbedaan antara Thomas, Gordon, Percy, James, Edward, dan lainnya juga dapat dijelaskan melalui teori ini.
Mereka mungkin berasal dari program rekayasa yang berbeda.
Thomas dirancang untuk pekerjaan serbaguna dan jalur pendek.
Gordon dibuat untuk kecepatan dan menarik kereta berat.
Percy mungkin merupakan model berukuran kecil untuk pekerjaan lokal.
Lokomotif lain memiliki kemampuan berbeda karena nenek moyang mereka sengaja dimodifikasi untuk fungsi tertentu.
Dengan kata lain, perbedaan karakteristik mereka bukan hanya soal desain mesin.
Mereka adalah perbedaan biologis antarsubspesies.
Mirip dengan bagaimana manusia menciptakan berbagai jenis hewan melalui seleksi dan pembiakan, manusia masa depan menciptakan berbagai jenis “manusia-lokomotif”.
Konflik Steam dan Diesel Bisa Menjadi Konflik Evolusioner
Bahkan konflik antara lokomotif uap dan diesel dapat diberikan makna baru.
Lokomotif uap mungkin merupakan generasi lama.
Diesel adalah generasi baru yang diciptakan agar lebih efisien.
Karena itu, konflik keduanya bukan sekadar persaingan teknologi.
Ini adalah konflik antara dua kelompok hasil rekayasa genetika yang berbeda.
Steam engine mungkin menganggap dirinya sebagai kelompok yang lebih tua dan memiliki sejarah lebih panjang.
Sementara diesel menganggap steam engine sebagai bentuk kehidupan yang sudah usang.
Perselisihan mereka kemudian berkembang menjadi semacam konflik sosial antarkelompok.
Bagaimana Jika Ada Lokomotif yang Melarikan Diri?
Teori ini juga membuka kemungkinan yang lebih menyeramkan.
Tidak semua “engine” mungkin menerima kehidupan di bawah kendali manusia.
Sebagian bisa saja melarikan diri ke wilayah liar Sodor.
Selama beberapa generasi, mereka beradaptasi dengan lingkungan tanpa rel dan tanpa manusia.
Tubuh mereka berubah.
Roda mulai kehilangan bentuk aslinya.
Sistem tubuh mereka menyesuaikan diri dengan medan baru.
Manusia Sodor kemudian menyebut mereka sebagai monster.
Padahal mereka sebenarnya adalah keturunan lokomotif yang berhasil membebaskan diri dari sistem Sodor.
Dengan demikian, legenda tentang makhluk liar di luar jaringan rel sebenarnya adalah sejarah evolusi yang telah dilupakan.
Twist Terbesarnya: Manusia Sodor Mungkin Juga Bukan Manusia Asli
Ada satu kemungkinan yang bahkan lebih gelap. Bagaimana jika manusia yang tinggal di Sodor juga bukan manusia asli? Setelah ribuan tahun rekayasa genetika, mungkin manusia normal sudah punah. Yang disebut “manusia” di Sodor sebenarnya adalah spesies hasil modifikasi lain yang masih mempertahankan bentuk tubuh manusia.
Maka masyarakat Sodor terdiri atas beberapa keturunan manusia:
manusia administrator → manusia pekerja → manusia-lokomotif.
Seluruh kelompok tersebut sebenarnya berasal dari nenek moyang yang sama. Namun setelah ribuan tahun, mereka tidak lagi menganggap satu sama lain sebagai satu spesies.
Kasta penguasa mempertahankan bentuk manusia.
Kasta pekerja berubah menjadi mesin hidup.
Dan sejarah mengenai hubungan mereka sengaja dihapus atau terlupakan.
Bukan Kisah tentang Robot, tetapi tentang Hilangnya Kemanusiaan
Jika teori ini benar dalam dunia fiksinya, maka Thomas & Friends berubah menjadi cerita yang jauh lebih kelam. Thomas bukan robot. Bukan AI. Bukan kendaraan ajaib.
Ia adalah keturunan manusia yang telah direkayasa sedemikian ekstrem hingga manusia lain tidak lagi menganggapnya sebagai manusia.
Hal ini membuat konsep tersebut sangat dekat dengan tema All Tomorrows: identitas manusia dapat bertahan di dalam makhluk yang bentuknya sudah tidak lagi menyerupai manusia.
Perbedaan paling tragisnya adalah Thomas mungkin tidak pernah mengetahui bahwa ia kehilangan sesuatu. aginya, menjadi lokomotif adalah hal yang normal. Bekerja adalah tujuan hidup.
Rel adalah habitatnya. Dan Sir Topham Hatt adalah atasannya. Sampai suatu hari ia menemukan kebenaran. Thomas tidak pernah menjadi mesin. Mesinlah yang menjadi bentuk baru manusia. (*)
