Abdul Mu’ti: Jangan Jadi Penonton di Negeri Sendiri, Kuasai Ilmu dan Teknologi

mbs kretek muti

Kegiatan peresmian Muhammadiyah Boarding School (MBS) Kertek di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Jumat (14/8/2026). (Foto: Istimewa)

Editor: A. Rayyan K

GEBRAK.ID, WONOSOBO — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (Sekum PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed., menyatakan pentingnya pendidikan dalam membangun kualitas manusia sekaligus mendorong kesejahteraan bangsa.

Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti saat menghadiri peresmian Muhammadiyah Boarding School (MBS) Kertek di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Jumat (14/8/2026). Acara tersebut turut dihadiri Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat, Sekretaris Daerah (Sekda), jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) se-Wonosobo, serta Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) setempat.

Dalam tausiyahnya, Abdul Mu’ti mengawali dengan mengutip QS. Az-Zumar ayat 9 yang menegaskan perbedaan antara orang yang berilmu dan mereka yang tidak memiliki ilmu.

Menurutnya, kemuliaan manusia tidak semata-mata ditentukan oleh harta maupun jabatan. Ilmu menjadi salah satu fondasi penting yang menentukan kemampuan manusia menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi.

Abdul Mu’ti juga mengaitkan pesan tersebut dengan QS. Al-Baqarah ayat 30 mengenai penciptaan manusia sebagai khalifah serta tanggung jawab untuk mengelola sumber daya alam.

Ibu Jadi Madrasah Pertama Anak

Abdul Mu’ti kemudian menyoroti peran keluarga, terutama ibu, dalam proses pendidikan anak. Ia menyebut ibu sebagai madrasah pertama yang memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan kecerdasan anak.

Menurutnya, pendidikan tidak baru dimulai ketika seorang anak memasuki bangku sekolah. Proses tersebut bahkan telah berlangsung sejak anak masih berada di dalam kandungan.

“Pendidikan tidak dimulai ketika anak masuk sekolah, tetapi sejak ia masih berada dalam kandungan,” tegas Abdul Mu’ti.

Abdul Mu’ti menguatkan pandangan tersebut dengan merujuk Educational Theory: A Qur’anic Outlook karya Abdurrahman Shaleh Abdullah. Ia juga mengutip QS. Al-Ahqaf ayat 15 mengenai perjuangan seorang ibu ketika mengandung dan melahirkan anak.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan gizi ibu selama masa kehamilan untuk mendukung tumbuh kembang anak.

Empat Dimensi Fitrah Manusia

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti turut mengutip hadis Rasulullah SAW yang menyebut setiap anak lahir dalam keadaan fitrah.

Ia menjelaskan bahwa fitrah manusia mencakup empat dimensi, yakni jasmani, agama, akal, dan hati. Keempat aspek tersebut perlu dikembangkan secara seimbang agar manusia dapat menjalankan perannya dengan baik.

Abdul Mu’ti kemudian mengaitkannya dengan QS. Al-Isra ayat 70 tentang kemuliaan manusia serta QS. Hud ayat 61 mengenai tugas manusia untuk memakmurkan bumi.

“Hanya dengan ilmu, kita mampu mengelola sumber daya alam yang melimpah. Allah sudah memberikan potensi luar biasa, tetapi kita belum optimal karena minimnya ilmu,” ujarnya.

Menurut Abdul Mu’ti, kekayaan sumber daya alam Indonesia harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Pendidikan menjadi instrumen penting agar masyarakat mampu mengolah potensi tersebut menjadi sesuatu yang memberikan nilai tambah.

Belajar dari Korea Selatan hingga Afrika Selatan

Abdul Mu’ti juga mengajak masyarakat melihat bagaimana ilmu pengetahuan dapat mengubah kekuatan sebuah bangsa. Ia mencontohkan Korea Selatan yang mampu berkembang meski memiliki keterbatasan sumber daya alam.

Menurutnya, Indonesia juga harus mulai melihat potensi yang dapat dibawa ke pasar global, bukan hanya dalam bentuk barang mentah, tetapi juga budaya, teknologi, makanan, dan berbagai produk bernilai tambah.

Abdul Mu’ti menyinggung batik Indonesia yang dikenal di Afrika Selatan, salah satunya melalui sosok Nelson Mandela. Ia juga menyebut sejarah tokoh penyebar Islam dari Nusantara seperti Syekh Yusuf Al-Makassari dan Ahmad Dea Malela.

“Ini menjadi pertanyaan besar bagi kita semua, khususnya Wonosobo: apa yang bisa kita ekspor ke dunia? Dengan 31 PCIM (Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah) di luar negeri, kita punya jembatan pemasaran yang luar biasa untuk usaha-usaha Muhammadiyah di tingkat internasional,” ungkapnya.

Abdul Mu’ti kemudian mengutip nasihat Sahabat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib, bahwa siapa pun yang menginginkan dunia, akhirat, atau keduanya, harus menempuh jalan dengan ilmu.

Revitalisasi Pendidikan dan Pendekatan STEAMS

Abdul Mu’ti mengatakan pemerintah terus mendorong peningkatan kualitas pendidikan melalui program revitalisasi. Ia menyebut revitalisasi pendidikan pada 2025 mencakup 16.167 satuan, sedangkan pada 2026 mencapai 71.744.

Melalui Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT), pemerintah menerapkan pendekatan STEAMS yang memadukan Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, dan Sports.

“Ini bukan sekadar teori. Kami mengajak belajar STEAMS dengan metode 5M: Mudah, Murah, Menggembirakan, Meaningful, dan Mindful. Tugas kami dari Presiden adalah membudayakan STEM yang kini diperkaya dengan seni dan olahraga melalui SNT, karena anak-anak kita butuh pendidikan yang utuh,” jelasnya.

Abdul Mu’ti juga menceritakan anekdot mengenai seorang siswa SD 3 Kretek yang bercita-cita menjadi “juragan sapi”. Menurutnya, cita-cita tersebut tidak seharusnya dipandang sebelah mata.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) RI sekaligus Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (Sekum PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Ed memberikan sambutan dalam kegiatan peresmian Muhammadiyah Boarding School (MBS) Kertek di Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, Jumat (14/8/2026). (Foto: Istimewa)

Abdul Mu’ti justru mendorong agar anak-anak mendapatkan ilmu yang cukup sehingga mampu mengembangkan potensi dan profesi yang mereka pilih.

“Kita harus ubah pola pikir itu. Petani harus bangga dengan profesinya, tetapi kemuliaan itu harus dibangun di atas ilmu. Jangan sampai kita hanya jadi penonton di negeri sendiri,” tegasnya.

Ilmu, Keshalihan, dan Kesejahteraan

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa ilmu, keshalihan, dan kesejahteraan memiliki hubungan yang erat. Pendidikan, kata dia, menjadi kunci untuk membangun ketiganya secara berkelanjutan.

“Kuncinya ada di pendidikan. Orang berilmu akan diangkat derajatnya oleh Allah, dan dengan ilmu pula kita bisa menciptakan kesejahteraan bersama,” cetusnya.

Dalam kegiatan tersebut, turut disosialisasikan program Gerakan Pak Presiden ASRI serta sejumlah kebijakan strategis, termasuk Interactive Flat Panel (IFP) dan pembatasan penggunaan gawai bagi anak-anak.

Abdul Mu’ti juga mengingatkan pentingnya pendampingan orang tua dalam setiap tahapan tumbuh kembang anak. Ia menekankan penerapan Catur Pusat Pendidikan yang melibatkan keluarga, sekolah, masyarakat, dan media.

Menurutnya, pendidikan tidak dapat hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Seluruh unsur dalam ekosistem pendidikan perlu mengambil peran untuk memastikan anak memperoleh pendidikan yang utuh.

Komitmen Perhatian untuk Sekolah Swasta

Pada bagian akhir, Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi kepada Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat atas kinerja dan dedikasinya dalam membangun daerah. Ia juga mengapresiasi kerja sama yang mendukung peresmian MBS Kertek.

Abdul Mu’ti menegaskan perhatian pemerintah tidak hanya tertuju kepada sekolah negeri. Sekolah swasta juga akan mendapatkan perhatian sebagai bagian dari upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.

Peresmian MBS Kertek ditandai dengan penandatanganan prasasti dan doa bersama. Kehadiran sekolah tersebut diharapkan memperkuat pendidikan di Wonosobo dengan memadukan penguasaan ilmu pengetahuan, pembentukan karakter, dan nilai-nilai keagamaan.

Melalui pendekatan pendidikan yang utuh, MBS Kertek diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak, daya saing global, serta kemampuan untuk ikut membangun kesejahteraan masyarakat. (*)