Cara Orang Tua Melatih Keterampilan Sosial Anak dan Membantu Mereka Membangun Pertemanan
Cara Orang Tua Melatih Keterampilan Sosial Anak dan Membantu Mereka Membangun Pertemanan. (Foto: Psychology Today).
Editor: Damar Pratama
GEBRAK.ID– Orang tua sering bertanya-tanya bagaimana cara membantu anak mengembangkan kemampuan sosial, terutama ketika mulai muncul masalah dalam pertemanan, kesalahpahaman, atau perasaan terluka.
Menurut Pamela D. Brown Ph.D, dalam Psychology Today,banyak keterampilan sosial berkembang secara alami melalui pengalaman. Namun, orang tua juga memiliki peran penting dalam membantu anak memahami berbagai interaksi, mengevaluasi perilakunya, dan melihat bagaimana tindakan mereka dapat memengaruhi hubungan dengan orang lain.
Bimbingan menjadi semakin penting ketika anak mengalami situasi sosial yang membingungkan. Dengan memberikan arahan pada waktu yang tepat, orang tua dapat membantu anak memahami apa yang terjadi, bagaimana perasaan orang lain, serta apa yang mungkin dapat dilakukan secara berbeda pada kesempatan berikutnya.
Mengajarkan atau Melatih?
Keterampilan sosial berkembang melalui praktik, umpan balik, dan koreksi. Bagi sebagian besar anak, masukan tersebut pertama kali datang dari orang dewasa di sekitar mereka.
Di sinilah pentingnya membedakan antara mengajar dan melatih atau coaching.
Mengajar biasanya memiliki struktur yang lebih formal. Sementara itu, coaching lebih erat kaitannya dengan pengalaman nyata yang baru saja dialami atau diamati anak. Pendekatan ini cenderung singkat, spesifik, dan berhubungan langsung dengan perilaku anak beserta dampaknya terhadap orang lain.
Coaching yang efektif dimulai dengan mengamati. Orang tua perlu memperhatikan bagaimana anak berinteraksi, tetapi juga dapat mengajak mereka memperhatikan interaksi yang terjadi di sekitarnya.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya ketika anak melakukan kesalahan. Ketika anak berhasil menunjukkan perilaku sosial yang baik, momen tersebut juga dapat menjadi kesempatan untuk memberikan penguatan.
Bantu Anak Memahami Situasi Sosial
Setelah sebuah interaksi terjadi, orang tua dapat mengajak anak memikirkan kembali apa yang baru saja dialami.
Alih-alih langsung memberikan jawaban atau menyalahkan anak, ajukan pertanyaan yang membantu mereka melihat situasi dari sudut pandang orang lain, misalnya:
- “Menurutmu, bagaimana perasaan temanmu saat itu?”
- “Menurutmu, apa yang membuat dia bereaksi seperti itu?”
- “Kalau hal serupa terjadi lagi, apa yang mungkin kamu lakukan secara berbeda?”
Tujuannya bukan memberikan solusi secara langsung, melainkan melatih anak untuk menafsirkan situasi sosial dengan lebih akurat.
Namun, ada kalanya orang tua perlu memberikan arahan yang lebih jelas. Misalnya, ketika anak tidak menyadari bahwa perkataan atau tindakannya mungkin dianggap menyakitkan oleh orang lain.
Percakapan seperti ini sebaiknya dilakukan secara pribadi. Anak akan lebih mudah menerima masukan ketika tidak merasa dipermalukan atau ditegur di depan teman-temannya.
Ajarkan Anak Cara Memperbaiki Hubungan
Keterampilan sosial bukan hanya tentang mencegah masalah. Anak juga perlu belajar bagaimana memperbaiki hubungan ketika sesuatu sudah terlanjur berjalan buruk.
Orang tua dapat membantu anak memahami kapan permintaan maaf diperlukan, mencari kata-kata yang tepat untuk menjelaskan perasaan, atau menemukan cara untuk kembali terlibat dalam interaksi setelah terjadi konflik.
Yang penting, orang tua tidak mengambil alih hubungan tersebut.
Tujuannya bukan mengatur siapa yang harus menjadi teman anak atau menyelesaikan setiap konflik untuk mereka. Sebaliknya, orang tua perlu membantu anak mengembangkan keterampilan yang nantinya memungkinkan mereka mengelola hubungan secara mandiri.
Ajarkan Prinsip Timbal Balik dalam Pertemanan
Salah satu dasar penting dalam pertemanan adalah timbal balik atau reciprocity.
Percakapan yang sehat biasanya memiliki keseimbangan antara berbicara dan mendengarkan, berbagi cerita dan bertanya, serta menyampaikan sesuatu dan merespons apa yang dikatakan orang lain.
Orang tua dapat mengajak anak melakukan refleksi dengan pertanyaan sederhana seperti:
- “Menurutmu, bagaimana pengalaman itu bagi temanmu?”
- “Menurutmu, apa yang dipahami temanmu tentang dirimu?”
- “Kalau kamu berada di posisi dia, apakah kamu ingin berbicara denganmu lagi?”
Pertanyaan semacam ini membantu anak memahami bahwa komunikasi bukan hanya mengenai apa yang ingin mereka sampaikan, tetapi juga tentang bagaimana percakapan tersebut dialami oleh orang lain.
Tidak Terlalu Banyak, Tidak Terlalu Sedikit
Dalam komunikasi sosial, banyak hal mengikuti prinsip Goldilocks: tidak berlebihan, tetapi juga tidak terlalu sedikit.
Hal tersebut dapat diterapkan pada berbagai aspek interaksi, seperti jarak fisik, kontak mata, volume suara, intonasi, rasa ingin tahu, keterbukaan diri, hingga panjang respons.
Anak perlu belajar bahwa komunikasi yang efektif bukan berarti harus selalu banyak berbicara. Mereka juga perlu mengetahui kapan saatnya memberikan ruang kepada orang lain.
Pada dasarnya, percakapan merupakan proses bertukar informasi dan menemukan hubungan atau kesamaan. Anak dapat dilatih untuk membagikan informasi yang relevan, mengajukan pertanyaan lanjutan, dan mengembangkan topik berdasarkan apa yang baru saja dikatakan lawan bicara.
Ajarkan Pentingnya Mendengarkan
Mendengarkan merupakan bagian penting dari interaksi sosial.
Anak tidak hanya perlu diam ketika orang lain berbicara. Mereka juga dapat menunjukkan bahwa mereka benar-benar mendengarkan dengan memberikan respons atau komentar yang berkaitan dengan apa yang telah disampaikan.
Respons tersebut membantu menjaga percakapan tetap berjalan sekaligus menunjukkan kepada lawan bicara bahwa apa yang mereka katakan diperhatikan.
Sebaliknya, ada sejumlah kebiasaan yang dapat mengganggu hubungan jika terus dilakukan, seperti terlalu mendominasi percakapan, terus-menerus membicarakan topik yang sama, mengajukan pertanyaan yang terlalu pribadi, atau bercanda dengan cara yang ternyata dianggap menyakitkan oleh orang lain.
Bukan Mengawasi, tetapi Membangun Kesadaran
Tujuan orang tua dalam membimbing keterampilan sosial anak bukanlah mengawasi setiap perkataan atau mengatur seluruh interaksi mereka.
Yang lebih penting adalah membantu anak menyadari bagaimana mereka berpartisipasi dalam sebuah hubungan.
Dengan semakin memahami perasaan orang lain, memperhatikan respons lawan bicara, belajar mendengarkan, dan mengetahui cara memperbaiki kesalahan, anak secara bertahap dapat belajar menyesuaikan perilakunya tanpa selalu membutuhkan arahan orang tua.
Pada akhirnya, keterampilan sosial terbaik adalah keterampilan yang dapat digunakan anak secara mandiri. Peran orang tua adalah memberikan kesempatan untuk berlatih, membantu mereka memahami pengalaman yang terjadi, dan perlahan memberi ruang agar anak mampu membangun pertemanan yang lebih sehat, seimbang, dan berkelanjutan.
