Jejak Ekspedisi di Atas Awan: 6.000 Liter Urine dan “Kota Musiman” yang Melelehkan Es Everest
Studi terbaru ungkap aktivitas pendaki di Base Camp Everest menyumbang pencairan hampir 2.500 ton es per musim, setara volume satu kolam renang Olimpiade. (Foto: pixabay)
GEBRAK.ID,JAKARTA— Kemewahan kafe espresso, internet berkecepatan tinggi, hingga pemanas lantai di tenda-tenda mewah. Itulah pemandangan yang kini menghiasi Everest Base Camp (EBC) di Nepal, yang berubah menjadi “kota musiman” bagi ribuan pendaki dan kru pendukung setiap musim semi.
Namun, di balik gemerlap fasilitas penunjang ekspedisi tersebut, sebuah ancaman serius mengintai. Sebuah studi internasional yang diterbitkan dalam jurnal Regional Environmental Change mengungkap bahwa aktivitas manusia di base camp berkontribusi signifikan terhadap pencairan Gletser Khumbu, lapisan es di jalur pendakian menuju puncak tertinggi dunia.
Penelitian yang melibatkan tim peneliti dari Nepal dan Amerika Serikat ini memperkirakan bahwa sekitar 2.492 ton es dan salju (dengan rentang 1.964 hingga 3.020 ton) mencair setiap musim semi. Jumlah ini setara dengan volume air yang mampu mengisi satu kolam renang berukuran Olimpiade.
“Kota Musiman” di Atas Gletser
Para peneliti mengumpulkan data langsung selama musim pendakian 2023. Saat itu, sekitar 2.127 pendaki, pemandu, dan staf pendukung menempati hampir 1.600 tenda yang tersebar di area seluas 26,5 hektar di atas Gletser Khumbu selama kurang lebih 50 hari.
Untuk memenuhi kebutuhan “kota musiman” ini, konsumsi bahan bakar fosil sangat masif. Selama musim tersebut, tercatat penggunaan 824 tabung gas LPG, 18.935 liter minyak tanah, dan 5.130 liter bensin untuk keperluan memasak, pemanas ruangan, dan pembangkit listrik. Total energi panas yang dihasilkan dari pembakaran bahan bakar ini saja diperkirakan mencapai 849.174 megajoule, cukup untuk mencairkan sekitar 2.338 ton es.
Peran “Tak Terduga” dari 6.000 Liter Urine
Salah satu temuan paling mengejutkan dari studi ini adalah dampak dari kencing para pendaki. Di dataran tinggi, pendaki dan kru meminum air dalam jumlah besar untuk mencegah dehidrasi. Akibatnya, mereka membuang lebih dari 6.000 liter urine setiap hari. Berbeda dengan feses yang dikumpulkan dalam tangki dan dibawa turun gunung, sebagian besar urine dibuang langsung ke permukaan gletser.
Para peneliti memperkirakan bahwa panas dari urine ini saja dapat mencairkan sekitar 154 ton es dalam satu musim.
Gletser Meleleh Lebih Cepat
Dampak ini bukan hanya berasal dari aktivitas harian. Analisis data satelit Landsat dari tahun 1991 hingga 2023 menunjukkan bahwa suhu permukaan di area Base Camp meningkat rata-rata 0,28 derajat Celsius per tahun. Angka ini hampir dua kali lipat dibandingkan laju pemanasan di permukaan Gletser Khumbu yang tertutup salju. Para peneliti menekankan bahwa meskipun perubahan iklim global adalah penyebab utama mencairnya gletser di Himalaya, aktivitas manusia di base camp memberikan tekanan tambahan yang signifikan di tingkat lokal.
Ancaman yang Lebih Luas
Selain dampak termal, masalah lingkungan lain turut membayangi Everest. Penelitian terpisah dari Universitas Plymouth pada tahun 2020 menemukan mikroplastik di salju dekat puncak Everest, termasuk di “Zona Kematian” pada ketinggian 8.440 meter. Konsentrasi tertinggi ditemukan di Base Camp, diduga berasal dari peralatan pendakian seperti pakaian sintetis, tali, dan tenda.
Penelitian ini juga mengingatkan bahwa perhitungan belum mencakup sumber panas lain seperti operasi helikopter, panas tubuh pendaki, dan yak yang digunakan untuk mengangkut logistik, yang berarti dampak sebenarnya bisa lebih besar. Para ilmuwan pun merekomendasikan pertimbangan untuk merelokasi Base Camp ke area bebas es yang lebih stabil sebagai upaya mengurangi tekanan lokal terhadap gletser dan meningkatkan keselamatan.
Studi ini menjadi panggilan mendesak untuk menerapkan praktik pendakian yang lebih berkelanjutan demi menjaga kelestarian “Atap Dunia”.
(Devona R/berbagai sumber)
