2.883 Alumni PKK Siap Kerja ke Luar Negeri, Keterampilan Spa Buka Jalan ke Turki hingga Jepang

pelatihan spa smk

Pelepasan peserta Program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) di LKP Puspita Martha International Beauty School, yang dihadiri Mendikdasmen Abdul Mu'ti (tengah) di Jakarta, Kamis (17/9/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)

GEBRAK.ID, JAKARTA — Program Pendidikan Kecakapan Kerja (PKK) membuka peluang baru bagi peserta pelatihan untuk memasuki dunia kerja, termasuk pasar kerja internasional. Salah satunya dirasakan Fifayu Zuhara Malelestari yang kini bersiap mewujudkan impian bekerja sebagai terapis spa di Turki.

Fifayu merupakan peserta PKK Spa Terapis di LKP Puspita Martha International Beauty School, Jakarta. Setelah mengikuti pelatihan, ia berharap memiliki kompetensi yang semakin kuat sekaligus memperoleh pengalaman bekerja selama berada di Turki.

“Harapan saya lulus dari sini (menjadi) kompeten, dan juga bisa menambah skill saya. Kerja di sana juga salah satu mimpi saya karena yang pertama gaji di luar negeri itu cukup besar dan saya mau belajar budaya, bahasa baru di luar negeri,” ujar Fifayu dalam pelepasan peserta di LKP Puspita Martha International Beauty School, Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Menurut Fifayu, kemampuan massage atau pijat menjadi salah satu keterampilan penting yang ia dapatkan selama mengikuti pelatihan. Selain mengejar peluang kerja, ia ingin memanfaatkan pengalaman di Turki untuk mengenal budaya dan bahasa baru.

Cerita serupa datang dari Khana Sus Nurprasetyo. Lulusan SMK bidang kecantikan tersebut mengetahui program PKK Spa Terapis di Puspita Martha melalui media sosial. Khana menilai keterampilan massage dan wellness tetap memiliki prospek karena membutuhkan sentuhan manusia dan sulit sepenuhnya digantikan teknologi.

“Kesempatan untuk kerja di luar negeri itu untuk mengembangkan skill dan bakat saya, untuk mengembangkan keterampilan, belajar budaya lain supaya tidak stuck di sini saja,” kata Khana.

Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mencatat program PKK memang diarahkan untuk meningkatkan kesiapan kerja peserta melalui pelatihan berbasis kompetensi yang sesuai kebutuhan dunia kerja. Pada 2026, pemerintah menargetkan 12.780 peserta mengikuti PKK. Sementara Program Pendidikan Kecakapan Wirausaha (PKW) menyasar 8.730 peserta.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan, lulusan lembaga kursus dan pelatihan serta SMK yang bekerja di mancanegara membawa lebih dari sekadar keterampilan.

“Alumni lembaga kursus dan pelatihan serta SMK yang kita lepas untuk bekerja ke mancanegara membawa misi untuk Indonesia, mereka adalah para pahlawan, para pejuang yang tidak hanya mereka berusaha memperbaiki kualitas hidupnya secara pribadi tapi juga membawa nama bangsa dan negara di manapun mereka bekerja,” ujar Abdul Mu’ti.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen Tatang Muttaqin menyebut 2.883 alumni PKK dari 20 LKP mendapat kesempatan bekerja di sejumlah negara.

Rinciannya, Bulgaria menjadi tujuan terbesar dengan 1.831 alumni, disusul Jepang 692 orang, Turki 212 orang, dan Malaysia 76 orang.

Tatang mengatakan para alumni bekerja di berbagai sektor, mulai dari manufaktur, garmen, spa dan estetika, perhotelan hingga jasa pelayanan di sejumlah negara Asia, Timur Tengah, dan Eropa.

“Mereka bukan hanya membawa keterampilan, tetapi juga membawa nama baik bangsa Indonesia. Mereka adalah bukti nyata bahwa pendidikan nonformal Indonesia mampu mencetak sumber daya manusia yang kompeten dan berdaya saing global,” jelas Tatang.

Direktur LKP Puspita Martha International Beauty School Wulan Maharani Tilaar mengatakan, lembaganya telah dipercaya menyelenggarakan PKK Platinum sejak 2021. Program tersebut diarahkan untuk menyiapkan tenaga terampil di bidang kecantikan dan spa agar mampu memenuhi kebutuhan industri, termasuk pasar internasional.

Kemendikdasmen menyebut PKK telah mencatat tingkat keberhasilan penyerapan kerja sekitar 85 persen. Lulusan program tersebut terserap di berbagai sektor, seperti kapal pesiar, perhotelan, spa, wellness, dan transportasi.

Arah kebijakan tersebut menunjukkan pendidikan nonformal tidak hanya menjadi jalur alternatif bagi mereka yang membutuhkan keterampilan kerja, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk menuju pasar kerja global. Pemerintah pada 2026 juga memperkuat pelatihan dengan standar kompetensi dan keterkaitan dengan kebutuhan industri.

(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)