Harga Cabai Rawit Merah Melonjak di Sejumlah Daerah, Makassar Tembus Rp80 Ribu per Kg
Dari Makassar hingga Gorontalo, harga cabai rawit merah bergerak naik. Di Gorontalo Utara bahkan mencapai Rp200 ribu per kilogram akibat pasokan terbatas. (Foto: dok. Kementan)
GEBRAK.ID,MAKASSAR – Harga sejumlah bahan kebutuhan pokok di pasar tradisional Kota Makassar, Sulawesi Selatan, mengalami kenaikan. Cabai rawit merah menjadi salah satu komoditas yang paling mencolok karena harganya mencapai sekitar Rp80.000 per kilogram. Kenaikan harga tersebut membuat konsumen, terutama rumah tangga, harus menyesuaikan belanja harian di tengah pergerakan harga berbagai bahan pangan.
Berdasarkan informasi harga pangan Pemerintah Kota Makassar, harga cabai rawit merah di Pasar Maricaya tercatat Rp80.000 per kilogram pada pemantauan 17 September 2026. Pada periode yang sama, cabai rawit hijau berada di Rp50.000 per kilogram, cabai merah besar Rp40.000 per kilogram, dan cabai merah keriting Rp45.000 per kilogram.
Pergerakan harga cabai tersebut tidak hanya terjadi di Makassar. Sejumlah daerah lain di Indonesia juga mencatat harga cabai rawit merah yang relatif tinggi pada pekan ketiga September 2026. Harga cabai rawit merah di berbagai daerahDi tingkat nasional, data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia pada Rabu (23/9/2026) pukul 09.19 WIB mencatat rata-rata harga cabai rawit merah di tingkat pedagang eceran mencapai Rp89.500 per kilogram.
Harga tersebut memang turun dibandingkan sehari sebelumnya yang berada di sekitar Rp95.400 per kilogram. Namun, level harganya masih relatif tinggi. Pada hari yang sama, PIHPS mencatat cabai merah keriting Rp86.400 per kilogram, cabai merah besar Rp55.100 per kilogram, dan cabai rawit hijau Rp53.150 per kilogram.
Di Jakarta, harga cabai rawit merah di Pasar Kopro, Jakarta Barat, berada di kisaran Rp80.000-Rp90.000 per kilogram pada 23 September. Pedagang menyebut harga tersebut sebelumnya masih berada di kisaran Rp50.000-Rp70.000 per kilogram. Sementara itu, di Jawa Tengah, harga cabai rawit di tingkat petani Temanggung telah mencapai sekitar Rp55.000-Rp60.000 per kilogram.
Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Temanggung menyebut kenaikan berkaitan dengan menurunnya produktivitas tanaman akibat musim kemarau serta siklus tanam. Di Karanganyar, berdasarkan rangkuman data PIHPS per 23 September, harga rata-rata cabai rawit tercatat sekitar Rp54.400 per kilogram. Di Cilacap, harganya sekitar Rp54.250 per kilogram.
Kenaikan juga terlihat di Jawa Timur. Harga cabai rawit di Pasar Legi Jombang pada Rabu (23/9/2026) mencapai Rp73.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp65.000 per kilogram. Pedagang menyebut kondisi cuaca yang tidak menentu turut memengaruhi pasokan dari daerah produksi.
Di Sumatera Barat, data Dinas Pangan Sumbar pada 22 September 2026 menunjukkan harga cabai rawit merah berada di sekitar Rp61.886 per kilogram. Harga lebih tinggi terjadi di sejumlah wilayah luar Jawa. Di Gorontalo Utara, misalnya, cabai rawit bersih tanpa tangkai mencapai Rp200.000 per kilogram, sedangkan cabai yang masih bertangkai dijual sekitar Rp160.000 per kilogram.
Pedagang menyebut pasokan dari petani lokal menurun karena gagal produksi akibat musim kemarau. Pedagang kemudian mendatangkan cabai dari Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah.
Di Kota Gorontalo, harga cabai rawit juga dilaporkan melonjak hingga sekitar Rp160.000 per kilogram, dari sebelumnya sekitar Rp70.000 per kilogram. Kenaikan tersebut dikaitkan dengan terbatasnya pasokan lokal di tengah musim kemarau.
Mendag sebut cuaca panas ikut dorong kenaikan
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan kenaikan harga cabai rawit secara nasional salah satunya dipengaruhi kondisi cuaca panas selama musim kemarau dan fenomena El Nino. Menurut Budi, harga rata-rata cabai rawit nasional telah berada di kisaran Rp70.000 per kilogram berdasarkan pemantauan Kementerian Perdagangan pada Selasa (22/9/2026).
Kemendag juga mencatat berbagai jenis cabai mengalami kenaikan. Faktor cuaca dapat memengaruhi produksi dan pasokan cabai karena tanaman membutuhkan ketersediaan air yang memadai. Di sejumlah sentra produksi, kondisi kemarau membuat produktivitas tanaman menurun. Di sisi lain, biaya distribusi juga menjadi faktor pembentuk harga.
Cabai merupakan komoditas yang mudah rusak sehingga membutuhkan distribusi relatif cepat dari sentra produksi menuju pasar konsumen. Kondisi tersebut membuat perbedaan harga antardaerah cukup lebar. Wilayah yang memperoleh pasokan langsung dari sentra produksi dapat memiliki harga lebih rendah, sedangkan daerah yang bergantung pada pasokan dari luar wilayah menghadapi tambahan biaya distribusi.
Harga cabai tidak seragam antarwilayah
Data harga pada September 2026 menunjukkan bahwa harga cabai rawit merah tidak bergerak seragam di seluruh Indonesia. Sebagai gambaran, harga di sejumlah wilayah Jawa Tengah berada di kisaran Rp54.000-Rp57.000 per kilogram, sedangkan di Jakarta sudah mencapai sekitar Rp80.000-Rp90.000 per kilogram. Di Makassar, harga yang dipantau Pemerintah Kota Makassar berada di sekitar Rp80.000 per kilogram. Sementara itu, kondisi ekstrem terjadi di Gorontalo Utara yang mencatat harga hingga Rp200.000 per kilogram untuk cabai rawit bersih tanpa tangkai.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa harga cabai di tingkat konsumen sangat dipengaruhi lokasi, ketersediaan stok, hasil panen, biaya angkut, serta jalur distribusi. Bagi masyarakat, kenaikan harga cabai dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya berpotensi menambah pengeluaran rumah tangga.
Pedagang juga menghadapi kondisi serupa karena harus menyesuaikan harga jual dengan harga pembelian dari pemasok. Pemerintah pun melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga dan pasokan pangan untuk mengantisipasi kenaikan yang lebih luas, terutama pada komoditas hortikultura yang sensitif terhadap perubahan cuaca.
(Dinar K/berbagai sumber)
