Takut Gagal karena Luka Masa Kecil? Teknik Ini Mungkin Membantu
Takut Gagal karena Luka Masa Kecil? Teknik Ini Mungkin Membantu. (Foto: Psychology Today).
GEBRAK.ID–Bagi sebagian orang, kegagalan bukan sekadar pengalaman yang tidak menyenangkan. Kesalahan kecil dapat memunculkan rasa takut yang begitu kuat hingga membuat mereka enggan mencoba, mengambil risiko, atau mengejar sesuatu yang sebenarnya penting bagi hidup mereka.
Dalam praktik klinis terkait gangguan kecemasan, pola seperti ini cukup sering ditemukan. Ketakutan terhadap kegagalan dapat muncul dari berbagai sumber, mulai dari sikap perfeksionis yang sangat kaku hingga keyakinan bahwa harga diri seseorang sepenuhnya bergantung pada pencapaian.
Menurut Andrea Bonior Ph.D dalam Psychology Today, dalam beberapa kasus, akarnya bisa jauh lebih dalam: pengalaman masa kecil.
Ketika Kesalahan di Masa Kecil Menjadi Sesuatu yang Menakutkan
Coba bayangkan seorang anak yang melakukan kesalahan lalu mendapat kemarahan, kritik tajam, atau penghinaan dari orang dewasa yang seharusnya menjadi tempat berlindung.
Jika pengalaman semacam itu terjadi berulang kali, anak dapat belajar bahwa membuat kesalahan adalah sesuatu yang harus dihindari dengan segala cara.
Pertanyaan yang kemudian terbentuk dalam pikirannya mungkin bukan lagi sekadar, “Bagaimana saya bisa memperbaiki kesalahan ini?”
Melainkan:
“Apa yang akan terjadi pada saya kalau saya gagal?”
Pola tersebut dapat berkembang menjadi sebuah lingkaran yang sulit diputus.
Karena takut melakukan kesalahan, seseorang menghindari mencoba hal baru. Akibatnya, ia tidak mendapatkan kesempatan untuk belajar bahwa kesalahan sebenarnya dapat dihadapi dan diperbaiki. Kurangnya pengalaman tersebut kemudian membuat kegagalan terasa semakin menakutkan.
Siklusnya pun terus berlanjut hingga dewasa.
Dalam kondisi tertentu, seseorang bahkan dapat mulai menghubungkan kesalahan dengan nilai dirinya sendiri: Jika saya gagal, berarti saya tidak cukup baik.
Harapan Baru dari Terapi Berbasis Imajinasi
Sebuah penelitian yang dilakukan di Laboratory of Affective Neuroscience, SWPS University di Warsawa, meneliti kemungkinan pendekatan psikoterapi berbasis imajinasi untuk membantu mengurangi dampak emosional dari kenangan masa kecil yang berkaitan dengan kritik keras.
Penelitian tersebut melibatkan 180 orang dewasa berusia 18–35 tahun yang melaporkan memiliki rasa takut terhadap kegagalan.
Para peserta mengikuti intervensi selama dua minggu yang berfokus pada kenangan masa kecil yang berkaitan dengan pengalaman kritik atau perlakuan keras.
Para peneliti kemudian membandingkan beberapa pendekatan.
Mengingat Kembali vs Mengubah Jalan Cerita
Kelompok pertama menggunakan teknik Imagery Exposure (IE). Peserta diminta mengingat kembali situasi masa lalu yang pernah memicu rasa takut atau kecemasan.
Dalam pendekatan ini, kenangan tersebut dihadirkan kembali, tetapi alur kejadiannya tidak diubah. Dengan demikian, teknik ini dapat menjadi pembanding untuk melihat apa yang terjadi ketika seseorang menghadapi kembali kenangan emosional dalam lingkungan yang aman.
Kelompok kedua menggunakan teknik yang disebut Imagery Rescripting (ImRs).
Pendekatan ini lebih aktif. Setelah mengingat kembali pengalaman yang menyakitkan, peserta diminta membayangkan skenario yang berbeda.
Dalam skenario baru tersebut, sosok yang mendukung hadir untuk membela mereka. Sosok tersebut menghadapi orang yang terlalu kritis dan memberikan perlindungan serta dukungan kepada diri mereka ketika masih kecil.
Dengan kata lain, peserta tidak hanya mengingat kejadian lama, tetapi mencoba menulis ulang bagaimana kenangan tersebut berlangsung dalam pikirannya.
Kelompok ketiga juga menggunakan ImRs, tetapi terdapat jeda sekitar 10 menit antara mengingat pengalaman tersebut dan membayangkan dukungan.
Hasilnya: Rasa Takut dan Rasa Bersalah Berkurang
Setelah intervensi, peserta menjalani sejumlah penilaian psikologis. Evaluasi juga dilakukan kembali tiga dan enam bulan kemudian.
Menariknya, seluruh pendekatan yang diuji menunjukkan penurunan pada beberapa respons emosional, termasuk kesedihan, rasa takut terhadap kegagalan, dan rasa bersalah.
Perubahan tersebut juga tidak hanya terlihat dalam laporan subjektif. Respons fisiologis tubuh terhadap kenangan yang mengganggu turut berkurang, bahkan ketika diukur kembali beberapa bulan kemudian.
Temuan ini mengisyaratkan bahwa menghadirkan kembali kenangan yang menyakitkan dalam situasi yang aman saja mungkin sudah memberikan manfaat tertentu.
Namun, hasil yang paling menonjol terlihat pada Imagery Rescripting tanpa jeda.
Mengapa Mengubah Cerita Kenangan Bisa Membantu?
Salah satu kemungkinan penjelasannya berkaitan dengan ekspektasi.
Ketika seseorang mengingat pengalaman masa kecil yang menyakitkan, otaknya mungkin sudah “mengetahui” bagaimana cerita itu akan berakhir. Anak tersebut mungkin kembali membayangkan dirinya sendirian, tidak dibela, tidak didengarkan, atau menerima kritik tanpa perlindungan.
Imagery Rescripting memperkenalkan sesuatu yang berbeda.
Alih-alih membiarkan cerita lama berjalan seperti biasanya, individu membayangkan adanya seseorang yang datang memberikan dukungan dan perlindungan.
Perubahan yang tidak sesuai dengan ekspektasi tersebut mungkin membantu otak membentuk hubungan atau pola pemaknaan baru terhadap kenangan lama.
Kenangannya tidak harus hilang. Yang berubah adalah cara kenangan itu dialami dan dimaknai.
Bukan Menghapus Masa Lalu, tetapi Mengubah Hubungan dengan Masa Lalu
Hal penting dari pendekatan ini adalah bahwa tujuan rescripting bukan berarti menghapus fakta bahwa suatu peristiwa pernah terjadi.
Pengalaman masa kecil tetap merupakan bagian dari sejarah seseorang.
Yang dapat berubah adalah respons emosional dan makna yang melekat pada pengalaman tersebut.
Seseorang yang dahulu belajar bahwa “kesalahan berarti saya tidak berharga” perlahan dapat mengembangkan perspektif berbeda: bahwa kesalahan merupakan bagian dari proses belajar dan tidak menentukan nilai dirinya sebagai manusia.
Perubahan semacam ini dapat menjadi penting bagi orang yang selama bertahun-tahun menghindari tantangan karena takut gagal.
Bagaimana Jika Ada Kenangan yang Masih Menyakitkan?
Bagi seseorang yang memiliki pengalaman masa lalu yang terus mengganggu, konsep di balik Imagery Rescripting mungkin memberikan gambaran mengenai salah satu cara kerja terapi berbasis imajinasi.
Secara sederhana, seseorang dapat membayangkan kembali sebuah pengalaman yang menyakitkan, kemudian membayangkan adanya figur yang aman dan suportif yang hadir untuk memberikan perlindungan kepada dirinya di masa kecil.
Namun, pengalaman traumatis atau kenangan yang sangat berat sebaiknya tidak dipaksakan untuk dihadapi sendirian. Jika kenangan tersebut memicu distress yang kuat, bantuan profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan yang lebih aman.
Yang menarik dari pendekatan ini adalah gagasan dasarnya: masa lalu memang tidak dapat diubah, tetapi hubungan kita dengan kenangan masa lalu dapat berubah.
Dan bagi seseorang yang selama ini hidup dalam bayang-bayang ketakutan akan kegagalan, perubahan tersebut mungkin menjadi langkah penting untuk berani mencoba lagi.
(Damar Pratama/ Psychology Today 29 September 2026).
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID