Modus Baru Bobol Kartu Kredit Pakai Fake BTS, 5 Orang Ditangkap Polisi

1791191913680

Pelaku ssudah beroperasi selama tiga bulan terakhir di kawasan padat termasuk disepanjang rute MRT Jakarta. (Foto:MRT)

GEBRAK.ID,JAKARTA – Direktorat Reserse Siber (Ditressiber) Polda Metro Jaya membongkar sindikat penyebar SMS phishing yang diduga digunakan untuk mencuri data perbankan dan kartu kredit masyarakat. Dalam menjalankan aksinya, sindikat tersebut menggunakan perangkat fake BTS atau pemancar sinyal seluler palsu untuk mengirimkan SMS secara massal kepada pengguna telepon seluler di kawasan padat, termasuk sepanjang rute MRT Jakarta dari Bundaran HI hingga Blok M.

Lima orang telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut. Pengungkapan perkara ini bermula dari laporan tiga korban yang menerima SMS mencurigakan berisi tautan menuju situs palsu.

SMS Mengatasnamakan Bank hingga Provider

Kasubdit IV Ditressiber Polda Metro Jaya AKBP Grawas Sugiharto menjelaskan, pelaku mengirimkan SMS yang mencatut nama sejumlah perusahaan dan institusi resmi. Pesan tersebut antara lain mengatasnamakan gerai kopi, penyedia layanan telekomunikasi, perbankan hingga platform perdagangan elektronik.

Dalam SMS itu, penerima diarahkan mengklik sebuah tautan. Tautan tersebut kemudian membawa korban ke situs yang dibuat menyerupai laman resmi perusahaan atau bank. Modus tersebut merupakan bentuk phishing, yakni upaya menipu korban agar secara sukarela memasukkan data penting ke situs yang dikendalikan pelaku. Data yang diperoleh dari korban kemudian dapat dimanfaatkan untuk melakukan kejahatan keuangan, termasuk pembobolan kartu kredit.

Gunakan Fake BTS di Dalam Mobil

Yang membuat modus ini berbeda adalah cara pelaku menyebarkan SMS. Polisi menemukan perangkat fake BTS yang dipasang di sebuah mobil. Perangkat tersebut bekerja dengan mensimulasikan spektrum frekuensi GSM sehingga ponsel yang berada di sekitar perangkat dapat menerima pesan dari pemancar tersebut. Pelaku kemudian mengoperasikan perangkat secara mobile dengan menyusuri lokasi yang ramai.

Polisi mencurigai sebuah mobil berwarna silver yang beberapa kali bergerak lambat dan bolak-balik di sekitar jalur MRT Bundaran HI-Blok M. Dari pemeriksaan terhadap mobil tersebut, polisi menemukan perangkat fake BTS yang digunakan untuk menjalankan aksi. Menurut polisi, sindikat tersebut bahkan mampu mengirim hingga sekitar 20.000 SMS dalam sehari. Dari jumlah tersebut, pelaku berharap sebagian penerima akan membuka tautan yang dikirimkan.

Lima Orang Jadi Tersangka

Lima tersangka dalam perkara ini masing-masing berinisial GM, NL, AGW, JYI dan AD. GM diketahui berperan sebagai pengemudi sekaligus operator perangkat fake BTS. Sementara NL bertugas mencari kendaraan dan pengemudi yang akan digunakan dalam operasi tersebut. Polisi menyebut AGW berperan memberikan pembayaran kepada NL dan GM. Adapun JYI bertugas sebagai teknisi yang memasang perangkat fake BTS di dalam kendaraan. Sementara AD mengatur materi serta jumlah SMS yang akan dikirimkan kepada calon korban.

Kasus tersebut terungkap setelah polisi menerima laporan dari tiga korban. Penangkapan terhadap para tersangka dilakukan pada 31 Juli 2026 setelah penyelidikan mengarah kepada kendaraan yang digunakan untuk menyebarkan SMS phishing.

Sudah Beroperasi Selama Tiga Bulan

Polisi menyebut sindikat tersebut telah menjalankan aksinya sekitar tiga bulan sebelum akhirnya dibekuk. Dari penyitaan sejumlah rekening milik tersangka, polisi menemukan uang sekitar Rp50 juta yang diduga berkaitan dengan hasil aktivitas kejahatan tersebut. Salah satu tersangka juga diketahui mempelajari teknik penggunaan fake BTS secara otodidak setelah memperoleh informasi dari media sosial dan sebuah saluran Telegram.

Polisi mengatakan tersangka kemudian mencoba membuat perangkat yang dibutuhkan sebelum digunakan untuk menjalankan aksi penyebaran SMS phishing.

Polisi Ingatkan Masyarakat Jangan Asal Klik SMS

Kasus ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak cukup hanya melihat nama pengirim SMS untuk menentukan apakah sebuah pesan benar-benar berasal dari bank atau perusahaan resmi. SMS phishing dapat dibuat seolah-olah berasal dari institusi yang dikenal korban. Tautan di dalamnya juga dapat mengarahkan penerima ke halaman yang tampak menyerupai situs resmi.

Karena itu, masyarakat diminta tidak langsung mengklik tautan dalam SMS yang meminta pembaruan data, verifikasi akun, pembayaran, hadiah, maupun informasi kartu perbankan. Jika menerima pesan mencurigakan, masyarakat sebaiknya melakukan pengecekan melalui aplikasi resmi, situs resmi, atau menghubungi layanan pelanggan perusahaan yang bersangkutan.

Intinya, jangan mudah percaya hanya karena SMS terlihat resmi. Pastikan alamat situs dan sumber pesan sebelum memasukkan data pribadi, PIN, OTP, nomor kartu, maupun informasi perbankan lainnya.

(A.Rayyan K/ berbagai sumber)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID