Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Keteladanan Guru Jadi Kunci Wujudkan Sekolah Aman dan Nyaman
Mendikdasmen Abdul Mu’ti saat mengikuti webinar internasional bertajuk “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman” yang digelar Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen bersama Institut Leimena, Jakarta, Jumat (2/10/2026). (Foto: Humas Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID, JAKARTA — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti menegaskan pentingnya keteladanan guru dalam membangun budaya sekolah yang aman dan nyaman bagi seluruh murid.
Menurut Abdul Mu’ti, sekolah tidak hanya menjadi tempat untuk memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang bagi murid untuk belajar menghargai perbedaan, membangun hubungan dengan sesama, dan membentuk karakter.
Hal tersebut disampaikan Abdul Mu’ti dalam webinar internasional bertajuk “Pendidikan Bermutu untuk Semua: Peran Guru dalam Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman” yang digelar Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kemendikdasmen bersama Institut Leimena, Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Dalam sambutannya, Abdul Mu’ti menyebut guru memiliki posisi sebagai “Agent of Learning as well as Agent of Civilization”, atau agen pembelajaran sekaligus agen pembangunan peradaban.
“Substansi pendidikan itu membangun peradaban, membangun karakter,” ujar Abdul Mu’ti.
Abdul Mu’ti menjelaskan, keberagaman latar belakang murid semestinya menjadi kesempatan untuk membangun sikap saling menghormati. Karena itu, sekolah perlu menciptakan ruang perjumpaan yang memungkinkan murid mengenal, menerima, dan bekerja sama dengan orang lain yang memiliki keyakinan maupun latar belakang berbeda.
“Perbedaan itu tidak boleh menjadi pemisah, tapi menjadi kekayaan untuk kita bekerja sama satu sama lain,” jelas dia.
Abdul Mu’ti juga menekankan bahwa sekolah yang aman dan nyaman tidak hanya berkaitan dengan kondisi fisik. Lingkungan belajar juga harus memberikan rasa aman dalam aspek sosial, spiritual, dan digital.
Penguatan tersebut sejalan dengan kebijakan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman (BSAN) melalui Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026. Penerapannya membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, dan media karena pembentukan karakter anak juga berlangsung di luar sekolah.
Kepala Puspeka Rusprita Putri Utami mengatakan, murid perlu ditempatkan sebagai bagian aktif dalam menciptakan budaya sekolah yang aman. Melalui Gerakan Rukun Sama Teman, murid didorong menjadi Sahabat Hebat dengan prinsip Look, Listen, dan Link.
“Budaya sekolah aman dan nyaman tidak lahir hanya dari regulasi. Budaya itu hidup dari relasi dan tindakan kita setiap hari. Dengarkan murid, cegah risiko sedini mungkin, dan respons dengan tepat,” ujar Rusprita.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Institut Leimena Matius Ho menilai pendidikan harus tetap menempatkan hubungan antarmanusia sebagai bagian penting, terutama di tengah perkembangan kecerdasan buatan.
“Kita bukan mendidik robot, tapi manusia,” ujar Matius.
Matius menyebut program Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang dijalankan Institut Leimena bersama puluhan mitra telah menjangkau lebih dari 12.000 guru dan pendidik dari 38 provinsi dalam lima tahun terakhir.
Chief of Education UNESCO Jakarta Santosh Khatri turut menekankan pentingnya lingkungan profesional yang mendukung guru. Menurutnya, interaksi lintas agama dan budaya dapat membantu murid mengembangkan empati serta kemampuan hidup bersama.
Pengalaman serupa dibagikan Yonathan Djalimun, alumni LKLB sekaligus Wakil Direktur Sekolah Kristen Tritunggal. Ia mencontohkan kegiatan kunjungan lintas agama yang mempertemukan murid SMA Tritunggal Semarang dengan MA Al Manar Tengaran dan Pondok Pesantren Amal Sholeh.
“Praktik lebih membekas ketimbang sekadar teori di kelas,” tulis Yonathan dalam paparannya.
(Devona R/Sumber: Kemendikdasmen)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID