Kematian Teknisi Laboratorium Pes di Siberia Dipantau Serius AS, Trump Siap Bantu Rusia

1791290943343

Kematian teknisi di pusat penelitian pes Rusia memicu perhatian Washington. Trump menyatakan AS memantau perkembangan kasus tersebut, sementara Rusia menyebut situasi masih terkendali. (Foto: ilustrasi freepik)

GEBRAK.ID,JAKARTA – Kematian seorang teknisi laboratorium di pusat penelitian pes di wilayah Siberia, Rusia, mendapat perhatian serius dari pemerintah Amerika Serikat (AS). Washington tengah memantau perkembangan kasus tersebut karena muncul dugaan penyakit yang diderita korban berkaitan dengan pes atau plague. Presiden AS Donald Trump mengatakan pemerintahnya memperhatikan kasus tersebut secara serius. Ia juga menyatakan Washington siap membantu Rusia apabila situasinya berkembang menjadi lebih serius.

“Kami akan membantu,” kata Trump ketika ditanya mengenai kasus tersebut, seperti diberitakan Reuters. Trump sebelumnya menyebut kematian tersebut sebagai persoalan besar bagi Rusia. Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi bahwa korban meninggal akibat pes.

Teknisi 28 Tahun Meninggal Setelah Menderita Pneumonia

Korban diketahui merupakan perempuan berusia 28 tahun yang bekerja sebagai teknisi laboratorium di Irkutsk Anti-Plague Research Institute of Siberia and the Far East, di wilayah Irkutsk, Siberia. Perempuan tersebut dilaporkan mengalami sakit dan kemudian meninggal pada pekan lalu. Otoritas kesehatan Rusia menyatakan korban didiagnosis mengalami pneumonia dengan penyebab yang belum diketahui.

Kematian tersebut menjadi perhatian karena korban bekerja di lembaga yang secara khusus melakukan penelitian terhadap penyakit pes dan sejumlah patogen berbahaya lainnya. Menurut Reuters, otoritas Rusia telah melakukan sejumlah langkah pencegahan, termasuk mengarantina orang-orang yang diketahui melakukan kontak dengan korban.

Laporan mengenai kemungkinan pes pada korban kemudian memicu kekhawatiran di masyarakat, meski informasi tersebut belum dikonfirmasi secara resmi.

Rusia Bantah Ada Bukti Kecelakaan di Laboratorium

Badan pengawas kesehatan Rusia, Rospotrebnadzor, menyatakan tidak menemukan bukti adanya insiden saat laboratorium tersebut bekerja dengan mikroorganisme patogen. Otoritas Rusia juga menyatakan pemeriksaan terhadap korban tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan aktivitasnya di lembaga penelitian tersebut.

Pada Selasa (6/10/2026), Rospotrebnadzor kembali menyatakan tidak ditemukan kasus pes pada orang-orang yang melakukan kontak dengan teknisi yang meninggal. Sekitar 200 orang sebelumnya dilaporkan menjalani karantina atau pemantauan sebagai tindakan pencegahan. Namun, Wakil Kepala Distrik Shelekhov Elena Sofina mengatakan sekitar 60 persen orang yang dikarantina telah diperbolehkan keluar.

Pemerintah Rusia juga menegaskan situasi kesehatan masyarakat di wilayah Irkutsk masih terkendali.

AS Minta Rusia Buka Informasi

Perhatian Washington tidak hanya datang dari Trump. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio meminta Rusia memberikan informasi lebih lengkap kepada dunia mengenai kematian teknisi tersebut. Rubio mengatakan pemerintah AS memantau perkembangan kasus tersebut dengan sangat dekat.

“Kami mengawasinya dengan sangat dekat, dari jam ke jam,” ujar Rubio kepada wartawan di Islandia, Selasa (6/10/2026). Menurut Rubio, AS memiliki sejumlah langkah yang dapat dilakukan untuk membantu Rusia apabila situasinya ternyata lebih serius daripada yang telah diketahui saat ini.

Namun, Washington membutuhkan informasi lebih banyak sebelum menentukan langkah selanjutnya. Sebelumnya, pemerintah AS juga menyatakan tengah berkoordinasi dengan sejumlah lembaga, termasuk Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS (CDC), untuk memperoleh informasi mengenai kasus tersebut.

WHO: Risiko ke Masyarakat Umum Masih Rendah

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) turut memantau perkembangan kasus tersebut. Juru bicara WHO Christian Lindmeier mengatakan otoritas Rusia belum memberikan tanggapan resmi terhadap permintaan informasi WHO mengenai kematian teknisi laboratorium tersebut. Meski demikian, seluruh kontak korban dilaporkan telah diidentifikasi dan berada dalam pemantauan.

Hingga kini, tidak ada satu pun kontak korban yang dilaporkan menunjukkan gejala penyakit. WHO sebelumnya menilai risiko terhadap masyarakat umum berdasarkan informasi yang tersedia masih rendah. Penilaian tersebut dapat berubah apabila informasi baru mengenai penyebab kematian dan kemungkinan penularan diperoleh.

Apa Itu Pes Pneumonik?

Pes merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Yersinia pestis. Salah satu bentuk paling serius adalah pes pneumonik yang menyerang paru-paru. Berbeda dengan bentuk pes lainnya, pes pneumonik dapat menular antarmanusia melalui droplet pernapasan. Penyakit ini dapat berkembang cepat dan menjadi fatal apabila tidak segera mendapatkan pengobatan yang tepat.

Namun, penyakit pes saat ini dapat ditangani dengan antibiotik apabila didiagnosis dan diobati secara cepat. Para ahli juga menilai kemungkinan penyebaran luas tetap relatif rendah selama kasus dapat segera dikenali dan kontak penderita dipantau.

Associated Press melaporkan WHO menilai risiko global dari kasus yang sedang dipantau di Rusia masih sangat rendah. Dengan demikian, kematian teknisi tersebut belum dapat disebut sebagai kematian akibat pes yang terkonfirmasi. Pemeriksaan dan pemantauan terhadap kontak korban masih berlangsung, sementara pemerintah AS terus meminta Rusia memberikan informasi yang lebih transparan mengenai kasus tersebut.

(Dinar K/ berbagai sumber)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID