Rupiah Melemah, IHSG Turun ke 5.878,76, Pasar Dihantui Tekanan Eksternal

Rupiah melemah Selasa 13 oktober

Pegawai menunjukkan pecahan mata uang rupiah dan dolar AS di Kantor Cabang BNI Pasar Baru, Jakarta, Kamis (20/8/2026). (Foto: ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/tom)

GEBRAK.ID, JAKARTA – Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (13/10/2026), di tengah tekanan eksternal berupa tingginya harga minyak dunia dan penguatan indeks dolar AS. Sentimen negatif tersebut turut membayangi pasar saham domestik, dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun ke level 5.878,76.

Rupiah membuka perdagangan dengan pelemahan 0,18 persen ke posisi Rp17.935 per dolar AS. Tekanan berlanjut hingga pukul 09.10 WIB, ketika rupiah melemah 0,2 persen ke level Rp17.939 per dolar AS. Pelemahan mata uang domestik tersebut dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan sentimen dalam negeri yang menekan kepercayaan investor. Kondisi pasar juga dibayangi kekhawatiran terhadap prospek inflasi, arah kebijakan suku bunga AS, serta perkembangan pasar saham Indonesia.

Harga Minyak dan Dolar AS Tekan Rupiah
Dari sisi eksternal, harga minyak dunia bertahan di kisaran 105 dolar AS per barel seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah. Ketegangan geopolitik tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap pasokan energi global dan potensi kenaikan biaya impor energi. Tekanan geopolitik juga dikaitkan dengan laporan serangan kelompok Houthi terhadap Bandara Riyadh di Arab Saudi yang disebut menelan 12 korban. Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran investor terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Selain harga minyak, indeks dolar AS bertahan di level 102. Penguatan dolar membuat mata uang negara lain, termasuk rupiah, menghadapi tekanan di pasar valuta asing. Ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) juga meningkat. Berdasarkan data FedWatch yang dikutip dalam materi sumber, probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed naik menjadi 20,5 persen dari sebelumnya 17 persen.

Ekspektasi kenaikan suku bunga AS berpotensi meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar. Jika kondisi tersebut berlanjut, arus modal ke pasar negara berkembang dapat menghadapi tekanan.

IHSG Tertekan Sentimen MSCI dan Ekonomi Domestik
Di pasar saham, IHSG turun ke level 5.878,76 pada perdagangan pagi. Pergerakan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap sejumlah isu yang memengaruhi prospek pasar modal Indonesia. Salah satu isu yang menjadi perhatian adalah kabar mengenai kemungkinan MSCI menjatuhkan sanksi atau denda kepada sejumlah emiten Indonesia yang dinilai memiliki konsentrasi kepemilikan saham tinggi dan berpotensi menimbulkan persoalan dalam pembentukan harga saham.

Namun, informasi mengenai dugaan sanksi atau denda tersebut masih perlu dikonfirmasi melalui pernyataan resmi MSCI. Karena itu, isu tersebut perlu diperlakukan sebagai sentimen pasar yang beredar, bukan sebagai keputusan resmi yang telah dipastikan. Dari sisi ekonomi domestik, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) juga dinilai belum memberikan dukungan yang cukup kuat bagi pasar. Kekhawatiran mengenai terbatasnya kesempatan kerja, tekanan inflasi, dan penurunan daya beli menjadi sejumlah faktor yang membayangi optimisme konsumen.

Kelompok masyarakat berpendapatan rendah dengan pengeluaran bulanan Rp1 juta hingga Rp2 juta bahkan disebut berada di zona pesimis. Kondisi ini mengindikasikan tantangan bagi konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi salah satu penopang pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Rupiah Berpotensi Melemah hingga Rp17.950
Di tengah tekanan eksternal dan domestik tersebut, rupiah diperkirakan masih berpotensi melanjutkan pelemahan pada perdagangan Selasa (13/10/2026). Nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak dalam kisaran Rp17.930 hingga Rp17.950 per dolar AS. Proyeksi tersebut bergantung pada perkembangan sentimen global, pergerakan harga minyak, ekspektasi kebijakan The Fed, serta respons investor terhadap dinamika pasar keuangan domestik.

Tekanan juga dapat meningkat apabila aksi jual di pasar saham merembet ke pasar obligasi Indonesia. Kondisi tersebut berpotensi memperbesar tekanan terhadap aset keuangan domestik dan nilai tukar rupiah. Meski demikian, rentang tersebut merupakan proyeksi pergerakan, bukan kepastian kurs penutupan. Perkembangan sentimen global dan domestik sepanjang perdagangan akan menentukan arah pergerakan rupiah selanjutnya. (*)

(Zaky Al Hamzah/berbagai sumber)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID