El Nino Sangat Kuat Diprediksi Bertahan hingga Januari 2027, BMKG Peringatkan Kesiapsiagaan Lintas Sektor

1791968785219

Anomali suhu muka laut Pasifik capai +3,08, Indonesia berpotensi alami musim kemarau lebih panjang dan kekeringan ekstrem. (Foto: BMKG)

GEBRAK.ID,JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino yang melanda Indonesia sepanjang 2026 akan terus bertahan hingga awal tahun 2027. Kondisi ini memerlukan kewaspadaan tinggi karena perubahan suhu permukaan laut di Samudra Pasifik dan Samudra Hindia dapat memengaruhi pola hujan hingga memicu potensi cuaca ekstrem di berbagai wilayah.

Berdasarkan pemutakhiran kondisi iklim dasarian I Oktober 2026, anomali suhu permukaan laut atau sea surface temperature (SST) di wilayah Nino 3.4 tercatat sebesar +0,33. Angka tersebut menunjukkan kondisi laut di kawasan Pasifik tengah berada dalam fase lebih hangat dibandingkan kondisi normalnya.

Sementara itu, nilai anomali SST di wilayah Nino 3.4 pada periode Agustus-September-Oktober 2026 menembus level +3,08. Capaian ini mengonfirmasi bahwa Indonesia tengah menghadapi El Nino dengan intensitas sangat kuat.

El Nino dan IOD Positif Memperparah Kekeringan

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa kombinasi El Nino sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif yang terjadi bersamaan memperburuk serta memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia. “Kombinasi fenomena El Nino dan IOD yang terjadi bersamaan ini memperparah dan memperpanjang periode kekeringan di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim hujan datang terlambat dan terjadi lebih singkat,” tegas Faisal dalam konferensi pers prediksi musim hujan di Jakarta, seperti dikutip dari laman resmi BMKG.

Berdasarkan pantauan BMKG, indeks ENSO periode Juli-Agustus-September 2026 mencapai +2,63, sementara indeks IOD bulan Agustus tercatat +0,376 dan berpeluang menuju fase positif hingga akhir tahun.

Musim Hujan Diprediksi Mundur di 61 Persen Wilayah

BMKG memprediksi awal musim hujan periode 2026-2027 di 529 Zona Musim (ZOM) atau 61,08 persen wilayah Indonesia akan mengalami kemunduran dari rerata klimatologisnya. Sebagian besar wilayah baru akan mengawali musim hujan pada November dan Desember 2026.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, merinci bahwa 185 ZOM atau 24,66 persen wilayah akan memasuki musim hujan pada November 2026, mencakup sebagian Sumatera, Jawa, Kalimantan, Bali, NTB, Sulawesi, Maluku, dan Papua. Sementara 266 ZOM atau 17,31 persen wilayah baru memasuki musim hujan pada Desember 2026.

“Meski diprediksi lebih singkat, musim hujan 2026/2027 umumnya bersifat normal pada 510 ZOM atau 69,76 persen luas daratan Indonesia,” tambah Ardhasena

Dampak Meluas ke Berbagai Sektor Strategis

El Nino sangat kuat ini berpotensi menimbulkan dampak signifikan pada berbagai sektor. BMKG mengidentifikasi wilayah selatan garis khatulistiwa seperti Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera bagian selatan, Kalimantan bagian selatan, Sulawesi, dan Papua bagian selatan sebagai wilayah paling terdampak.

Pada sektor pertanian, risiko gangguan fase pertumbuhan tanaman, penurunan produktivitas, hingga peningkatan potensi puso akibat defisit air menjadi ancaman serius. BMKG mendorong penyesuaian pola tanam dan pengelolaan irigasi yang lebih efisien.

Risiko kebakaran hutan dan lahan juga meningkat, terutama di wilayah rawan seperti Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, dan Jambi. BMKG bersama instansi terkait telah memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk menjaga ketersediaan air dan membasahi lahan gambut.

Di sektor kesehatan, pemerintah daerah diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan penyakit terkait suhu panas ekstrem.

Kesiapsiagaan Lintas Sektor Diperkuat

Menghadapi kondisi ini, BMKG menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor. Kepala BMKG menegaskan bahwa kesiapsiagaan harus dilakukan secara terintegrasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan. “Setiap daerah memiliki karakteristik yang berbeda. Kami mengimbau pemerintah daerah untuk memanfaatkan informasi yang disediakan BMKG dan berkoordinasi dengan Unit Pelaksana Teknis BMKG di wilayah masing-masing,” ujar Faisal.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) juga telah mengeluarkan peringatan serupa, menyatakan bahwa El Nino diperkirakan mencapai intensitas puncaknya pada akhir tahun 2026 dengan probabilitas hampir 100 persen bertahan hingga Februari 2027.

Masyarakat diimbau untuk terus memantau informasi peringatan dini resmi dari BMKG dan mengambil langkah adaptasi sesuai kondisi wilayah masing-masing, terutama dalam menghadapi potensi kekeringan berkepanjangan dan pergeseran musim hujan.

(Dinar K/ BMKG)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID