Survei Bloomberg: Ekonomi RI Tumbuh 5,2% Tahun ini, tapi Daya Beli Tertekan

Gambar - Pasar Tradisional -

Gambar pedagang dan pembeli tampak tawar-menawar di salah satu Pasar Tradisional di Indonesia. (Foto: /Dimas Ardian/Bloomberg)

GEBRAK.ID, JAKARTA — Pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026 diperkirakan mencapai 5,2%, meningkat dari proyeksi sebelumnya sebesar 5,11%. Namun, di balik prospek pertumbuhan tersebut, pelemahan daya beli masyarakat, penurunan keyakinan konsumen, kenaikan pengeluaran konsumsi, penyusutan dunia, dan kenaikan inflasi masih menjadi tantangan bagi perekonomian nasional.

Berdasarkan survei Bloomberg, ekonomi Indonesia diperkirakan tumbuh 4,9% pada kuartal IV-2026. Proyeksi ini lebih tinggi dibandingkan perkiraan sebelumnya sebesar 4,86%. Prospek tersebut didukung oleh peningkatan aktivitas sector manufaktur, surplus perdagangan, serta belanja pemerintah yang terus meningkat. Meski demikian, sejumlah indikator konsumsi rumah tangga menunjukkan tekanan yang berpotensi membatasi keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

Kondisi ini memperlihatkan adanya perbedaan antara kinerja ekonomi secara agregat dan kondisi keuangan rumah tangga. Ketika sejumlah indikator produksi dan perdagangan membaik, sebagian konsumen justru menghadapi tekanan pendapatan, penurunan kemampuan menabung, dan meningkatnya beban pengeluaran.

Aktivitas Manufaktur dan Perdagangan Menguat
Dari sisi produksi, aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki zona ekspansi. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur meningkat dari 49,8 pada Agustus menjadi 52,4 pada September 2026. Indikator perdagangan juga menunjukkan perkembangan positif. Surplus perdagangan Indonesia pada Agustus mencapai US$3,55 miliar, meningkat dibandingkan US$1,22 miliar pada periode sebelumnya.

Ekspor tercatat tumbuh 6,72% secara tahunan atau year-on-year (yoy). Sementara itu, pertumbuhan impor melambat dari 27,02% menjadi 19,09%. Kinerja ekspor terutama ditopang oleh sektor nonmigas yang tumbuh 7,23% yoy. Sebaliknya, ekspor migas mengalami kontraksi sebesar 5,1% yoy.

Secara bulanan, ekspor meningkat 1,51%. Kenaikan ini antara lain didorong oleh ekspor minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) yang melonjak 15,51% dibandingkan bulan sebelumnya.

Ekspor nikel dan logam mulia juga mencatat peningkatan signifikan, masing-masing sebesar 93,87% dan 56,69% secara bulanan (month-to-month atau mtm). Namun, peningkatan nilai ekspor tersebut perlu dicermati. Kinerja ekspor sejumlah komoditas tidak semata-mata mencerminkan kenaikan volume pengiriman, tetapi juga dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas global.

Keyakinan Konsumen Melemah, Daya Beli Tertekan
Di tengah penguatan indikator produksi dan perdagangan, kondisi permintaan domestik menunjukkan sinyal yang berbeda. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada September berada di level 118,1, sedikit menurun dibandingkan 118,5 pada bulan sebelumnya. Tekanan lebih terlihat pada kelompok masyarakat berpengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) kelompok tersebut berada di level 93,2, atau turun 1,8 poin ke zona pesimistis.

Keyakinan terhadap penghasilan saat ini juga melemah. Indeks kelompok tersebut turun menjadi 99,9 dari sebelumnya 102,6. Penurunan keyakinan konsumen turut tercermin pada pasar otomotif. Penjualan mobil domestik pada September turun dari 81.756 unit menjadi 79.538 unit, atau sekitar 2,7% secara bulanan.

Selain itu, Indeks Pembelian Barang Tahan Lama (IPDG) merosot di hampir seluruh kelompok pengeluaran. Kondisi ini mengindikasikan bahwa konsumen semakin berhati-hati dalam membelanjakan uang untuk barang bernilai relatif besar.

Meski demikian, penjualan eceran masih mencatat pertumbuhan. Berdasarkan Survei Penjualan Eceran Bank Indonesia (BI), Indeks Penjualan Riil (IPR) tumbuh 1,3% yoy pada Agustus, meningkat dari pertumbuhan 1,1% pada Juli. Secara bulanan, indeks total penjualan riil naik dari 224,9 menjadi 226,5.

Namun, peningkatan tersebut belum merata di seluruh kelompok barang. Perbaikan antara lain berasal dari kelompok barang yang sebelumnya mengalami kontraksi, termasuk peralatan informasi dan komunikasi. Sebaliknya, sejumlah kelompok barang masih mencatat penurunan. Penjualan bahan bakar kendaraan bermotor dan perlengkapan rumah tangga lainnya masing-masing terkontraksi 5,7% secara tahunan. Kelompok sandang mengalami kontraksi paling dalam, mencapai 12,4% yoy, serta turun 15,2 poin secara bulanan.

Pengeluaran Konsumsi Naik, Tabungan Menyusut
Tekanan daya beli juga tercermin dalam pengelolaan keuangan rumah tangga. Rata-rata proporsi pendapatan konsumen yang digunakan untuk konsumsi meningkat menjadi 74,9%, dari sebelumnya 74,2%. Sebaliknya, rasio tabungan menurun pada seluruh kelompok pengeluaran, termasuk masyarakat dengan pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan.

Penurunan keyakinan terhadap penghasilan juga terjadi di berbagai kelompok pendidikan. Kelompok berpendidikan sarjana mencatat penurunan indeks paling dalam, yakni 8,1 poin. Berikutnya, kelompok pascasarjana turun 7,5 poin, akademi atau diploma turun 6,8 poin, dan SMA turun 2,7 poin. Tekanan tersebut terjadi ketika inflasi meningkat menjadi 3,28% dari sebelumnya 3,19%.

Survei Bloomberg memperkirakan inflasi pada kuartal IV-2026 mencapai 3,4% yoy, lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 3,2%. Kombinasi kenaikan harga, melemahnya keyakinan terhadap penghasilan, dan berkurangnya ruang untuk menabung dapat semakin membatasi kemampuan rumah tangga dalam mempertahankan konsumsi.

Belanja Pemerintah Menjadi Penopang Pertumbuhan
Di tengah tantangan konsumsi rumah tangga, belanja pemerintah menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia. Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi pemerintah tumbuh 15,97% yoy pada kuartal II-2026. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 5,06%.

Data belanja pemerintah juga menunjukkan peningkatan signifikan. Sepanjang 2026, belanja pemerintah tercatat tumbuh 29% menjadi Rp1.791,5 triliun, yang terdiri atas belanja kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp912,4 triliun dan belanja non-K/L sebesar Rp879,1 triliun. Pada kelompok belanja K/L, belanja pegawai mencapai Rp259 triliun, meningkat 21,7% yoy. Belanja barang mencapai Rp389 triliun, tumbuh 67,5% yoy, sedangkan belanja modal mencapai Rp159,8 triliun, naik 14,3%.

Di sisi lain, kenaikan belanja bantuan sosial relatif terbatas. Realisasi belanja bansos tercatat Rp104,5 triliun, meningkat 3,4% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp101,1 triliun. Belanja non-K/L juga meningkat 25,08%, dari Rp702,8 triliun menjadi Rp879,1 triliun. Sementara itu, belanja subsidi naik dari Rp149,4 triliun menjadi Rp177,1 triliun.

Peningkatan belanja pemerintah berperan dalam menjaga aktivitas ekonomi ketika konsumsi rumah tangga menghadapi tekanan. Namun, ketergantungan berlebihan terhadap stimulus fiskal dapat menjadi tantangan apabila tidak diikuti penguatan investasi dan produktivitas.

Pertumbuhan Ekonomi Perlu Ditopang Investasi dan Lapangan Kerja
Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% pada 2026 memberikan gambaran bahwa aktivitas ekonomi nasional masih memiliki daya tahan. Penguatan manufaktur, surplus perdagangan, dan belanja pemerintah menjadi sejumlah faktor yang mendukung prospek tersebut. Namun, keberlanjutan pertumbuhan tidak cukup diukur dari indikator agregat. Kondisi konsumsi, penghasilan, dan tabungan rumah tangga juga perlu menjadi perhatian karena berhubungan langsung dengan kekuatan permintaan domestik.

Belanja negara tetap memiliki peran penting dalam menjaga momentum ekonomi. Meski demikian, fungsinya perlu diperluas, tidak hanya sebagai penopang permintaan jangka pendek, tetapi juga sebagai katalis investasi, peningkatan produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja. Dengan demikian, tantangan perekonomian Indonesia pada sisa 2026 bukan sekadar mencapai target pertumbuhan, melainkan memastikan bahwa pertumbuhan tersebut berlangsung secara berkelanjutan dan manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat. (*)

(Zaky Al Hamzah/bloombergtechnoz)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID