Harga Solar Global Diproyeksi Turun ke US$130–US$150 per Barel

Gambar - Harga Minyak Dunia - Putin dan Trump

Harga solar (diesel) internasional diperkirakan terkoreksi menuju kisaran US$130–US$150 per barel usai kesepakatan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin membuka peluang kembalinya pasokan diesel Rusia ke pasar global. (Foto: Gebrak.Id/AI/zaky)

GEBRAK.ID, JAKARTA – Harga solar (diesel) internasional diperkirakan terkoreksi menuju kisaran US$130–US$150 per barel setelah kesepakatan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin membuka peluang kembalinya pasokan diesel Rusia ke pasar global. Namun, penurunan harga diprediksi berlangsung bertahap karena gangguan rantai pasok energi dan kerusakan fasilitas kilang Rusia masih membayangi pasar.

Analis komoditas sekaligus pendiri Traderindo, Wahyu Laksono, menilai kesepakatan tersebut memberikan sentimen psikologis positif bagi pasar energi. Meski demikian, realisasi tambahan pasokan dari Rusia menjadi faktor penting yang menentukan seberapa jauh harga solar dapat turun. “Jika Rusia mampu mengalirkan kembali sekitar 500.000—800.000 barel solar per hari ke pasar eksternal, harga akan terkoreksi bertahap dari kisaran US170—US180 menuju rentang konsolidasi baru di sekitar US130—US150/barel. Namun, ini tetap tergolong sangat mahal secara historis,” kata Wahyu saat dihubungi Bloomberg Technoz, Kamis (15/10/2026).

Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa tambahan pasokan berpotensi meredakan tekanan harga, tetapi belum cukup untuk mengembalikan pasar solar ke tingkat normal. Pasar minyak berjangka juga masih menghadapi volatilitas tinggi akibat ketidakpastian geopolitik dan keterbatasan distribusi energi.

Pasokan Rusia Belum Normalkan Harga Solar
Wahyu menjelaskan, tambahan pasokan diesel dari Rusia berpotensi menahan lonjakan harga lebih lanjut sekaligus meredakan kondisi backwardation ekstrem di pasar berjangka. Kondisi tersebut terjadi ketika harga kontrak komoditas untuk penyerahan segera lebih tinggi dibandingkan harga kontrak untuk penyerahan pada waktu mendatang.

Meski demikian, harga solar global diperkirakan masih bertahan di atas tingkat historis yang lebih wajar. Wahyu menilai pasokan tambahan dari Rusia belum cukup untuk menekan harga kembali ke kisaran US$80–US$90 per barel dalam waktu dekat. “Potensi pasokan tambahan dari Rusia belum cukup kuat untuk memukul jatuh harga kembali ke level normal US80—US90/barel dalam waktu dekat,” ujar Wahyu.

Tekanan harga juga tercermin pada pasar produk minyak sulingan, termasuk acuan Platts FOB Singapore dan ICE Low Sulphur Gasoil. Menurut analisis yang disampaikan Wahyu, gangguan rantai pasok global masih menjadi penghambat normalisasi harga meskipun terdapat peluang tambahan pasokan dari Rusia.

Konflik Timur Tengah dan Pembatasan Ekspor Pengaruhi Pasar
Selain faktor Rusia, tingginya harga solar global dipengaruhi akumulasi gangguan pasokan di sejumlah wilayah produsen dan jalur perdagangan energi utama. Arus pengapalan melalui Selat Hormuz dan Teluk Persia masih menghadapi risiko gangguan akibat konflik regional yang melibatkan Iran. Pada saat bersamaan, pembatasan kuota ekspor solar oleh China dan India turut membatasi ketersediaan produk minyak sulingan di pasar internasional.

Kondisi tersebut membuat pasar energi tidak hanya bergantung pada keputusan politik Washington dan Moskwa. Kelancaran pelayaran, kemampuan produksi kilang, serta kebijakan ekspor negara-negara produsen juga menentukan keseimbangan pasokan dan permintaan. Apabila Rusia berhasil meningkatkan ekspor dalam volume besar, harga produk turunan minyak diperkirakan dapat melunak dari posisi puncaknya. Namun, dampaknya tetap bergantung pada besarnya pasokan yang benar-benar masuk ke pasar dan keberlanjutan distribusi.

Kerusakan Kilang Rusia jadi Hambatan
Realisasi kesepakatan Trump dan Putin juga menghadapi tantangan operasional. Penurunan ekspor solar Rusia dalam beberapa waktu terakhir tidak semata-mata berkaitan dengan embargo dan kebijakan perdagangan, tetapi juga kerusakan fisik fasilitas pengolahan minyak akibat serangan pesawat nirawak atau drone Ukraina.

Wahyu menilai pemulihan kapasitas produksi membutuhkan waktu, terutama jika kerusakan melibatkan fasilitas penyulingan, unit hydrocracker, dan terminal ekspor di kawasan Laut Hitam maupun Laut Baltik. “Ekspor diesel Rusia sebelumnya menyusut drastis bukan semata-mata karena kebijakan embargo sukarela, melainkan akibat kerusakan infrastruktur fisik kilang-kilang pengolahan minyak di Rusia barat yang terkena serangan drone Ukraina,” tutur Wahyu.

Perbaikan fasilitas tersebut membutuhkan suku cadang khusus dan waktu pengerjaan yang dapat berlangsung berbulan-bulan. Akibatnya, kemampuan Rusia untuk memenuhi tambahan permintaan ekspor tidak dapat hanya diukur dari kesepakatan politik yang telah diumumkan.

Reuters pada 15 Oktober 2026 juga menyoroti bahwa serangan terhadap fasilitas pengolahan minyak Rusia kembali berlangsung, menambah ketidakpastian terhadap pemulihan kapasitas kilang dan pasokan diesel. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa risiko geopolitik masih menjadi faktor utama pembentuk harga energi global.

Kesepakatan Trump-Putin Belum Menjamin Penurunan Harga
Kesepakatan pasokan diesel antara Amerika Serikat dan Rusia menjadi salah satu upaya meredakan tekanan harga bahan bakar yang meningkat. Namun, dampaknya terhadap pasar internasional masih bergantung pada realisasi pengiriman, kapasitas produksi Rusia, dan perkembangan konflik di kawasan penghasil energi.

Dengan berbagai kendala tersebut, proyeksi harga solar menuju US$130–US$150 per barel perlu dipahami sebagai perkiraan berdasarkan skenario tambahan pasokan, bukan kepastian harga yang akan terjadi.

Dalam jangka pendek, pasar masih akan mencermati perkembangan ekspor Rusia, pemulihan kilang, gangguan pengapalan di Timur Tengah, serta kebijakan ekspor negara produsen lainnya. Faktor-faktor tersebut akan menentukan apakah kesepakatan Trump-Putin benar-benar mampu meredakan krisis solar global secara berkelanjutan. (*)

(Zaky Al Hamzah/reuters/bloombergtechnoz)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID