Guru Besar ULM: Asap Karhutla Mengandung Racun, Warga Wajib Waspada
Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Kalimantan Selatan Profesor Husaini (Foto: ANTARA/HO-Profesor Husaini)
GEBRAK.ID, BANJARBARU – Asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan serius karena mengandung partikel halus, gas berbahaya, dan senyawa kimia hasil pembakaran. Guru Besar Bidang Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kesehatan Lingkungan Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Profesor Husaini, mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan asap, terutama ketika kualitas udara memburuk.
Husaini menjelaskan, asap karhutla, khususnya yang berasal dari pembakaran lahan gambut, bukan sekadar polusi udara biasa. Kandungan polutannya dapat memicu iritasi saluran pernapasan, memperburuk penyakit paru-paru, dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan lainnya, bergantung pada jenis polutan serta tingkat dan durasi paparan. “Asap karhutla bukan polusi udara biasa, melainkan campuran kompleks berbagai zat kimia berbahaya yang dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan,” ujar Husaini di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Minggu (18/10/2026).
Salah satu komponen yang menjadi perhatian utama adalah particulate matter atau partikulat halus PM2.5. Partikel berdiameter hingga 2,5 mikrometer ini dapat masuk jauh ke dalam paru-paru. Paparan polusi partikel halus dikaitkan dengan berbagai gangguan pernapasan dan kardiovaskular, bahkan peningkatan risiko kematian dini.
Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) juga menjelaskan bahwa asap kebakaran mengandung campuran polutan yang dapat menyebabkan batuk, mengi, kesulitan bernapas, serta memperburuk penyakit asma dan gangguan jantung. Risiko lebih besar dihadapi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang yang memiliki penyakit jantung atau paru-paru. Informasi tersebut sejalan dengan penjelasan EPA mengenai dampak asap kebakaran terhadap kesehatan.
PM2.5 dan Gas Berbahaya dalam Asap Karhutla
Menurut Husaini, asap hasil pembakaran vegetasi dan lahan gambut dapat mengandung PM2.5, PM10, karbon monoksida (CO), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida (NO2), serta berbagai senyawa organik. PM2.5 menjadi perhatian karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat menembus jauh ke dalam sistem pernapasan.
Baca Juga
Sementara itu, PM10 merupakan partikel yang berdiameter hingga 10 mikrometer dan juga dapat mengganggu kesehatan. Bahaya asap tidak hanya berasal dari partikel, tetapi juga gas dan senyawa kimia yang terbentuk selama proses pembakaran. Karbon monoksida, misalnya, dapat mengikat hemoglobin dalam darah sehingga menghambat pengangkutan oksigen ke jaringan tubuh.
Adapun sulfur dioksida dan nitrogen dioksida dapat mengiritasi saluran pernapasan. Dalam kondisi atmosfer tertentu, reaksi kimia yang melibatkan polutan juga dapat meningkatkan pembentukan ozon di permukaan bumi yang berdampak buruk bagi paru-paru. Asap karhutla juga berpotensi mengandung senyawa organik berbahaya, seperti benzena, formaldehida, dan hidrokarbon aromatik polisiklik atau polycyclic aromatic hydrocarbons (PAH), termasuk benzo[a]pyrene. Sejumlah senyawa tersebut diketahui bersifat karsinogenik atau dapat meningkatkan risiko kanker.
Namun, tingkat risiko tidak sama untuk setiap orang. Dampak kesehatan dipengaruhi jenis zat, konsentrasi polutan, frekuensi paparan, dan lamanya seseorang menghirup asap. “Bahaya asap karhutla tidak selalu langsung terlihat. Masyarakat mungkin hanya merasakan mata perih, batuk, atau sesak napas, padahal paparan polutan tertentu juga dapat menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang,” ucap Koordinator Kampus ULM Banjarbaru itu.
Cara Melindungi Diri dari Paparan Asap Karhutla
Untuk mengurangi risiko kesehatan, Husaini mendorong masyarakat menggunakan respirator berstandar N95 ketika kualitas udara memburuk akibat asap. Respirator tersebut dapat membantu menyaring partikel halus apabila digunakan dengan benar dan terpasang rapat. Meski demikian, respirator N95 tidak dirancang untuk melindungi pemakainya dari gas beracun seperti karbon monoksida. Karena itu, penggunaan masker tidak boleh menjadi alasan untuk tetap berada di lingkungan yang berbahaya.
EPA merekomendasikan masyarakat mengurangi waktu beraktivitas di luar ruangan ketika asap menyelimuti lingkungan. Jika memungkinkan, warga juga perlu mengurangi aktivitas fisik berat, menjaga udara dalam ruangan tetap bersih, dan menggunakan pembersih udara dengan filter high-efficiency particulate air (HEPA) yang sesuai dengan ukuran ruangan.
Pintu dan jendela dapat ditutup ketika udara luar tercemar, sepanjang kondisi bangunan dan situasi keselamatan memungkinkan. Masyarakat juga perlu memantau informasi kualitas udara dan mengikuti arahan otoritas setempat. Panduan perlindungan tersebut dapat dibaca melalui laman resmi EPA tentang cara melindungi diri dari asap dan abu kebakaran.
Kelompok rentan, termasuk anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta penderita penyakit jantung dan paru-paru, perlu mendapat perhatian khusus. Apabila mengalami sesak napas berat, nyeri dada, kebingungan, atau gejala serius lainnya, masyarakat perlu segera mencari pertolongan medis.
Perubahan Iklim Bisa Memperburuk Karhutla
Husaini menilai perubahan iklim dan meningkatnya cuaca ekstrem berpotensi memperburuk ancaman karhutla. Kemarau berkepanjangan dan suhu tinggi dapat membuat vegetasi serta lahan gambut lebih mudah terbakar, sehingga meningkatkan potensi terbentuknya asap dalam jumlah besar.
Dampaknya juga tidak selalu terbatas pada wilayah yang mengalami kebakaran. Asap dapat terbawa angin menuju daerah lain, bahkan melintasi perbatasan negara. Oleh sebab itu, penanganan karhutla membutuhkan koordinasi lintas wilayah serta langkah pencegahan yang berkelanjutan.
Untuk mendukung pemantauan, masyarakat dapat mengakses informasi resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui laman Peringatan Kebakaran Hutan dan Lahan. Informasi tersebut mencakup pemantauan potensi karhutla, sebaran asap, dan titik panas.
Pencegahan Kebakaran Gambut Perlu Diperkuat
Selain perlindungan kesehatan, Husaini menekankan pentingnya pencegahan kebakaran sejak dini. Upaya yang diperlukan antara lain pemantauan titik panas, deteksi kebakaran bawah permukaan pada lahan gambut, pembasahan kembali lahan gambut, serta penegakan hukum terhadap pembakaran ilegal. Ia juga mendorong pemanfaatan lahan gambut tanpa pengeringan, termasuk melalui pendekatan paludikultur, yakni budidaya yang menyesuaikan kegiatan ekonomi dengan kondisi lahan gambut yang tetap basah.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu menjaga fungsi ekosistem gambut sekaligus mendukung mata pencaharian masyarakat tanpa meningkatkan kerentanan lahan terhadap kebakaran. “Tanpa pencegahan, pengendalian, dan penegakan hukum yang tegas serta berkelanjutan, karhutla akan terus menjadi ancaman tahunan bagi kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan,” ujar Husaini.
Ia menegaskan, penanganan karhutla harus dilakukan secara terpadu, tidak hanya berfokus pada pemadaman api, tetapi juga melindungi masyarakat dari paparan asap, memulihkan ekosistem gambut, dan mencegah kebakaran berulang. (*)
(Zaky Al Hamzah/antaranews)
Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?
Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.
Follow Channel GEBRAK.ID