BMKG Bantah Polusi Jakarta Imbas Karhutla, Sebut Emisi Kendaraan dan El Nino sebagai Biang Kerok

1792397674841

Bukan asap kiriman melainkan polusi lokal yang terperangkap. (Foto: ist)

GEBRAK. ID, JAKARTA— Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menegaskan bahwa memburuknya kualitas udara di DKI Jakarta dalam beberapa hari terakhir bukan disebabkan oleh kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Peningkatan konsentrasi polutan di ibu kota justru telah terjadi jauh sebelum musim karhutla melanda sejumlah wilayah di Sumatera dan Kalimantan.

Direktur Layanan Iklim Terapan BMKG, Marjuki, menjelaskan bahwa konsentrasi partikel halus PM2.5 di Jakarta sudah menunjukkan tren peningkatan sejak Juni 2026. Angka tersebut melonjak jauh sebelum titik-titik panas karhutla terdeteksi secara masif akibat pengaruh El Nino.”Penyebab utama peningkatan konsentrasi PM2.5 Jakarta adalah kendaraan, industri, dan pembakaran sampah kering yang menumpuk pada skala lokal,” kata Marjuki dalam keterangan tertulisnya, Senin (19/10/2026).

Bukan Asap Kiriman, Melainkan Polusi Lokal yang Terperangkap

Marjuki membandingkan kondisi Jakarta dengan wilayah Jambi, Sumatera Selatan, dan sebagian Kalimantan yang memang mengalami lonjakan polusi drastis hingga sepuluh kali lipat akibat dampak langsung asap karhutla. Di Jakarta, pola konsentrasi PM2.5 terpantau relatif sama seperti tahun-tahun sebelumnya, dengan sumber emisi yang berasal dari aktivitas domestik perkotaan .Meskipun demikian, terdapat faktor meteorologis yang memperparah kondisi tersebut.

Fenomena El Nino yang memicu kemarau panjang membuat curah hujan di Jakarta berkurang signifikan. Padahal, hujan berperan penting sebagai “pencuci atmosfer alami” yang mampu mengendapkan polutan kembali ke permukaan. “Musim kemarau dan El Nino yang sedang berlangsung memperburuk kondisi kualitas udara karena hujan yang berfungsi mengendapkan polutan berkurang signifikan,” jelas Marjuki.

Selain minimnya hujan, kecepatan angin yang rendah juga membuat polutan sulit terdispersi. Partikel-partikel berbahaya tersebut akhirnya terperangkap di lapisan udara dekat permukaan tanah, menciptakan kondisi yang persisten dan berpotensi berdampak buruk bagi kesehatan warga.

Waspadai Citra Satelit dan Kualitas Udara Hingga Dua Hari ke Depan

Pernyataan BMKG ini sekaligus merespons keresahan publik yang beredar di media sosial terkait citra satelit NASA yang menampilkan warna merah pekat di atas wilayah Jakarta. Marjuki menegaskan bahwa visualisasi tersebut menampilkan sebaran karbon monoksida (CO) pada ketinggian sekitar 5 hingga 6 kilometer di atas permukaan bumi. “Warna merah hingga jingga menunjukkan jumlah CO di lapisan tersebut yang relatif lebih tinggi dibanding wilayah lain. Warna tersebut tidak menunjukkan kadar di udara yang kita hirup, tidak otomatis berarti berbahaya bagi kesehatan,” ujarnya .Berdasarkan data situs pemantau kualitas udara IQAir pada Senin (19/10/2026) pukul 11.00 WIB, indeks kualitas udara (AQI) di Jakarta berada di angka 162 atau masuk kategori “Tidak Sehat”, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 71 µg/m³ .

BMKG memprakirakan kondisi udara buruk ini masih akan bertahan setidaknya hingga Selasa (20/10/2026) mendatang. Masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menggunakan masker saat terpaksa beraktivitas di luar, serta menutup jendela rumah untuk meminimalisasi paparan partikel halus yang dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.

(Dinar K/ berbagai sumber)

Ikuti Berita GEBRAK.ID Informasi terbaru langsung di WhatsApp

Mau tahu berita penting tanpa harus mencari-cari?

Kami kirim berita pilihan GEBRAK.ID langsung melalui WhatsApp.

Follow Channel GEBRAK.ID