DEMAK -- Upaya pemerintah memperbaiki kualitas sarana pendidikan terus menunjukkan hasil nyata di daerah. Program Revitalisasi Satuan Pendidikan yang digulirkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tak hanya memperbaiki bangunan sekolah, tetapi juga mendorong efisiensi, partisipasi warga, hingga peningkatan kenyamanan belajar siswa.
Hal itu terlihat dalam peresmian revitalisasi SD Negeri Wonorejo 2 di Kabupaten Demak dan SMP Negeri 1 Tahunan di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Peresmian dilakukan langsung oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, sebagai penanda dimulainya semester genap tahun ajaran 2025/2026.
Abdul Mu’ti menegaskan, revitalisasi sekolah merupakan mandat langsung Presiden RI Prabowo Subianto untuk memastikan seluruh satuan pendidikan berada dalam kondisi aman dan layak digunakan. Menurutnya, sekolah yang rusak tidak hanya menghambat proses belajar, tetapi juga berpotensi membahayakan keselamatan peserta didik.
“Tidak boleh ada ruang kelas yang atapnya bocor, roboh, atau membahayakan anak-anak. Revitalisasi sekolah adalah prioritas agar proses pendidikan berjalan dengan baik dan aman,” ujar Abdul Mu’ti saat peresmian di Jawa Tengah, Sabtu (3/1/2026).
Abdul Mu'ti menjelaskan, pelaksanaan revitalisasi dilakukan langsung oleh sekolah melalui mekanisme swakelola. Pola ini dinilai memberi banyak manfaat, mulai dari penyerapan tenaga kerja lokal hingga perputaran ekonomi di sekitar sekolah. Material bangunan pun sebagian besar dibeli dari lingkungan setempat.
“Sekolah dibangun, warga bekerja, ekonomi bergerak. Ini bukan hanya soal bangunan, tapi dampak yang lebih luas bagi masyarakat,” kata Abdul Mu’ti.
Pada 2026, pemerintah telah menyiapkan alokasi awal sebesar Rp 14 triliun dalam APBN untuk merevitalisasi sekitar 11 ribu sekolah. Namun, sesuai arahan Presiden RI, cakupan program ini akan diperluas hingga menyentuh sekitar 71 ribu satuan pendidikan di seluruh Indonesia.
Di Kabupaten Demak, program revitalisasi menjangkau 110 satuan pendidikan dengan total anggaran mencapai Rp 76 miliar. Rinciannya meliputi PAUD hingga pendidikan nonformal. Salah satu penerima manfaat adalah SD Negeri Wonorejo 2 Demak yang memperoleh anggaran lebih dari Rp 2,2 miliar.
Bupati Demak, Eisti’anah, menyampaikan bahwa pemerintah daerah terus mengusulkan titik-titik sekolah yang membutuhkan perbaikan. Pada 2025, Pemkab Demak mengajukan 89 lokasi revitalisasi untuk memastikan sarana pendidikan di wilayahnya semakin layak. “Kami berharap program ini terus berlanjut agar masyarakat benar-benar merasakan dampaknya, terutama bagi anak-anak sekolah,” ujarnya.
Pelaksana Tugas Kepala SD Negeri Wonorejo 2 Demak, Ronsi, mengatakan dana revitalisasi digunakan untuk memperbaiki 12 ruang kelas, ruang administrasi, ruang teknologi informasi, UKS, perpustakaan, serta pembangunan toilet. Menurutnya, kondisi sekolah kini jauh lebih aman dan nyaman bagi kegiatan belajar mengajar.
Sementara itu, di Kabupaten Jepara, program revitalisasi menyasar 120 satuan pendidikan dengan total anggaran lebih dari Rp92 miliar. Salah satu praktik baik muncul dari SMP Negeri 1 Tahunan Jepara.
Kepala SMPN 1 Tahunan, Adi Sasono, menjelaskan sekolahnya menerima bantuan sebesar Rp720 juta untuk merehabilitasi empat ruang kelas. Namun, berkat pengelolaan yang efisien, hasil revitalisasi justru mampu menghasilkan lima ruang kelas.
“Empat ruang kelas berhasil kami kembangkan menjadi lima kelas. Bahkan sisa materialnya bisa dimanfaatkan untuk memperbaiki teras masjid sekolah,” kata Adi.
Dampak revitalisasi juga dirasakan langsung oleh para guru. Nur Huda, guru SMPN 1 Tahunan, mengungkapkan bahwa sebelumnya bangunan sekolah yang berdiri sejak 1983 kerap bocor dan menimbulkan kekhawatiran saat hujan turun. Kini, ruang kelas menjadi lebih aman dan nyaman. “Sekarang kami bisa mengajar dengan tenang. Tidak ada lagi rasa waswas saat hujan,” ujarnya.
Dari sisi siswa, perubahan lingkungan sekolah turut menumbuhkan semangat belajar. Akbar dan Dania, siswa SD Negeri Wonorejo 2, mengaku senang karena ruang kelas mereka kini lebih rapi, bersih, dan nyaman.
Selain perbaikan fisik, Kemendikdasmen juga menyalurkan bantuan perangkat pembelajaran digital berupa Interactive Flat Panel (IFP) serta menyelenggarakan pelatihan guru. Pelatihan tersebut mencakup pembelajaran mendalam, penguatan kecakapan, hingga pengenalan coding dan kecerdasan buatan (AI) sebagai mata pelajaran pilihan.
Melalui Program Revitalisasi Satuan Pendidikan, pemerintah menegaskan komitmennya menghadirkan lingkungan belajar yang aman, modern, dan mendukung peningkatan mutu pendidikan di seluruh Indonesia.
(***)

Posting Komentar untuk "Dari Empat Jadi Lima Kelas, Revitalisasi SMPN 1 Tahunan Jepara Jadi Contoh Nasional"