Ketua Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Wilayah Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa fasilitas pendidikan menjadi prioritas karena dampaknya langsung dirasakan siswa dari PAUD hingga SMA, termasuk madrasah dan pondok pesantren.
"Sejak masa tanggap darurat, 90.109 personel lintas kementerian/lembaga telah diterjunkan ke lapangan. Selain TNI, Polri, BNPB, Basarnas, dan Kementerian PUPR, pemerintah juga melibatkan taruna sekolah kedinasan seperti IPDN, STIS, dan Universitas Pertahanan melalui kegiatan pengabdian lapangan menyerupai KKN untuk membantu percepatan pemulihan," kata Tito dalam Konferensi Pers di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kantor Pusat Kemendagri, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Kondisi di Sumatera Barat mulai menunjukkan kemajuan. Sejumlah sekolah sudah kembali berfungsi meski dalam keterbatasan. Di Sumatera Utara, perbaikan masih difokuskan pada sekolah umum dan fasilitas pendidikan keagamaan. Sementara di Aceh, dampak kerusakan tergolong paling luas sehingga membutuhkan percepatan rehabilitasi lebih intensif.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyampaikan pendataan kerusakan sekolah terus diperbarui melalui rekonsiliasi dengan dinas pendidikan daerah. Berbagai dukungan telah disalurkan, mulai dari school kit, ruang kelas darurat, buku pelajaran, dukungan psikososial, tunjangan khusus guru terdampak, hingga dana operasional pendidikan darurat.
Data sementara mencatat 4.863 sekolah terdampak: 3.409 rusak ringan, 925 rusak sedang, 437 rusak berat, dan 92 sekolah harus direlokasi. Pemulihan ini diharapkan tak hanya mengembalikan aktivitas belajar, tetapi juga memulihkan semangat siswa dan guru di wilayah terdampak bencana.
(Sumber: Puspen Kemendagri)

Posting Komentar untuk "4.863 Sekolah Terdampak Siklon Senyar, Pemerintah Kebut Pemulihan Pembelajaran di Sumatera "