Teknologi layar sentuh berukuran besar ini menghadirkan pengalaman belajar yang jauh lebih interaktif, visual, dan menyenangkan dibanding metode konvensional. Anak-anak tidak lagi sekadar mendengarkan penjelasan guru, tetapi dapat langsung berpartisipasi melalui sentuhan, gambar, dan eksplorasi digital.
Kelas TK di Keerom Berubah Jadi Ruang Eksplorasi Digital
Di Kabupaten Keerom, ruang belajar TK Pembangunan Yapis kini tak lagi identik dengan papan tulis kapur. Kehadiran IFP menjadikan kelas sebagai ruang eksplorasi digital tempat murid mengenal bentuk, warna, dan objek pembelajaran secara langsung melalui sentuhan tangan.
Kepala sekolah Winarsih menyebut perangkat ini sebagai lompatan besar bagi pendidikan anak usia dini di wilayah perbatasan. Pembelajaran tidak lagi satu arah, melainkan memberi ruang bagi anak untuk mencoba, memilih, dan bereksperimen sendiri dengan materi di layar.
Konten digital seperti menggambar, mewarnai, hingga mengenali objek menjadi aktivitas favorit murid. Bagi sekolah yang sebelumnya terbatas fasilitas, IFP membuka jendela baru menuju dunia pembelajaran modern.
Teluk Bintuni: Dari Papan Tulis Biasa ke Teknologi Interaktif
Perubahan serupa juga terlihat di Kabupaten Teluk Bintuni. Di salah satu PAUD Negeri Pembina, murid yang sebelumnya hanya mengenal papan tulis konvensional kini terpukau oleh tampilan visual di layar digital.
Saat gambar burung cenderawasih muncul, kelas langsung dipenuhi tawa, rasa ingin tahu, dan kekaguman. Bagi anak-anak di wilayah 3T (terdepan, terluar, tertinggal), teknologi ini bukan sekadar perangkat elektronik, melainkan simbol kesempatan yang setara dengan sekolah di kota besar.
Rasa percaya diri murid pun tumbuh karena mereka merasakan pengalaman belajar modern yang sebelumnya sulit dijangkau.
Dukungan Nasional Digitalisasi PAUD
Secara nasional, program digitalisasi pembelajaran PAUD terus diperkuat oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI. Berdasarkan laporan Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah, distribusi IFP untuk jenjang PAUD telah mencapai 64.190 unit atau 100 persen dari target.
Perangkat tersebut disalurkan ke sekitar 63.842 satuan pendidikan, termasuk ratusan PAUD di wilayah terdampak bencana yang akan kembali dipenuhi pada 2026.
Direktur Jenderal PAUD Dasmen, Gogot Suharwoto, menyatakan bahwa keberlanjutan program akan ditopang penguatan listrik, konektivitas internet, serta pendampingan guru.
Menurut Gogot, teknologi hanya akan efektif jika diiringi kesiapan sumber daya manusia dan infrastruktur.
Bukan Sekadar Teknologi, Tapi Investasi Masa Depan
Pemanfaatan IFP terbukti tidak hanya meningkatkan keterlibatan murid, tetapi juga menumbuhkan literasi digital sejak dini. Anak-anak belajar berinteraksi dengan teknologi secara positif, terarah, dan didampingi guru.
Di tengah keterbatasan infrastruktur, praktik baik di Keerom dan Teluk Bintuni menunjukkan bahwa transformasi pendidikan tidak selalu bergantung pada lokasi geografis, melainkan pada komitmen untuk beradaptasi.
“IFP di ruang kelas PAUD tidak hanya menampilkan gambar di layar, tetapi juga menumbuhkan harapan bahwa jarak bukan lagi penghalang lahirnya generasi Indonesia yang cerdas dan percaya diri,” ujar Gogot di Jakarta, Senin (23/2/2026).
Program ini sekaligus menjadi bukti bahwa pemerataan kualitas pendidikan berbasis teknologi mulai menjangkau wilayah yang selama ini berada di pinggiran pembangunan.
(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Dari Kapur ke Layar Sentuh: IFP Ubah Wajah Pembelajaran PAUD di Papua"