JAKARTA -- Suasana khidmat menyelimuti Masjid Baitut Tholibin, Jakarta, usai Shalat Jumat pada Jumat (27/2/2026). Bukan sekadar salat berjamaah atau ceramah biasa, momen istimewa terjadi ketika tiga menteri Kabinet Merah Putih duduk berdampingan dengan ulama kondang, Ustaz Abdul Somad (UAS). Mereka hadir bukan untuk rapat kenegaraan, melainkan untuk 'ngaji' dan bedah buku bersama.
Acara bedah buku "35 Kisah Saat Maut Menjemput" karya Ustaz Abdul Somad ini menjadi ajang silaturahmi yang hangat antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), dan Kementerian Kebudayaan (Kemenbud).
Hadir langsung Mendiktisaintek Brian Yuliarto, Menteri Kebudayaan Fadli Zon, dan Mendikdasmen Abdul Mu'ti. Kehadiran mereka berbaur dengan jamaah membuktikan bahwa pembangunan karakter bangsa tidak hanya dilakukan di ruang rapat, tetapi juga melalui sentuhan spiritual dan literasi keagamaan.
Bukan Sekadar Buku, tapi Renungan Akhirat
Buku yang menjadi primadona Jumat itu bukanlah novel fiksi. Melainkan "35 Kisah Saat Maut Menjemput" mengupas tuntas kisah detik-detik akhir kehidupan para nabi, sahabat, ulama, hingga pendosa. Tujuannya satu: mengingatkan bahwa kematian adalah kepastian yang tak bisa ditawar.
Ustaz Abdul Somad menjelaskan bahwa buku ini lahir dari kegelisahannya melihat banyak orang abai terhadap pelajaran dari kematian.
"Banyak orang menyaksikan kematian, tapi sedikit yang mengambil pelajaran. Padahal setelah mati, kita menghadap Allah. Buku ini bukan untuk membuat kita malas hidup, tapi untuk mengajak kita mencari rezeki dengan orientasi akhirat. Supaya bisa kaya, bangun masjid, bantu orang sekolah, untuk bekal di sana," ujar UAS dengan nada khasnya yang menyejukkan.
Pesan ini langsung mendapat sambutan hangat dari para menteri yang hadir. Menteri Brian Yuliarto dalam sambutannya mengaku bahwa tema kematian sangat relevan dengan suasana Ramadan sebagai bulan perenungan.
"Mengingat kematian membuat kita lebih bijaksana. Kekayaan dan jabatan tidak akan kita bawa. Pada akhirnya, kita semua sama di hadapan Allah. Semoga refleksi ini melembutkan hati kita," ujar Menteri Brian penuh haru.
Literasi Spiritual dan Kebudayaan
Sementara itu, Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyoroti pentingnya literasi spiritual sebagai bagian dari kekayaan budaya bangsa. Menurutnya, buku UAS ini bukan sekadar bacaan religi, melainkan juga dokumen peradaban yang mengajarkan makna hidup.
"Kematian adalah sesuatu yang pasti. Buku ini mengingatkan kita untuk memaknai hidup sebagai hadiah yang harus digunakan sebaik-baiknya," tegas Menteri Fadli.
Mendikdasmen Abdul Mu'ti juga mengapresiasi terbitnya buku ini. Ia menilai kisah-kisah dalam buku tersebut sarat dengan pelajaran sejarah, keteladanan, dan refleksi moral yang relevan untuk semua kalangan.
Ramadan sebagai Ruang Refleksi
Suasana makin mengharu biru ketika sesi diskusi dibuka. Para jamaah tampak antusias mengajukan pertanyaan seputar kematian dan persiapan menghadapinya. UAS dengan sabar menjawab sambil sesekali melontarkan guyonan khas yang mencairkan suasana.
Inti pesan yang ingin disampaikan UAS sederhana: persiapkan diri agar meraih husnul khatimah. Caranya dengan istiqamah dalam iman, terus menuntut ilmu, bergaul dengan komunitas baik, dan tak putus berdoa.
Acara penuh keakraban ini menjadi bukti bahwa di tengah hiruk-pikuk politik dan birokrasi, para pemimpin negeri masih punya ruang untuk merenung dan memperkuat ukhuwah. Ramadan memang selalu punya cara istimewa untuk menyatukan hati.
(Kemendiktisaintek, Kementerian Kebudayaan, Kemendikdasmen, Biro Pers Ustaz Abdul Somad)

Posting Komentar untuk "Di Masjid Baitut Tholibin, 3 Menteri Duduk Bersama Ustaz Abdul Somad Bedah Buku "35 Kisah Saat Maut Menjemput""