![]() |
| Risky Jalil, guru matematika di SMAS Ilmanah, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen) |
Langkah ini dinilai menjadi fondasi penting untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul yang merata di seluruh Indonesia, tanpa terkecuali bagi anak-anak di daerah terpencil.
Direktur Jenderal Guru, Tenaga Kependidikan dan Pendidikan Guru, Kemendikdasmen, Nunuk Suryani, menegaskan bahwa berbagai praktik baik yang dilakukan guru di wilayah 3T membuktikan bahwa keterbatasan bukan halangan untuk menghadirkan pembelajaran berkualitas.
Menurut Nunuk, pemerintah akan terus memastikan dukungan yang lebih merata, mulai dari peningkatan kompetensi guru, distribusi tenaga pendidik, hingga penyediaan teknologi pembelajaran seperti papan interaktif digital dan akses internet.
“Cerita praktik baik para guru menunjukkan bahwa keterbatasan bukan penghalang menghadirkan pembelajaran yang bermakna,” ujar Nunuk.
Puluhan Ribu Guru Terima Tunjangan Khusus
Sebagai bentuk keberpihakan nyata, pemerintah menyalurkan Tunjangan Khusus Guru (TKG) bagi pendidik yang bertugas di daerah 3T.
Sepanjang 2025, sebanyak 43.393 guru tercatat menerima tunjangan tersebut dengan total anggaran mencapai Rp636,7 miliar. Setiap guru memperoleh bantuan sebesar Rp2 juta per bulan.
Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kesejahteraan guru, tetapi juga menjaga keberlangsungan layanan pendidikan di wilayah yang sulit dijangkau.
Kisah Guru di Pulau Terpencil Sulawesi Tenggara
Komitmen pemerintah tersebut selaras dengan dedikasi para guru di lapangan. Salah satunya ditunjukkan oleh Risky Jalil, guru matematika di SMAS Ilmanah, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara.
Sejak 2024, ia mengajar di wilayah 3T dengan berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga akses transportasi yang sulit.
Menurut Rizky, perjalanan menuju sekolah menjadi hambatan tersendiri, terutama saat cuaca buruk dan gelombang laut tinggi. Selain itu, ketersediaan buku pelajaran, jaringan internet, serta kemampuan literasi dasar sebagian siswa juga masih terbatas.
Kreatif Mengajar dengan Alat Sederhana
Meski menghadapi banyak keterbatasan, Risky tetap berupaya menghadirkan pembelajaran yang menarik. Ia memanfaatkan benda-benda di sekitar sebagai alat bantu belajar.
Dalam pelajaran matematika, misalnya, ia menggunakan batu sebagai media konkret untuk menjelaskan operasi hitung dasar agar siswa lebih mudah memahami konsep penjumlahan dan pengurangan.
Pendekatan sederhana ini terbukti efektif, terutama bagi siswa yang belum terbiasa dengan pembelajaran berbasis teknologi.
Kedekatan Emosional Bangun Motivasi Belajar
Selain metode kreatif, Risky menilai hubungan emosional dengan siswa menjadi faktor penting dalam meningkatkan motivasi belajar.
Ia berusaha memahami latar belakang murid, mengaitkan pelajaran dengan cita-cita mereka, serta memberikan apresiasi sekecil apa pun terhadap pencapaian siswa.
Pendekatan personal tersebut membantu menumbuhkan rasa percaya diri dan semangat belajar di tengah berbagai keterbatasan.
Harapan Pemerataan Pendidikan Nasional
Risky berharap kualitas pendidikan di wilayah 3T dapat semakin merata, baik dari sisi fasilitas, distribusi guru, maupun akses teknologi.
Ia menilai program Tunjangan Khusus Guru memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan dan motivasi kerja pendidik. Dengan dukungan tersebut, guru lebih berkomitmen untuk tetap mengabdi di daerah terpencil sehingga proses pembelajaran dapat berjalan stabil.
Peran Orang Tua dan Masyarakat Sangat Penting
Selain kebijakan pemerintah, keterlibatan keluarga dan masyarakat dinilai menjadi kunci keberhasilan pendidikan di daerah 3T.
Kepercayaan orang tua terhadap sekolah, kedisiplinan memastikan anak hadir tepat waktu, hingga dukungan terhadap kegiatan pendidikan memberikan dampak besar bagi keberhasilan belajar siswa.
Bantuan berupa buku, alat peraga, maupun pelatihan dari berbagai pihak juga membantu guru menjalankan tugasnya secara optimal.
Sinergi Jadi Kunci Pembangunan SDM
Melalui kombinasi kebijakan pemerintah, dedikasi guru, serta dukungan keluarga dan masyarakat, pembangunan sumber daya manusia di wilayah 3T terus diperkuat secara berkelanjutan.
Upaya ini diharapkan mampu membuka kesempatan yang sama bagi seluruh anak Indonesia untuk meraih masa depan yang lebih baik, di mana pun mereka tinggal.
(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Pemerintah Perkuat Pendidikan di Daerah 3T, Tunjangan Guru dan Teknologi Jadi Kunci Pembangunan SDM"