Langkah tersebut menjadi bagian dari visi pemerataan akses pendidikan bermutu di seluruh Indonesia, termasuk wilayah yang selama ini minim fasilitas.
Sekolah Perbatasan Papua Kini Lebih Layak
Salah satu perubahan signifikan dirasakan TK Pembina Negeri Senggi di Kabupaten Keerom, Papua—wilayah yang berada di tapal batas Indonesia dan Papua Nugini.
Kepala sekolah (Kepsek) TK Albertina Insyur menyebut, pada 2025 lembaganya memperoleh empat jenis bantuan revitalisasi, meliputi rehabilitasi ruang kelas baru, pembangunan toilet, penambahan ruang kelas, serta ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS).
Menurutnya, fasilitas baru tersebut langsung meningkatkan kenyamanan belajar anak-anak yang sebelumnya harus belajar dalam kondisi serba terbatas.
“Kami sangat bersyukur. Bertahun-tahun sekolah kami belum tersentuh pembangunan. Sekarang anak-anak belajar lebih nyaman dan bahagia,” ujar Albertina dalam siaran pers Kemendikdasmen, Minggu (22/2/2026).
Selain meningkatkan kualitas pendidikan, pembangunan dengan skema swakelola juga menggerakkan ekonomi warga sekitar. Masyarakat dilibatkan langsung sehingga muncul rasa memiliki terhadap sekolah.
Lombok Utara: Dari Kekurangan Ruang Kelas Jadi Sekolah Representatif
Dampak serupa juga dirasakan SMP Islam Darul Bayan di Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.
Kepala sekolah Ihsan Sopiandi menjelaskan, sekolahnya menerima enam paket pembangunan pada 2025, yakni empat ruang kelas baru, laboratorium IPA, ruang administrasi, UKS, perpustakaan, serta toilet. Total anggaran mencapai lebih dari Rp2,9 miliar dan seluruh proyek rampung pada akhir tahun.
Perubahan tersebut membuat seluruh siswa kini dapat belajar di ruang kelas yang layak—sesuatu yang sebelumnya sulit terwujud.
“Kini sekolah kami jauh lebih representatif. Kepercayaan masyarakat juga meningkat, semakin banyak orang tua yang ingin menyekolahkan anaknya di sini,” kata Ihsan.
Ihsan menambahkan, fasilitas administrasi yang memadai membuat pengelolaan sekolah menjadi lebih profesional dan pelayanan pendidikan lebih efektif.
SD di NTB tak Lagi Kekurangan Ruang Belajar
Transformasi juga terjadi di SD Negeri 1 Loloan, Lombok Utara. Kepala sekolah Sahrir mengungkapkan bahwa revitalisasi menghadirkan ruang kelas baru, ruang administrasi, toilet, UKS, serta rehabilitasi perpustakaan.
Sebelumnya, keterbatasan ruang membuat siswa harus belajar di lantai perpustakaan. Kini kondisi tersebut berubah drastis.
“Lingkungan belajar menjadi jauh lebih aman dan nyaman. Guru dapat mengajar optimal karena sarana dasar sudah terpenuhi,” jelas Sahrir.
Masyarakat setempat juga dilibatkan dalam pembangunan, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaan. Material bangunan pun sebagian besar berasal dari lingkungan sekitar, sehingga turut mendorong ekonomi lokal.
Target 60 Ribu Sekolah Direvitalisasi pada 2026
Program revitalisasi ini merupakan salah satu Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Pemerintahan Presiden RI Prabowo Subianto. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menegaskan bahwa program tersebut tidak hanya fokus pada perbaikan fisik bangunan, tetapi juga pada penciptaan lingkungan belajar yang mendukung pembentukan karakter siswa.
Pemerintah menargetkan perluasan program secara masif pada tahun 2026.
“Kami menargetkan tambahan 60 ribu satuan pendidikan penerima revitalisasi agar mutu pendidikan dapat dirasakan di seluruh penjuru negeri,” ujar Abdul Mu’ti.
Ribuan Sekolah Sudah Tersentuh Revitalisasi
Sepanjang 2025, Direktorat Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah telah merevitalisasi 14.072 satuan pendidikan, terdiri atas:
* 1.515 PAUD
* 6.328 SD
* 3.989 SMP
* 2.240 SMA
Khusus wilayah 3T, program menjangkau:
* 76 PAUD
* 419 SD
* 325 SMP
* 129 SMA
Capaian tersebut menjadi bukti nyata upaya pemerintah menghadirkan keadilan pendidikan, termasuk bagi anak-anak di daerah terpencil.
Revitalisasi sekolah di wilayah 3T menunjukkan bahwa pembangunan pendidikan tidak hanya berpusat di kota besar. Dari perbatasan Papua hingga pelosok NTB, negara mulai hadir memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan hak yang sama untuk belajar di lingkungan yang aman, layak, dan bermutu.
(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Revitalisasi Sekolah di Daerah 3T: Pemerintah Hadirkan Lingkungan Belajar Aman dari Papua hingga NTB"