Kerja sama ini menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah dalam memastikan kegiatan belajar mengajar di daerah terdampak bencana dapat segera kembali normal.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikasmen), Fajar Riza Ul Haq, menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah terlibat dalam pemulihan layanan pendidikan, terutama di wilayah yang terdampak bencana.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah bekerja keras di lapangan. Situasi di daerah terdampak bencana tentu tidak mudah, tetapi kami percaya dengan semangat gotong royong semua tantangan dapat diatasi,” kata Fajar dalam sambutannya.
Mayoritas Sekolah Sudah Kembali Beroperasi
Fajar menjelaskan, pemerintah terus memastikan agar siswa dan guru di daerah terdampak bencana dapat kembali menjalani proses pembelajaran dengan baik. Berdasarkan data Kemendikdasmen, dari total 4.922 sekolah yang terdampak bencana, seluruh kegiatan pembelajaran kini telah kembali berjalan.
“Alhamdulillah, dari total 4.922 sekolah yang terdampak bencana, proses pembelajaran sudah berjalan normal hingga 100 persen. Mayoritas kegiatan belajar sudah kembali dilakukan di sekolah asalnya,” ujar Fajar.
Meski demikian, sebagian kecil proses belajar masih berlangsung dengan skema sementara, seperti menggunakan ruang kelas darurat atau menumpang di sekolah lain.
“Sebagian kecil masih menggunakan ruang kelas darurat atau menumpang di sekolah lain. Namun secara umum kegiatan belajar mengajar sudah kembali berlangsung normal,” tambah Fajar.
Revitalisasi Sekolah Diprioritaskan
Kemendikdasmen juga terus mendorong percepatan revitalisasi sekolah yang mengalami kerusakan berat akibat bencana. Pemerintah menargetkan siswa dapat kembali belajar dengan fasilitas yang lebih layak dan aman.
“Dengan percepatan revitalisasi sekolah rusak berat di daerah terdampak bencana, kami berharap dalam waktu yang tidak terlalu lama anak-anak dapat kembali menikmati fasilitas pendidikan yang bahkan lebih baik dari sebelumnya,” ujar Fajar.
Fajar menambahkan, langkah ini juga merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden agar program revitalisasi pendidikan tahun 2026 difokuskan pada tiga prioritas utama.
“Bapak Presiden meminta agar revitalisasi pendidikan tahun 2026 difokuskan pada sekolah yang rusak berat, sekolah di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), serta sekolah yang terdampak bencana,” jelas Fajar.
Kemendikdasmen menargetkan proses rehabilitasi dan pembangunan kembali sekolah yang terdampak bencana dapat rampung pada Oktober 2026.
“Kami menargetkan rehabilitasi dan pembangunan kembali satuan pendidikan yang terdampak dapat diselesaikan sekitar Oktober 2026,” kata Fajar.
TNI AD Siap Dukung Rehabilitasi Sekolah
Sementara itu, Asisten Teritorial (Aster) TNI AD Mayjen Rachmad Zulkarnaen menegaskan komitmen TNI AD untuk mendukung percepatan rehabilitasi sekolah di wilayah terdampak bencana.
Menurut Rachmad, setelah penandatanganan kerja sama di tingkat pusat, pelaksanaan teknis akan dilanjutkan di wilayah melalui Komando Daerah Militer (Kodam) yang berada di provinsi terdampak.
“Penandatanganan kontrak ini nantinya dilanjutkan di wilayah melalui Kodam yang berada di tiga provinsi terdampak. Sebelumnya kami juga sudah memulai rehabilitasi beberapa sekolah atas inisiatif Kepala Staf TNI Angkatan Darat,” ujar Rachmad.
Rachmad menjelaskan bahwa kerja sama antara Kemendikdasmen dan TNI AD telah berlangsung sejak tahap awal, mulai dari survei lokasi hingga perencanaan pembangunan kembali sekolah yang rusak.
“Ini bukan kerja sama yang muncul tiba-tiba. Sejak awal kami sudah bekerja bersama, mulai dari survei lapangan hingga menentukan bentuk rehabilitasi yang diperlukan,” jelas Rachmad.
Rachmad berharap percepatan rehabilitasi sekolah ini dapat membantu para siswa kembali belajar di ruang kelas yang layak pada tahun ajaran baru mendatang. “Mudah-mudahan pada tahun ajaran baru nanti, adik-adik kita sudah bisa kembali belajar di sekolah yang layak,” katanya.
Ribuan Sekolah Terdampak Bencana
Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Gogot Suharwoto mengungkapkan bahwa bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat menyebabkan kerusakan cukup besar pada sarana pendidikan.
“Berdasarkan hasil verifikasi lapangan, terdapat 3.966 satuan pendidikan dari jenjang PAUD hingga SMA yang mengalami kerusakan akibat bencana,” ujar Gogot.
Menurut Gogot, kondisi tersebut berpotensi mengganggu pemenuhan hak siswa untuk mendapatkan layanan pendidikan yang aman dan berkelanjutan.
Karena itu, pemerintah memutuskan melibatkan TNI dalam percepatan rehabilitasi sekolah, terutama di daerah yang sulit dijangkau.
“Pelibatan TNI didasarkan pada kebutuhan percepatan rehabilitasi, kemampuan mobilisasi logistik di wilayah sulit, serta dukungan rekayasa konstruksi darurat,” jelas Gogot.
Melalui kerja sama ini, pemerintah menargetkan rehabilitasi terhadap 267 satuan pendidikan yang mengalami kerusakan berat atau memerlukan relokasi.
(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Kemendikdasmen Gandeng TNI AD Percepat Pemulihan Sekolah Rusak Akibat Bencana"