Perang AS-Israel Vs Iran Makin Panas: 6 Tentara Amerika Tewas, Trump Ancam Kirim Pasukan Darat

Tentara Amerika Serikat (AS). (Foto ilustrasi: Freepik)

WASHINGTON -- Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran memasuki babak baru yang semakin memanas. Komando Pusat AS (CENTCOM) mengonfirmasi bahwa jumlah personel militer Amerika yang tewas dalam operasi "Epic Fury" terhadap Iran kini bertambah menjadi enam orang. 

Selain itu, belasan lainnya dilaporkan menderita luka-luka dalam serangkaian pertempuran yang berlangsung hingga Senin (2/3/2026) waktu setempat.

Juru Bicara CENTCOM, Tim Hawkins, menyatakan bahwa seluruh korban jiwa berasal dari serangan yang sama di Kuwait. "Identitas para prajurit yang gugur sementara ini dirahasiakan hingga 24 jam setelah pemberitahuan kepada keluarga terdekat," demikian bunyi pernyataan resmi komando tersebut, seperti dikutip dari CNN.

Operasi Darat Mengintai

Di tengah duka yang menyelimuti Pentagon, Presiden AS Donald Trump justru memberi sinyal keras terkait kemungkinan perluasan operasi militer. Dalam wawancara dengan harian New York Post, Trump mengisyaratkan bahwa dirinya tidak menutup mata terhadap opsi pengerahan pasukan darat ke Iran jika memang diperlukan.

"Seperti setiap presiden berkata, 'Tidak akan ada pasukan darat.' Saya tidak mengatakan itu," ujar Trump dengan tegas. "Saya katakan 'mungkin tidak membutuhkannya' atau 'jika diperlukan'," lanjutnya, sembari menegaskan bahwa kampanye militer ini bisa berlangsung lebih dari empat sampai lima pekan ke depan.

Pernyataan ini memicu kekhawatiran luas, mengingat selama ini Trump kerapkali menjanjikan untuk menarik AS dari "perang abadi" di Timur Tengah. Jika benar pasukan darat dikerahkan, konfrontasi dengan Iran dipastikan akan berubah menjadi perang habis-habisan dengan risiko korban jiwa yang jauh lebih besar.

Pengakuan Pentagon: Korban akan Bertambah

Dalam pengarahan singkat di Pentagon, Ketua Kepala Staf Gabungan AS Jenderal Dan Caine mengakui bahwa serangan terhadap Iran masih berada pada tahap awal. Ia mengonfirmasi bahwa lebih banyak tentara dan jet tempur AS mulai berdatangan di kawasan Timur Tengah untuk memperkuat operasi.

"Kami memperkirakan akan timbul korban tambahan," ungkap Caine dengan nada berat, memberi sinyal bahwa militer AS sadar penuh bahwa harga yang harus dibayar dari operasi besar ini masih akan terus bertambah.

Operasi Epic Fury: Pengerahan Kekuatan Terbesar dalam Satu Generasi

CENTCOM menyebut Operasi Epic Fury sebagai "konsentrasi terbesar kekuatan militer Amerika dalam satu generasi." Dalam faktar sheet yang dirilis, operasi yang dimulai atas perintah presiden pada 28 Februari 2026 pukul 01.15 dini hari waktu setempat ini telah menghantam lebih dari 1.250 target di Iran hanya dalam 48 jam pertama.

Berbagai aset militer canggih dikerahkan, termasuk pembom B-1 dan B-2, jet tempur F-15, F-16, F-22, F-35, hingga kapal induk bertenaga nuklir. Target operasi mencakup pusat komando, markas bersama IRGC, sistem pertahanan udara, situs rudal balistik, hingga kapal dan kapal selam Angkatan Laut Iran.

Respons Iran dan Kekhawatiran di Dalam Negeri

Serangan ini dipicu oleh meningkatnya ketegangan setelah AS dan Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke Iran akhir pekan lalu. Media Iran mengonfirmasi bahwa serangan tersebut bahkan menewaskan sejumlah pejabat tinggi, meskipun rincian lengkap masih terus diinvestigasi.

Di dalam negeri AS, gelombang kritik mulai bermunculan dari kubu oposisi. Hakeem Jeffries, pimpinan Partai Demokrat di DPR, menulis di media sosial bahwa ia patah hati atas gugurnya banyak personel militer di Timur Tengah. Ia mendesak Kongres untuk segera bertindak membatasi wewenang presiden dalam berperang.

"Tidak ada lagi pahlawan Amerika yang perlu mati karena keputusan gegabah untuk berperang. Kongres harus bertindak minggu ini juga untuk menahan presiden," tegas Jeffries.

Sementara itu, jajak pendapat Reuters-IPSOS menunjukkan hanya 27 persen warga Amerika yang mendukung serangan terhadap Iran. Namun Trump tampak mengabaikan hal tersebut. 

"Saya tidak peduli dengan jajak pendapat. Saya harus melakukan hal yang benar," ujar Trump, sembari mengeklaim masih ada "mayoritas diam" yang mendukung kebijakannya.

Dengan bertambahnya korban jiwa dan ancaman perluasan operasi darat, dunia kini menanti langkah selanjutnya dari Gedung Putih. Apakah "Epic Fury" akan benar-benar berubah menjadi perang panjang yang kembali menyeret Amerika ke dalam pusaran konflik Timur Tengah, atau justru menjadi bumerang politik bagi Trump sendiri?

(Sumber: Xinhua, CNN, New York Post, CENTCOM)

Posting Komentar untuk "Perang AS-Israel Vs Iran Makin Panas: 6 Tentara Amerika Tewas, Trump Ancam Kirim Pasukan Darat"