Pelatihan tersebut membekali para guru dengan pemahaman komprehensif tentang Al-Qur’an berbahasa isyarat, metode pengajaran yang sistematis, hingga strategi pelibatan orang tua dalam proses pembelajaran.
Terobosan Penting dalam Pendidikan Agama Inklusif
Salah satu penerima manfaat program ini adalah Bukhori, guru di SLB Negeri 7 Jakarta. Ia mengaku mendapatkan perspektif baru setelah mengikuti ToT Al-Qur’an Isyarat.
Menurutnya, kehadiran Al-Qur’an berbahasa isyarat menjadi langkah maju dalam memastikan akses pendidikan agama yang setara bagi siswa tunarungu.
“Puji syukur, melalui kegiatan ini saya mendapatkan pengalaman berharga. Ternyata ada Al-Qur’an yang memang dikhususkan untuk penyandang disabilitas tunarungu. Murid-murid kami sangat antusias karena selama ini mereka belum memiliki metode membaca Al-Qur’an yang sesuai dengan kebutuhan,” ujar Bukhori, di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Bukhori menegaskan, literasi keagamaan bagi siswa disabilitas tak boleh berhenti di ruang kelas. Karena itu, pihak sekolah juga aktif mengajak para wali murid untuk ikut mempelajari Al-Qur’an isyarat.
“Sangat penting bagi orang tua memahami Al-Qur’an Isyarat. Jika hanya diajarkan di sekolah tanpa dukungan di rumah, hasilnya tidak akan maksimal. Kami ingin pembelajaran ini menyentuh sisi emosional dan spiritual, baik bagi murid maupun orang tuanya,” jelas Bukhori.
Integrasi ke Pembiasaan Pagi Sekolah
Praktik baik serupa juga dilakukan di SLB Negeri 3 Jakarta. Wita Panca Dewi Annisa, guru yang telah mengabdi selama lima tahun, merasakan perubahan signifikan setelah mengikuti pelatihan.
Sebelumnya, ia dan rekan-rekan guru hanya menerjemahkan bahasa isyarat sehari-hari ke dalam pembelajaran Al-Qur’an secara mandiri. Kini, mereka memiliki metode yang lebih terstruktur dan sesuai standar.
“Setelah mengikuti ToT Al-Qur’an Isyarat, kami memiliki keterampilan baru untuk mengajarkan dengan bahasa yang lebih sistematis dan mudah dipahami,” jelas Wita.
Di sekolahnya, metode Al-Qur’an isyarat telah diintegrasikan ke dalam kegiatan Pembiasaan Pagi. Siswa diajak membaca ayat-ayat pendek dan doa harian menggunakan bahasa isyarat. Proses pembelajaran dilakukan bertahap, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah untuk jenjang SD hingga hafalan surat pendek bagi siswa SMP dan SMA.
Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan rasa percaya diri siswa dalam beribadah sekaligus memperkuat fondasi spiritual mereka.
Kisah Nadia: Mandiri dan Menginspirasi
Dampak program ini juga terlihat pada diri Nadia Aulia Safira, siswi kelas 9 SLB Negeri 3 Jakarta. Sejak mengikuti pembelajaran Al-Qur’an isyarat, ia menunjukkan antusiasme tinggi, terutama selama Ramadan.
Tanpa diminta, Nadia rutin mempraktikkan bacaan Al-Qur’an isyarat usai salat Subuh. Ia juga aktif membantu teman-temannya memahami huruf hijaiyah dan doa-doa harian.
“Nadia anak yang mandiri dan peduli. Di kelas, dia sering membantu teman-temannya saat belajar hijaiyah atau membaca doa bersama,” ujar Wita.
Kisah Nadia menjadi bukti bahwa akses metode pembelajaran yang tepat mampu membuka ruang partisipasi lebih luas bagi siswa penyandang disabilitas.
Bagian dari Tanggung Jawab Konstitusional
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menegaskan bahwa ToT Al-Qur’an Isyarat merupakan wujud tanggung jawab moral dan konstitusional negara dalam memenuhi hak pendidikan bagi penyandang disabilitas.
Menurutnya, program ini sejalan dengan komitmen Indonesia terhadap Konvensi Hak-Hak Penyandang Disabilitas.
“Melalui ToT Al-Qur’an Isyarat ini, saya berharap para lulusan pelatihan menjadi Mujahid Literasi yang membawa semangat pencerahan dan menciptakan lingkungan pendidikan ramah bagi seluruh penyandang disabilitas di Indonesia,” ujar Fajar di Jakarta, Selasa (3/3/2025).
Program ini diharapkan terus diperluas agar semakin banyak guru dan sekolah luar biasa yang mampu menghadirkan pembelajaran agama yang inklusif, adaptif, dan bermakna.
Di tengah upaya membangun sistem pendidikan yang setara, Al-Qur’an berbahasa isyarat bukan sekadar metode baru. Ia menjadi jembatan harapan—menghubungkan nilai spiritual dengan hak setiap anak bangsa untuk belajar dan beribadah secara bermartabat.
(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "ToT Al-Qur’an Isyarat Dorong Pendidikan Inklusif, Guru dan Murid SLB Rasakan Dampak Nyata"