![]() |
| Haidar Bagir. (Foto: Mizan) |
Oleh Haidar Bagir*)
Dunia hari ini tampak seperti kehilangan nyalinya.
Venezuela dirampok. Presidennya, Nicolas Maduro, diculik dalam operasi militer. Minyaknya disita, kapal-kapalnya dicegat, dan ekspornya diblokade. Sebuah negara berdaulat diperlakukan seolah ladang milik dewek yang bisa diambil kapan saja.
Kanada direndahkan—dibilang seharusnya hanya jadi negara bagian Amerika Serikat (AS) ke-51, dan diancam-ancam.
Greenland lebih vulgar lagi: bukan hanya hendak dibeli, tetapi juga diancam akan diambil, bahkan dengan opsi kekuatan militer.
Presiden AS Donald Trump menyebutnya sebagai: “Sebuah onggokan besar es yang dikelola dengan buruk.”
NATO diperlakukan seperti bawahan. Trump menyebut aliansi itu “amat mengecewakan”, seraya bilang mereka tidak loyal, tidak adil dalam pembagian beban, bahkan mengancam AS akan menarik diri darinya. Sebuah organisasi global sekutu mereka telah dipermalukan di hadapan dunia.
Di Timur Tengah, nadanya tak berubah.
Hubungan dengan sekutu-sekutunya di Timur Tengah (Timteng) diposisikan secara terang-terangan dalam logika dominasi. Trump sendiri mengatakan bahwa Saudi “tidak akan bertahan dua minggu tanpa perlindungan Amerika” dan karena itu harus membayar.
Lebih jauh, ia berserapah vulgar terhadap Pangeran Muhammad in Salman dengan berkata: “Dia tak mengira akan (harus) mencium pantat saya."
Padahal, sebagaimana sekutu-sekutu AS di Timteng, negeri ini sudah diperas dan dijadikan pelindung Israel–agresor terhadap Palestina.
Tak kurang dari otoritas moral dan keagamaan setingkat Paus Leo IV pun tidak luput dari sasaran. Ketika beliau secara terbuka mengecam perang AS–Israel terhadap Iran dan menyebut ancaman terhadap rakyat Iran secara keseluruhan sebagai sesuatu yang “benar-benar tidak dapat diterima”, respons Donald Trump justru merendahkan.
Trump menyebut Paus Leo “lemah dalam hal (menghadapi) kejahatan”. Tidak berhenti di situ, Trump bahkan mempertanyakan legitimasi Paus, dengan menyiratkan bahwa pemilihannya lebih karena pertimbangan politik—bahkan dikaitkan dengan (dukungan) oleh dirinya—ketimbang benar-benar memiliki otoritas spiritual. Dan, puncaknya, Trump memosting gambar dirinya sendiri sebagai figur mirip Yesus di media sosial.
Namun apa yang terjadi setelah semua ini? Nyaris tidak ada perlawanan. Tidak ada keberanian. Semua seperti hanya menunduk—paling hanya menggerundel, sambil berhitung terlalu lama dalam psikologi kelompok kalah.
Di dalam negeri Amerika sendiri, kegelisahan itu nyata. Kritik mengalir. Demonstrasi terjadi. Bahkan wacana impeachment bermunculan.
Namun di saat yang sama, basis pendukungnya seperti bergeming dalam fanatisme mereka. Senat AS pun sejauh ini selalu gagal mengadang ke(tidak bijak)-an ugal-ugalan Trump karena kalah suara akibat kedegilan anggota Partai Republik yang menguasai mayoritas.
Betul bahwa di balik semua ketidakberadaban Trump, berdiri militer terbesar, ekonomi dominan, dan jaringan kekuasaan global yang sulit ditandingi. Ketergantungan ini menciptakan ketakutan—yang mungkin awalnya rasional, tetapi lama-lama berubah menjadi ketundukan.
NATO menimbang-nimbang menyesuaikan tanpa benar-benar berani menantang. Eropa berhitung. Timur Tengah cuma madah ditelikung. Negara-negara lain? Sebisa mungkin bersembunyi dan menghindar.
Dan Indonesia? Alih-alih mengambil posisi tegas sebagai negara besar dengan tradisi non-blok dan politik luar negeri bebas aktif, pemerintahan negeri ini justru cenderung ikut takluk. Sebagian pengamat politiknya tak terkecuali...
Padahal, bukankah Trump hanyalah manusia tua yang suatu saat akan berlalu?
Mungkin orang berpikir bahwa waktunya tidak lama lagi. Kenapa harus ambil risiko, begitu pikir mereka? Padahal, yang jauh lebih berbahaya adalah warisan yang ia tinggalkan: gaya berpolitik tanpa moral, ketidakadaban telanjang, dan normalisasi kekuasaan tanpa etika—yang bisa jadi preseden buruk dan berdampak panjang bagi peradaban.
Apalagi jika dunia kemudian mulai terbiasa dengan itu. Di titik ini, persoalannya bukan lagi Trump, melainkan hilangnya kewarasan, keberanian, harga diri, dan kemerdekaan bangsa-bangsa.
Padahal, jika bisa bersatu, rezim Trump bisa terbukti sebagai hanya segepok bangunan kartu yang rapuh. Sekarang saja, Trump seperti sedang mematahkan satu-demi satu lidi yang membiarkan dirinya tercerai-berai. Sebegitu sulitkah ini dipahami?
Sampai kapan dunia akan terus lembek begini dan membiarkan diri diaduk-aduk dengan seenaknya oleh satu orang gila bersama segelintir anggota komplotan kecilnya?
16 April 2026
*) Cendekiawan, filantropis, dan penulis.

Posting Komentar untuk "Betapa Lembeknya Dunia di Hadapan Trump..."