Harga Obat Terancam Naik Akibat Konflik Global, BPOM Buka Suara dan Siapkan Strategi Penahan Lonjakan

Perang juga berdampak pada harga obat yang sebagian besar bahan bakunya berasal dari impor. (Foto: gebrak.id) 
Editor: Dinar Kencana 

GEBRAK.ID; JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengungkap potensi kenaikan harga obat di Indonesia seiring memanasnya konflik geopolitik global, khususnya yang berdampak pada rantai pasok bahan baku farmasi dan industri petrokimia.

Kepala BPOM, Taruna Ikrar, menjelaskan bahwa industri farmasi nasional masih sangat bergantung pada impor bahan baku, sehingga gejolak global berpotensi langsung memengaruhi harga obat di dalam negeri.

“Geopolitik internasional yang sekarang ini pasti berpengaruh… bahan baku, intermediate product, bahkan biosimilar itu lebih 90% kita impor,” ujar Taruna di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/4/2026), dalam rapat koordinasi terkait kondisi sektor kesehatan nasional. 

Ketergantungan Impor dan Petrokimia Jadi Faktor Utama

BPOM mengungkap bahwa sebagian besar komponen obat, termasuk kemasan, berasal dari turunan petrokimia yang sangat bergantung pada harga minyak dunia. Kondisi ini membuat harga obat rentan terhadap konflik global yang memengaruhi energi dan logistik.

Taruna menyebut lebih dari separuh kemasan obat berbahan petrokimia, sementara sekitar 30 persen kandungan obat kimia juga berasal dari turunan bahan tersebut.

“Kemasan obat itu lebih dari 50% merupakan petrokimia… beberapa obat kimia juga sekitar 30% berasal dari turunan petrokimia,” jelasnya dalam kesempatan yang sama. 

Selain itu, tingginya ketergantungan impor—yang mencapai lebih dari 90 persen untuk beberapa jenis bahan baku—menjadi tantangan serius bagi stabilitas harga obat di Indonesia. 

BPOM Siapkan Dua Strategi Tekan Harga

Mengantisipasi lonjakan harga, BPOM telah menyiapkan dua langkah strategis. Pertama, relaksasi aturan terkait kemasan obat agar industri farmasi dapat menggunakan alternatif bahan yang lebih murah tanpa mengurangi kualitas dan keamanan.

“Sekitar 30 persen kemasan itu mempengaruhi harga obat. Jadi kalau kita bisa mempermudah di sini tentu itu bisa mengurangi,” kata Taruna usai rapat di DPR RI, Jakarta, Senin (20/4/2026). 

Langkah kedua adalah diversifikasi sumber impor bahan baku obat. Pemerintah akan menjajaki pemasok baru di luar negara-negara utama seperti China, India, dan Eropa untuk mengurangi ketergantungan.

“Kita akan gunakan posisi ini untuk membuka akses ke negara lain sebagai pemasok alternatif,” ujarnya dalam forum yang sama. 

Stok Obat Aman, Tapi Risiko Tetap Ada

Meski ada ancaman kenaikan harga, BPOM memastikan ketersediaan obat nasional masih dalam kondisi aman untuk jangka pendek.

“Selama ini kita masih aman… bisa sampai 6 bulan ke depan masih aman. Tapi kalau perang berlanjut tentu akan berpengaruh,” kata Taruna. 

Namun demikian, BPOM menegaskan bahwa dalam situasi krisis global, ketersediaan obat menjadi prioritas utama dibandingkan harga.

“Kalau obat tidak tersedia, walaupun murah, tetap jadi masalah,” tegasnya. 

Dampak Global Perlu Diwaspadai

Kondisi geopolitik global, termasuk konflik di Timur Tengah, dinilai berpotensi mengganggu rantai pasok global dan meningkatkan biaya produksi industri farmasi. Hal ini pada akhirnya dapat berdampak pada harga jual obat di dalam negeri.

BPOM pun mengimbau seluruh pemangku kepentingan, termasuk industri farmasi, untuk bersiap menghadapi dinamika global dengan memperkuat ketahanan pasokan dan efisiensi produksi.

Dengan langkah mitigasi yang disiapkan, pemerintah berharap lonjakan harga obat dapat ditekan dan akses masyarakat terhadap layanan kesehatan tetap terjaga.

(berbagai sumber) 

Posting Komentar untuk "Harga Obat Terancam Naik Akibat Konflik Global, BPOM Buka Suara dan Siapkan Strategi Penahan Lonjakan"