Hari Nelayan Usai, Krisis Iklim Mengintai: 30 Juta Warga Pesisir Terancam, Riset UPER Bongkar Realitas di Teluk Aru

Dokumentasi observasi lapangan tim riset Universitas Pertamina dalam mengikuti aktivitas harian warga pesisir menggunakan perahu tradisional. (Foto: Dok.UPER)

Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID -- Momentum Hari Nelayan Nasional tahun 2026 ini seharusnya menjadi ruang apresiasi bagi para penjaga laut Indonesia. Namun di balik seremoni tahunan itu, terselip peringatan keras: ketahanan ekonomi masyarakat pesisir kian rapuh dihantam krisis iklim.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 mencatat sekitar 30,2 juta warga yang tinggal di kawasan pesisir berada dalam ancaman dampak perubahan iklim. Sementara laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (2022) memperkirakan kerugian ekonomi sektor perikanan di Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia bisa merosot hingga 26 persen pada 2050 jika mitigasi tidak dilakukan secara serius.

Gambaran ancaman itu kini bukan sekadar proyeksi global. Penelitian terbaru tim akademisi Universitas Pertamina (UPER) di Teluk Aru, Kalimantan Selatan, menunjukkan dampak perubahan iklim telah nyata memukul nelayan tradisional.

Kalender Melaut Kacau, Pengetahuan Lokal tak Lagi Relevan

Riset lintas disiplin yang dipimpin Ita Musfirowati Hanika dari Program Studi Komunikasi UPER tersebut mengkaji kondisi Teluk Aru—salah satu sentra perikanan tangkap terbesar di Kalimantan Selatan dengan potensi mencapai 98.000 ton per tahun.

“Hasil kajian kami menunjukkan perubahan iklim di Teluk Aru bukan lagi isu akademik, melainkan realitas yang memaksa nelayan berhenti melaut karena cuaca ekstrem yang tak menentu dan pergeseran migrasi ikan,” ujar Ita, Senin (13/4/2026).

Menurut Ita, perubahan pola musim menjadi pukulan paling terasa. Musim Barat yang biasanya berlangsung tiga bulan kini dapat memanjang hingga lima bulan akibat perputaran angin yang sulit diprediksi. Dampaknya, kearifan lokal yang selama ini menjadi pedoman nelayan turun-temurun tak lagi sepenuhnya bisa diandalkan.

Tim peneliti juga menemukan lemahnya sistem komunikasi risiko. “Nelayan sebenarnya sadar akan risiko. Namun mereka tidak memiliki akses informasi cuaca yang presisi dan mudah dijangkau untuk pengambilan keputusan harian,” jelas Ita.

Penghasilan “Sakit”, Nelayan Terpaksa Beralih Profesi

Dampak perubahan iklim itu terasa langsung di dapur rumah tangga nelayan. Lahudina (74 tahun), nelayan senior Teluk Aru, menggambarkan betapa berat situasi yang dihadapi.

“Tahun ini cuaca tidak menentu, penghasilan nelayan sedang sakit. Pernah saya memancing semalaman cuma dapat satu ekor ikan, dijual Rp35.000, padahal ongkos sekali jalan Rp100.000. Kami bukan untung, malah nombok,” ungkapnya.

Warga pesisir Teluk Aru bekerja sama mengupas kepiting hasil tangkapan. Penelitian Universitas Pertamina menyoroti pentingnya diversifikasi pengolahan hasil laut sebagai jaring pengaman ekonomi saat musim paceklik melanda. (Foto: Dok. UPER)
Biaya operasional melaut yang bisa mencapai Rp300.000 sekali jalan kerap tak sebanding dengan hasil tangkapan. Dalam publikasi riset yang dimuat di IOP Publishing melalui IOP Conference Series: Earth and Environmental Science serta Dinasti International Journal of Education Management and Social Science (DIJEMSS), disebutkan terjadi penurunan hasil tangkapan hingga 15 persen di kawasan studi.

Kenaikan muka air laut sekitar 3,5 milimeter per tahun juga memperburuk kerentanan wilayah pesisir. Tak sedikit nelayan yang akhirnya mencari sumber penghidupan lain. Salah satunya Pak Kaswin, yang kini beralih menjadi petani cengkeh karena laut tak lagi memberi kepastian ekonomi.

Ancaman Kedaulatan Pangan Pesisir

Penelitian ini menggunakan pendekatan Health Belief Model (HBM) dan Sustainable Livelihood Framework (SLF) untuk membaca perilaku adaptasi nelayan. Hasilnya menunjukkan kesadaran untuk beradaptasi sebenarnya cukup tinggi.

Namun, hambatan struktural seperti keterbatasan modal, akses teknologi, hingga minimnya dukungan pembiayaan menjadi penghalang utama.

Tim peneliti merekomendasikan penguatan kebijakan makro yang sudah ada dengan intervensi teknis yang lebih menyentuh kebutuhan riil nelayan. Di antaranya kemudahan akses kredit untuk modifikasi kapal agar lebih aman menghadapi cuaca ekstrem, serta penyediaan teknologi tepat guna seperti sistem informasi cuaca berbasis komunitas.

 Tim peneliti Universitas Pertamina saat melakukan wawancara mendalam dengan nelayan di Teluk Aru, Kalimantan Selatan. (Foto: Dok. UPER)
Rektor Universitas Pertamina, Prof. Dr. Ir. Wawan Gunawan A. Kadir, M.S., IPU, menegaskan komitmen kampusnya dalam isu keberlanjutan pesisir.


“Penelitian lintas disiplin ini adalah langkah konkret kami menjembatani temuan akademik dengan kebutuhan mendesak nelayan di lapangan, demi menjaga kedaulatan maritim Indonesia,” ujar Prof Wawan.

Refleksi Hari Nelayan tahun ini pun menjadi pengingat: tanpa adaptasi yang terstruktur dan kebijakan yang berpihak pada nelayan kecil, krisis iklim bukan hanya mengancam ekosistem laut, tetapi juga masa depan jutaan keluarga pesisir Indonesia.

(Siaran Pers UPER)



Posting Komentar untuk "Hari Nelayan Usai, Krisis Iklim Mengintai: 30 Juta Warga Pesisir Terancam, Riset UPER Bongkar Realitas di Teluk Aru"