Indonesia–Palestina Perkuat Kerja Sama Pendidikan, Wamendikdasmen: Reformasi Bukan Sekadar Kurikulum, tapi...

Wamendikdasmen, Atip Latipulhayat, memberikan sambutan dalam forum Education Dialogue: Showcasing Indonesian Education Reform to Palestinian Ministry of Education yang digelar di Graha Utama, Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta, Jumat (17/4/2026). (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID; JAKARTA – Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) kembali menegaskan komitmennya dalam diplomasi pendidikan global. Lewat forum Education Dialogue: Showcasing Indonesian Education Reform to Palestinian Ministry of Education yang digelar di Graha Utama, Gedung A Kemendikdasmen, Jakarta, Jumat (17/4/2026), Indonesia berbagi praktik reformasi pendidikan kepada delegasi Kementerian Pendidikan Palestina.

Dialog ini tak sekadar forum seremonial. Pertemuan tersebut menjadi ruang strategis untuk bertukar pengalaman dalam membangun sistem pendidikan yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan—terutama di tengah tantangan sosial dan geopolitik yang kompleks.

Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menyatakan bahwa dialog tersebut dirancang sebagai forum dua arah.

“Ini bukan forum satu arah. Indonesia berbagi pengalaman reformasi pendidikan, tetapi kami juga belajar dari ketangguhan Palestina dalam menjaga keberlanjutan pembelajaran di tengah situasi krisis,” ujar Wamen Atip dalam sambutannya.

Reformasi Pendidikan Indonesia Jadi Sorotan

Dalam pemaparannya, Kemendikdasmen menjelaskan sejumlah agenda transformasi yang tengah dijalankan, mulai dari reformasi kurikulum, penguatan sistem pengembangan dan manajemen guru, hingga strategi pemulihan pembelajaran pascapandemi.

Tak hanya itu, pendekatan deep learning atau pembelajaran mendalam serta penguatan pendidikan berbasis nilai juga menjadi fokus utama. Pemerintah menilai, pendidikan tak boleh berhenti pada capaian literasi dan numerasi semata.

Menurut Wamen Atip, pendidikan memiliki fungsi lebih luas dalam membangun identitas bangsa dan memperkuat kohesi sosial.

“Pendidikan bukan hanya soal kemampuan membaca dan berhitung. Ia adalah proses membangun identitas, menanamkan nilai, serta memperkuat toleransi dan saling menghormati,” tegasnya.

Wamen Atip juga menekankan bahwa bagi Palestina, pendidikan memiliki dimensi yang lebih mendasar: menjaga keberlanjutan sosial dan budaya di tengah situasi penuh tantangan.

“Kami meyakini pendidikan berperan penting dalam membangun harapan dan ketahanan masyarakat. Dalam konteks Palestina, peran itu menjadi semakin krusial,” jelas Wamen Atip.

Dukungan Australia dan Diplomasi Trilateral

Dialog ini juga melibatkan Pemerintah Australia melalui Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia. Minister Counsellor Kedutaan Besar Australia, Tim Stapleton, menyatakan bahwa pendidikan merupakan fondasi pembangunan global.

“Pendidikan adalah hak asasi manusia dan instrumen penting untuk mengurangi kemiskinan, meningkatkan kesetaraan, serta mendorong perdamaian dan stabilitas,” kata Stapleton.

Sementara itu, Direktur Jenderal Hubungan Ekonomi dan Kerja Sama Pembangunan Kementerian Luar Negeri RI, Daniel Tumpal Sumurung Simanjuntak, menilai dialog ini sebagai bagian dari penguatan kerja sama trilateral Indonesia–Australia–Palestina.

“Suatu kehormatan bagi Indonesia dapat berpartisipasi dalam dialog ini sebagai bagian dari kerja sama yang terus diperkuat,” ujar Daniel.

Kerja sama tersebut diposisikan sebagai bagian dari diplomasi pembangunan dan kemanusiaan Indonesia, sekaligus memperluas peran aktif Indonesia dalam isu pendidikan global.

Delegasi Palestina Tinjau Implementasi di Daerah

Sebagai tindak lanjut dialog, delegasi Palestina dijadwalkan melakukan kunjungan lapangan ke sejumlah daerah, termasuk Yogyakarta dan Surabaya. Kunjungan ini bertujuan melihat langsung implementasi kebijakan pendidikan di tingkat satuan pendidikan.

Langkah ini diharapkan memperkuat pemahaman praktis tentang bagaimana kebijakan diterjemahkan menjadi program nyata di sekolah—mulai dari penguatan kurikulum hingga manajemen guru.

Forum ini menegaskan bahwa pendidikan bukan hanya urusan domestik, melainkan juga jembatan solidaritas antarbangsa. Di tengah dinamika global, Indonesia mencoba memosisikan diri bukan hanya sebagai penerima praktik baik, tetapi juga sebagai mitra berbagi pengalaman reformasi pendidikan yang relevan bagi negara sahabat.

(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "Indonesia–Palestina Perkuat Kerja Sama Pendidikan, Wamendikdasmen: Reformasi Bukan Sekadar Kurikulum, tapi..."