![]() |
| Militer Amerika Serikat mulai blokade pelabuhan-pelabuhan Iran guna membuka Selat Hormuz. (Foto: BBC World) Editor: A Rayyan K |
Pada Sabtu (18/4/2026), kapal-kapal komersial yang tengah berusaha menyeberangi Selat Hormuz mendapat peringatan tegas dari Angkatan Laut Iran bahwa jalur air itu ditutup kembali dan tak boleh dilintasi. Pesan radio dari Angkatan Laut Iran bahkan menyatakan: “Tidak ada kapal dari jenis atau kewarganegaraan apapun diizinkan melewati Selat Hormuz.”
Tidak hanya ancaman verbal. Dua kapal komersial — termasuk sebuah tanker berbendera India — dilaporkan ditembaki oleh kapal gunboat Iran saat berlayar di perairan dekat Oman sehingga mereka terpaksa berbalik arah. Beruntung, seluruh awak kapal dilaporkan selamat tanpa cedera meski insiden tersebut menambah kerawanan navigasi di jalur strategis ini.
Mengapa Selat Hormuz Kembali “Ditutup”?
Insiden terbaru muncul setelah Iran sebelumnya memberi sinyal buka tutup Selat Hormuz kepada kapal sipil dalam periode perdamaian yang sangat singkat antara AS dan Iran. Namun, pengapuran itu hanya bersifat sementara dan bersyarat — dikaitkan dengan gencatan senjata dengan AS dan Israel, serta kondisi geopolitik di Lebanon yang tak stabil.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Iran menyatakan bahwa kapal perang atau kapal yang dianggap afiliasi musuh tidak akan diizinkan menyeberang. Akses yang diberikan sebelumnya hanya berlaku selama gencatan senjata dan bisa ditarik kembali kapanpun situasi berubah.
Imbas Terhadap Perdagangan Global
Penutupan kembali selat telah memaksa banyak kapal untuk kembali ke pelabuhan asalnya atau berputar arah, meninggalkan ratusan kapal dagang terjebak di Teluk Persia. Selat Hormuz sendiri menjadi urat nadi transportasi energi global — sekitar 20% minyak dunia melewati jalur ini — sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada pasokan energi dan harga minyak di pasar global.
Tak hanya berdampak ekonomi, aksi militer semacam ini juga meningkatkan risiko konflik yang lebih luas antara kekuatan besar dunia. Upaya diplomasi terus berjalan di tengah tekanan militer yang intens, namun solusi damai masih jauh dari terpenuhi.
Tren buka tutup yang diterapkan Iran di Selat Hormuz menggambarkan betapa rapuhnya situasi keamanan di kawasan Teluk Persia saat ini. Penembakan terhadap kapal dagang menunjukkan aksi militer yang siap dipilih Iran sebagai daya tawar menghadapi tekanan AS serta keterkaitan konflik yang melibatkan Israel.
Kondisi ini bukan hanya ancaman bagi navigasi internasional, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas energi dan perekonomian global jika terus berlanjut.
(Berbagai Sumber)

Posting Komentar untuk "Ketegangan Memuncak di Selat Hormuz: Iran Tembaki Kapal, Konflik dengan AS-Israel Belum Usai"