Editor: Endro Yuwato
Tim Moneyfesteam ITB mengembangkan konsep sistem parfum modular berbasis AI. (Foto: Dok. L'Oréal Indonesia)
GEBRAK.ID; JAKARTA – Inovasi tak selalu lahir dari laboratorium rumit. Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) justru memulai dari persoalan sederhana: satu botol parfum untuk berbagai peran dalam sehari.
Dari keresahan itu, lahirlah sistem parfum modular berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mampu menghasilkan hingga 15 kombinasi aroma dalam satu kemasan.
Tim yang menamakan diri Moneyfesteam, terdiri dari Rayhan Hidayatul Fikri, Allodya Qonnita, dan Muhammad Abdillah Putra Alfera, mengembangkan konsep parfum adaptif yang memadukan teknologi, gaya hidup, dan personalisasi. Inovasi ini mengantarkan mereka meraih prestasi nasional dan dijadwalkan tampil di Paris pada Juni 2026 dalam ajang inovasi global.
Abdillah menjelaskan, ide tersebut berangkat dari pengamatan terhadap gaya hidup pria modern yang dinamis. “Pria menjalani banyak peran dalam sehari, tetapi parfum umumnya dirancang hanya untuk satu momen. Kami ingin menciptakan solusi yang lebih fleksibel,” ujarnya seperti dikutip dari laman resmi kampus ITB, Minggu (12/4/2026).
Produk yang mereka gagas diberi nama Zaro Quintessence, sebuah sistem 4-in-1 fragrance dengan empat kompartemen aroma. Kombinasi tersebut memungkinkan terciptanya hingga 15 varian scent berbeda, cukup dalam satu botol. Teknologi AI yang terintegrasi melalui aplikasi ponsel akan merekomendasikan racikan aroma secara real-time sesuai aktivitas, waktu, hingga preferensi pengguna.
Perangkat ini juga dirancang portabel dengan sistem magnetik mirip MagSafe, sehingga mudah dibawa dan digunakan kapan saja. Pendekatan ini mencerminkan tren global industri kecantikan yang mulai mengadopsi artificial intelligence untuk personalisasi produk, seperti yang dilaporkan berbagai riset pasar internasional.
Keberhasilan tim ITB tidak lepas dari kolaborasi multidisiplin. Mereka memadukan latar belakang manajemen dan teknologi agar ide tidak hanya kreatif, tetapi juga layak secara bisnis. Tantangan muncul ketika salah satu anggota menjalani program pertukaran pelajar di National University of Singapore (NUS), sehingga koordinasi dilakukan jarak jauh. Namun situasi itu justru memperkaya perspektif global tim.
“Menjadikan konsep ini tetap terasa premium, scalable, dan realistis adalah proses panjang. Tapi di situlah kekuatan ide kami terbentuk,” kata Abdillah.
Inovasi ini dinilai relevan dengan perkembangan industri fragrance dunia yang semakin mengarah pada personalisasi dan pengalaman pengguna. Laporan sejumlah firma riset global menunjukkan konsumen generasi muda kini menginginkan produk yang bisa menyesuaikan identitas dan suasana hati mereka.
Selain Moneyfesteam, mahasiswa ITB lain yang tergabung dalam tim AADC juga menorehkan prestasi dengan meraih juara dua dan Favorite Winner lewat konsep perangkat parfum pintar yang memungkinkan pencampuran aroma lebih fleksibel.
Keikutsertaan di Paris 2026 menjadi langkah penting untuk menguji potensi pasar internasional. Tim kini mematangkan analisis pasar global serta strategi presentasi agar inovasi mereka tidak berhenti sebagai konsep, melainkan berkembang menjadi produk nyata.
Abdillah berpesan agar mahasiswa berani berpikir berbeda, tetapi tetap berpijak pada masalah riil. “Kompetisi bukan sekadar menang, tapi belajar melihat dunia dengan cara lebih tajam dan kreatif,” ujarnya.
Inovasi parfum berbasis AI ini menjadi bukti bahwa talenta muda Indonesia mampu bersaing di kancah global, sekaligus membuka peluang baru di industri teknologi dan gaya hidup.
(Sumber: itb.ac.id)
Posting Komentar untuk "Mahasiswa ITB Ciptakan Parfum AI: Satu Botol Bisa Hasilkan 15 Aroma, Siap Tampil di Paris 2026"