Nyawa Pekerja Bukan Taruhan! Menaker Yassierli Gebrak Balai K3: Harus Proaktif, Bukan Cuma Nunggu Kecelakaan!

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli saat meninjau Balai Besar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (BBK3) Jakarta, Selasa (14/4/2026). (Foto: Biro Humas Kemnaker)
Editor: Zaky AH

GEBRAK.ID; JAKARTA – Angka kecelakaan kerja di Indonesia masih menjadi momok yang menghantui. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli angkat bicara keras: keselamatan pekerja tidak boleh lagi dijadikan taruhan! 

Yassierli memerintahkan jajaran Balai Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk keluar dari zona nyaman dan bergerak proaktif mencegah kecelakaan, bukan hanya menunggu insiden terjadi.

Pesan tegas ini disampaikan Yassierli saat meninjau Balai Besar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (BBK3) Jakarta, Selasa (14/4/2026).

"Upaya promotif dan preventif sangat penting. Saya instruksikan seluruh jajaran pegawai BBK3 Jakarta untuk bergerak lebih masif dalam menjalankan fungsi pengawasan dan edukasi. Kita harus mampu menekan angka fatalitas di tempat kerja secara signifikan," ujar Yassierli.

Balai K3 Harus Jadi Benteng, Bukan Pemadam Kebakaran

Menurut Yassierli, setiap kecelakaan kerja bukan sekadar angka statistik. Di balik setiap korban, ada keluarga yang kehilangan pencari nafkah dan masa depan yang hancur. Karena itu, Balai K3 harus bertransformasi menjadi institusi yang mampu membaca risiko dan membangun budaya keselamatan, bukan sekadar pelaksana teknis.

Yassierli juga menegaskan bahwa target besar ini tidak bisa dikerjakan sendiri. Kolaborasi dengan pihak swasta, terutama Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3), adalah kunci.

"PJK3 bukan saingan kita. Mereka adalah mitra agar tujuan besar kita tercapai, yaitu turunnya angka kecelakaan kerja di seluruh Indonesia," ujar Yassierli menegaskan.

Pegawai K3 Harus Melek Data dan Manajemen Risiko

Lebih jauh, Yassierli meminta penguatan kapasitas pegawai Balai K3. Mereka tidak cukup hanya jago teknis, tetapi harus menguasai manajerial dan analisis data.

"Setiap penguji harus menguasai budaya K3, SMK3 (Sistem Manajemen K3), hingga manajemen risiko. Selain itu, kemampuan mengolah data statistik sangat penting agar output yang dihasilkan bisa menjadi landasan kuat dalam pengambilan kebijakan," tegas Yassierli.

Dengan data yang akurat, pencegahan kecelakaan kerja bisa dilakukan secara lebih terarah dan efektif.

Target Akhir: Nol Kecelakaan Fatal

Yassierli juga mengingatkan para pejabat fungsional K3 agar terus berkembang. Semakin tinggi jenjang karier, orientasi harus bergeser ke arah manajerial dan pembuat kebijakan.

"Semakin tinggi jabatan fungsional seseorang, orientasinya harus menuju ke pembuat kebijakan. Semakin manajerial, jangan justru semakin teknis. Inilah yang akan membawa perubahan besar pada pelindungan tenaga kerja kita di masa depan," pungkas Yassierli.

Langkah ini diharapkan dapat menurunkan angka kecelakaan kerja yang masih tinggi di Indonesia. Apakah Balai K3 siap bertransformasi? Publik menanti aksi nyata, bukan sekadar janji!

(Biro Humas Kemnaker)


Posting Komentar untuk "Nyawa Pekerja Bukan Taruhan! Menaker Yassierli Gebrak Balai K3: Harus Proaktif, Bukan Cuma Nunggu Kecelakaan!"