Peringatan PBB: Guncangan Perang AS-Iran Ancam 32 Juta Orang di 160 Negara Jatuh Miskin

Penutupan Selat Hormuz memberi dampak besar bagi perekonomian global. (Foto: Wikipedia)
Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA -- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengeluarkan peringatan keras mengenai dampak ekonomi global akibat konflik bersenjata antara Amerika Serikat (AS) beserta sekutunya melawan Iran. Menurut badan pembangunan PBB (UNDP), perang yang baru berlangsung beberapa pekan ini telah menciptakan guncangan energi dahsyat yang berpotensi mendorong lebih dari 32 juta orang di seluruh dunia jatuh ke dalam jurang kemiskinan.

Peringatan ini disampaikan langsung oleh Kepala Program Pembangunan PBB (UNDP), Alexander De Croo, di sela-sela pertemuan menteri pembangunan G7 di Paris. Ia menggambarkan situasi saat ini sebagai "pembangunan yang berjalan mundur" (development in reverse), di mana kemajuan ekonomi yang dibangun puluhan tahun bisa hancur dalam hitungan minggu akibat perang .

"Butuh waktu puluhan tahun untuk membangun masyarakat yang stabil, untuk mengembangkan ekonomi lokal. Namun, hanya butuh beberapa minggu perang untuk menghancurkannya," ujar Alexander De Croo dalam laporan yang dikutip pada Rabu (29/4/2026) .

Selat Hormuz, Pemicu Krisis Global

Akar dari krisis ini adalah penutupan Selat Hormuz, jalur pelayaran paling strategis di dunia. Konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran telah menyebabkan jalur yang biasanya dilalui oleh seperlima minyak mentah dunia dan gas alam cair (LNG) ini praktis terblokade .

Akibatnya, harga energi dan pupuk melonjak tak terkendali di pasar global. Kenaikan harga pupuk menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan dunia, sementara mahalnya energi membebani sektor industri dan rumah tangga di berbagai negara, mulai dari Afrika hingga Asia .

Studi yang dilakukan UNDP setelah enam minggu konflik berkecamuk memperkirakan bahwa bahkan jika perang berakhir hari ini, dampaknya sudah terlalu dalam. Sekitar 32 juta orang di 160 negara diprediksi akan terdorong ke dalam kondisi rentan atau miskin baru .

Wilayah Paling Rentan Terdampak

Tidak ada negara yang benar-benar aman dari guncangan ini, namun UNDP menyoroti kawasan yang paling rentan. Afrika Sub-Sahara menjadi wilayah dengan risiko tertinggi karena ketergantungan impor energi dan pangan yang tinggi.

Selain itu, negara-negara di Asia seperti Bangladesh dan Kamboja, serta negara-negara kepulauan kecil (Small Island Developing States) juga disebut akan terkena pukulan paling keras .

"Biaya energi yang tinggi dan kekurangan pupuk akan berdampak sangat besar dalam beberapa bulan mendatang pada masyarakat di negara-negara ini," peringat Alexander De Croo.

Ia juga menambahkan faktor "bom waktu" lainnya, yakni potensi ketidakstabilan politik dan penurunan drastis pengiriman uang (remitansi) dari para pekerja migran yang biasa mengirim dolar ke kampung halaman mereka, terutama dari negara-negara Teluk yang juga terdampak konflik .

Asia Terancam Kerugian Triliunan Rupiah

Kawasan Asia-Pasifik disebut sebagai wilayah yang paling merasakan getaran krisis ini karena tingginya ketergantungan pada impor energi dari Timur Tengah. Direktur Regional UNDP Asia-Pasifik, Kanni Wignaraja, menggambarkan situasi ini sebagai "semacam guncangan besar dan mendadak" .

Dalam hitungan kasar, UNDP memperkirakan potensi kerugian produksi di kawasan Asia-Pasifik berkisar antara 97 miliar dolar AS hingga 299 miliar dolar AS. Dengan kurs sekitar Rp 17.000 per dolar AS, angka ini setara dengan Rp 1.649 triliun hingga Rp 5.083 triliun .

Guncangan ini diprediksi akan menggerus Produk Domestik Bruto (PDB) Asia-Pasifik sebesar 0,3% hingga 0,8%. Lebih buruknya lagi, dari 32 juta orang yang terancam miskin secara global, sekitar 8,8 juta di antaranya berada di kawasan Asia-Pasifik .

Butuh Dana 6 Miliar Dolar untuk "Menambal" Luka

Menghadapi krisis yang semakin nyata ini, UNDP telah mengajukan rencana darurat. Alexander De Croo menyatakan bahwa dibutuhkan dana sekitar 6 miliar dolar AS untuk memberikan subsidi langsung bagi masyarakat paling rentan, terutama untuk membantu mereka membeli pangan dan energi yang harganya kini melambung tinggi. 

Dibandingkan dengan biaya perang, angka 6 miliar dolar AS dinilai relatif kecil. "Anda bisa mengatakan bahwa enam miliar dolar itu banyak. Tapi perang ini menelan biaya sembilan miliar dolar per minggu," tegas De Croo, menekankan bahwa mengakhiri perang dan membuka jalur perdagangan jauh lebih ekonomis daripada terus berkonflik .

De Croo mengonfirmasi bahwa diskusi mengenai bantuan darurat ini sudah mulai berlangsung dengan Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia untuk memitigasi dampak terburuk dari krisis kemanusiaan global ini .

Hingga berita ini diturunkan, upaya diplomatik untuk membuka kembali Selat Hormuz masih terus dilakukan. Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres telah mendesak AS dan Iran untuk segera memulihkan kebebasan navigasi demi "membiarkan ekonomi global bernapas" .

(berbagai sumber) 

Posting Komentar untuk "Peringatan PBB: Guncangan Perang AS-Iran Ancam 32 Juta Orang di 160 Negara Jatuh Miskin"