Potensi Perikanan Maluku Utara Rp517 M per Tahun, tapi Baru 61 Persen Tergarap! Rokhmin Dahuri: Ada Masalah Struktural!

Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri (kiri), menyampaikan pandangan terkait ketahanan pangan saat forum “Menatap Masa Depan Perikanan Maluku Utara” di Ternate, Sabtu (11/4/2026). Hadir dalam kesempatan tersebut Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda (kanan). (Foto: Dok.Ist) 

Editor: Zaky AH

GEBRAK.ID; TERNATE – Maluku Utara adalah surga ikan yang tersembunyi. Wilayah yang berada di jantung Segitiga Terumbu Karang Dunia ini menyimpan potensi sumber daya ikan laut yang luar biasa, mencapai 517 ribu ton per tahun. Nilai ekonominya jika digarap maksimal bisa mencapai lebih dari Rp 20 triliun per tahun! Namun, fakta di lapangan sungguh ironis.

Anggota Komisi IV DPR RI, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri yang juga mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, mengungkapkan bahwa tingkat pemanfaatan potensi tersebut pada 2024 baru mencapai 61,65 persen. Artinya, hampir 40 persen dari kekayaan laut Maluku Utara tidak termanfaatkan secara optimal.

"Pada 2024, tingkat pemanfaatan potensi tersebut mencapai 61,65 persen," ujar Rokhmin dalam Talkshow di Ternate, Sabtu (11/4/2026).

Produksi Menurun Drastis, Nelayan Berkurang Separuh!


Yang lebih mengkhawatirkan, tren produksi perikanan tangkap Maluku Utara justru menurun drastis dalam tiga tahun terakhir. Dari puncaknya 361.500 ton pada 2021, produksi merosot menjadi hanya 318.734 ton pada 2024.

Rokhmin menyoroti adanya persoalan struktural yang serius. Jumlah nelayan tangkap laut turun drastis dari lebih dari 93.000 orang pada 2020 menjadi sekitar 46.000 orang pada 2024 —penurunan lebih dari 50 persen!

"Ini menunjukkan perikanan tangkap Maluku Utara masih ditopang armada skala kecil tradisional," kata Rokhmin.

Dominasi Kapal Tradisional, Teknologi Minim

Dari sekitar 30.000 unit armada yang ada, sebagian besar masih berupa perahu tanpa motor dan perahu motor tempel. Modernisasi armada dan teknologi penangkapan ikan masih menjadi pekerjaan rumah besar.

Padahal, komoditas yang dihasilkan adalah primadona ekspor: tuna, kakap, dan cakalang. Pada 2024 saja, produksi tuna mencapai lebih dari 50.000 ton. Namun, tanpa dukungan rantai dingin dan logistik yang memadai, nilai tambahnya banyak yang hilang.

Rokhmin menekankan perlunya transformasi sistem produksi secara masif. Industrialisasi perikanan harus digalakkan agar hasil laut tidak sekadar diekspor mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi.

"Produksi perikanan tangkap Maluku Utara masih kuat, tetapi cenderung melambat dalam tiga tahun terakhir," tegas Rokhmin.

Pemerintah daerah dan pusat harus segera bertindak. Jika tidak, potensi ekonomi yang luar biasa ini akan terus menguap sia-sia, sementara kesejahteraan nelayan tradisional tidak kunjung meningkat.

(Sumber: borderjournal.id)


Posting Komentar untuk "Potensi Perikanan Maluku Utara Rp517 M per Tahun, tapi Baru 61 Persen Tergarap! Rokhmin Dahuri: Ada Masalah Struktural!"