GEBRAK.ID; JAKARTA – Ekspansi besar-besaran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) mulai menunjukkan dampak nyata, bukan hanya pada sektor kesehatan masyarakat, tetapi juga pada kebutuhan tenaga kerja. Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat lonjakan signifikan kebutuhan ahli gizi seiring bertambahnya Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, menyatakan bahwa setiap unit SPPG wajib memiliki tenaga ahli gizi sebagai bagian dari standar operasional layanan.
“Setiap SPPG harus ada ahli gizi, karena yang kita tetapkan bukan menu nasional, melainkan standar komposisi gizi. Jadi harus ada yang meramu sesuai potensi lokal,” ujar Dadan dalam keterangan resminya, Rabu (29/4/2026).
SPPG Meluas, Kebutuhan SDM Melejit
Dengan jumlah SPPG yang kini telah mencapai puluhan ribu unit di seluruh Indonesia, kebutuhan tenaga ahli gizi meningkat tajam. Setiap unit minimal membutuhkan satu tenaga ahli, belum termasuk tim pendukung seperti pengolah makanan dan pengawas kualitas.
Lonjakan ini secara otomatis membuka peluang kerja baru dalam skala besar, khususnya bagi lulusan bidang gizi, kesehatan masyarakat, hingga teknologi pangan.
Situasi ini menjadi titik balik bagi profesi ahli gizi yang sebelumnya kurang diminati. Kini, kebutuhan di lapangan justru membuat profesi tersebut menjadi salah satu yang paling diburu.
“Program studi gizi dulu tidak terlalu diminati, sekarang justru menjadi yang paling laku karena kebutuhan sangat besar,” kata Dadan.
Tak Hanya Lulusan Gizi, Bidang Lain Ikut Dibuka
Menariknya, BGN tidak membatasi kebutuhan tenaga hanya pada lulusan gizi murni. Sejumlah latar belakang pendidikan lain yang relevan juga dibuka peluangnya, seperti:
* Kesehatan masyarakat
* Teknologi pangan
* Pengolahan makanan
* Keamanan pangan
Langkah ini dilakukan untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan SDM sekaligus menjaga kualitas layanan di setiap SPPG.
Pendekatan fleksibel ini juga dinilai penting mengingat cakupan Program MBG yang sangat luas dan membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar dalam waktu relatif singkat.
Kunci Sukses MBG: Menu Berbasis Potensi Lokal
Menurut BGN, keberadaan ahli gizi bukan sekadar formalitas, melainkan elemen kunci dalam keberhasilan program. Hal ini karena pendekatan MBG tidak menggunakan menu nasional yang seragam.
Sebaliknya, setiap daerah didorong untuk mengembangkan menu berbasis potensi lokal, menyesuaikan dengan ketersediaan bahan pangan dan pola konsumsi masyarakat setempat.
Di sinilah peran ahli gizi menjadi krusial—menyusun komposisi makanan yang tidak hanya sehat dan seimbang, tetapi juga relevan dengan kondisi lokal.
Pendekatan ini diyakini mampu meningkatkan efektivitas program sekaligus memberdayakan ekonomi daerah melalui pemanfaatan bahan pangan lokal.
Dampak Berganda: Ekonomi, Pendidikan, hingga SDM
Lonjakan kebutuhan tenaga ahli gizi juga membawa dampak berantai ke sektor lain, terutama pendidikan. Perguruan tinggi kini dituntut menyesuaikan kurikulum dan kapasitas pendidikan di bidang gizi dan pangan.
Program MBG bahkan dinilai sebagai momentum kebangkitan pendidikan vokasi di sektor kesehatan dan pangan.
Selain itu, peningkatan kebutuhan SDM juga berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya di sektor pangan dan jasa layanan kesehatan.
Peluang Besar, Tantangan Juga Mengintai
Di tengah peluang besar ini, tantangan tetap ada. Pemerintah harus memastikan kualitas tenaga yang direkrut tetap terjaga, sekaligus mempercepat distribusi tenaga ahli ke daerah-daerah yang membutuhkan.
Namun demikian, ekspansi Program MBG tetap menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperbaiki kualitas gizi masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Dengan skala program yang terus berkembang, kebutuhan tenaga ahli gizi diperkirakan masih akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
(Sumber: BGN)

Posting Komentar untuk "Program Makan Bergizi Gratis Masih Butuh Banyak SDM untuk Ahli Gizi"