Tiga Geopark Indonesia Raih “Green Card” UNESCO, Pengakuan Dunia atas Komitmen Jaga Alam dan Pembangunan Berbasis Komunitas

Tiga kawasan geopark nasional berhasil meraih status bergengsi “Green Card” dari UNESCO. Ketiga geopark yang dimaksud adalah Rinjani UNESCO Global Geopark (UGGp), Toba Caldera UGGp, dan Ciletuh–Pelabuhanratu UGGp. (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

GEBRAK.ID; PARIS – Indonesia kembali mencatatkan prestasi di kancah internasional. Tiga kawasan geopark nasional berhasil meraih status bergengsi “Green Card” dari UNESCO setelah lolos proses revalidasi ketat. Pengakuan ini menegaskan konsistensi Indonesia dalam menjaga warisan geologi sekaligus mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas.

Ketiga geopark yang dimaksud adalah Rinjani UNESCO Global Geopark (UGGp), Toba Caldera UGGp, dan Ciletuh–Pelabuhanratu UGGp. Sertifikat diserahkan dalam seremoni resmi UNESCO di Paris, Prancis, kepada Duta Besar Republik Indonesia untuk Prancis, Andorra, Monako sekaligus Delegasi Tetap RI untuk UNESCO, Muhamad Oemar.

UNESCO Global Geopark merupakan kawasan geografis terpadu yang memiliki nilai geologi berkelas internasional. Pengelolaannya tidak hanya berfokus pada konservasi, tetapi juga pendidikan serta pengembangan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Keberhasilan Indonesia mempertahankan status “Green Card” menunjukkan bahwa pengelolaan ketiga geopark tersebut dinilai memenuhi standar tinggi yang ditetapkan UNESCO, baik dari aspek perlindungan lingkungan, pemberdayaan masyarakat, hingga tata kelola kawasan.

Ketua Harian Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO (KNIU), Ananto Kusuma Seta, menyampaikan apresiasi atas capaian ini. Menurutnya, hasil tersebut merupakan buah kerja kolektif berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat, daerah, hingga masyarakat lokal.

“Sebagai negara dengan jumlah UNESCO Global Geopark terbanyak ketiga di dunia, Indonesia telah membuktikan kemampuannya dalam menjaga dan mengelola kawasan secara berkelanjutan. Ini pencapaian yang membanggakan,” ujar Ananto, Kamis (30/4/2026).

Ananto juga menegaskan bahwa pengakuan internasional ini bukan sekadar simbol prestise, melainkan tanggung jawab besar untuk terus menjaga kualitas pengelolaan geopark agar tetap berkelanjutan di masa depan.

Dalam kesempatan yang sama, Chief of the Section for Earth Sciences and Geoparks UNESCO, Kristof Vandenberghe, mengungkapkan sejumlah tantangan yang masih dihadapi jaringan geopark global. Ia menyebut bahwa isu pendanaan dan keberlanjutan finansial menjadi tantangan utama bagi banyak geopark di dunia.

Selain itu, keterbatasan sumber daya manusia, akses terhadap keahlian, kolaborasi internasional, hingga kapasitas edukasi publik juga menjadi perhatian penting. Infrastruktur dan aksesibilitas kawasan turut menjadi faktor krusial dalam mendukung keberhasilan geopark.

“Tantangan-tantangan tersebut membutuhkan kerja sama lintas sektor dan dukungan berkelanjutan. UNESCO siap membantu melalui pelatihan, peningkatan kapasitas, serta akses kolaborasi global,” jelas Kristof.

Lebih lanjut, UNESCO menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pengembangan geopark di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dukungan tersebut mencakup fasilitasi jaringan internasional, akses pendanaan, hingga penguatan advokasi agar geopark semakin dikenal luas.

Bagi Indonesia, keberhasilan ini memperkuat posisi sebagai salah satu negara dengan pengelolaan geopark terbaik di dunia. Selain menjaga kelestarian alam, keberadaan geopark juga terbukti mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui sektor pariwisata berbasis lingkungan.

Geopark seperti Rinjani, Toba, dan Ciletuh–Pelabuhanratu telah menjadi contoh bagaimana konservasi dapat berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi lokal. Masyarakat dilibatkan secara aktif, mulai dari pengelolaan wisata hingga pengembangan produk lokal yang berkelanjutan.

Dengan pencapaian ini, Indonesia diharapkan mampu terus mempertahankan standar tinggi dalam pengelolaan geopark sekaligus memperluas manfaatnya bagi masyarakat. Ke depan, tantangan yang ada justru menjadi peluang untuk memperkuat kolaborasi dan inovasi dalam menjaga warisan alam bangsa.

(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Jangan Terlewatkan Mendagri Tito: Kepala Daerah Perlu Pahami Manfaat Pengembangan Geopark 

Posting Komentar untuk "Tiga Geopark Indonesia Raih “Green Card” UNESCO, Pengakuan Dunia atas Komitmen Jaga Alam dan Pembangunan Berbasis Komunitas"