TKA 2026 Bikin Deg-degan, Kepala SMPN 2 Wates: Ini Ujian Nalar Sesungguhnya, Bukan Sekadar Hafalan!

Di SMP Negeri 2 Wates, TKA bukan sekadar ujian akhir, melainkan momentum untuk menguji daya nalar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau High Order Thinking Skills (HOTS). (Foto: BKHM Setjen Kemendikdasmen)
Editor: Endro Yuwanto

 
GEBRAK.ID; KULON PROGO – Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2026 jenjang SMP dan sederajat menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi ratusan siswa kelas IX di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Di SMP Negeri 2 Wates, TKA bukan sekadar ujian akhir, melainkan momentum untuk menguji daya nalar dan kemampuan berpikir tingkat tinggi atau High Order Thinking Skills (HOTS).

TKA 2026 digelar secara nasional pada 6–16 April 2026 dan terbagi dalam empat gelombang. SMPN 2 Wates mengikuti gelombang kedua pada 8–9 April 2026. Sebanyak 128 siswa kelas IX mengikuti ujian berbasis komputer di sekolah mereka sendiri.

Soal Cerita dan Waktu Jadi Tantangan

Sejumlah siswa mengaku lega setelah menyelesaikan TKA, meski rasa cemas menanti hasil yang rencananya diumumkan pada Mei 2026 masih menyelimuti.

Natasya, siswa kelas IX, menuturkan bahwa soal Matematika cukup menantang karena didominasi soal cerita dengan bacaan panjang. “Awalnya masih terasa mudah, tapi semakin ke belakang semakin sulit. Tidak semua bacaan langsung menjelaskan inti soal, jadi harus benar-benar dipahami,” ujarnya.

Hal serupa diungkapkan Sahda. Ia merasa waktu 75 menit untuk 30 soal Matematika kurang memadai. “Karena banyak soal yang butuh penalaran, jadi cukup menguras waktu. Bacaan panjang membuat kami harus ekstra fokus,” katanya.

Berbeda dengan Matematika, keduanya mengaku lebih nyaman mengerjakan Bahasa Indonesia. Mereka bahkan masih memiliki sisa waktu sekitar 15–20 menit sebelum waktu habis. “Soalnya relatif seimbang, ada yang mudah dan ada yang menantang,” tambah Sahda.

Sekolah Siapkan 43 Perangkat, Termasuk Pinjam Laptop Guru

Kepala SMPN 2 Wates, Budi Maheni, menyampaikan bahwa pelaksanaan TKA berjalan tertib dan lancar. Sekolah menyiapkan 43 unit perangkat, terdiri dari PC dan laptop. Sebanyak 28 laptop merupakan pinjaman dari guru.

“Kami juga menyewa genset untuk mengantisipasi pemadaman listrik. Semua persiapan dilakukan agar anak-anak bisa mengikuti TKA dengan optimal,” ujar Budi.

Menurut Budi, TKA menjadi kesempatan penting bagi siswa untuk menguji kemampuan berpikir tingkat tinggi, terutama dalam literasi membaca dan numerasi. Fokus ini sejalan dengan kebijakan nasional yang menekankan penguatan kompetensi dasar sebagai fondasi daya saing global.

Merujuk pada kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia, TKA terintegrasi dengan Asesmen Nasional (AN) yang juga mencakup survei karakter dan survei lingkungan belajar. Hasilnya akan menjadi bagian dari rapor pendidikan sekolah.

“TKA ini hanya menguji dua mata pelajaran, Matematika dan Bahasa Indonesia. Berbeda dengan ASPD di DIY yang menguji empat mata pelajaran utama. Keduanya saling melengkapi,” jelas Budi.

Sinergi TKA dan ASPD di DIY

Di DIY, siswa juga mengikuti Asesmen Standardisasi Pendidikan Daerah (ASPD). Budi menilai, ASPD memberi kedalaman materi pada Matematika, IPA, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, sementara TKA mempertajam nalar dan logika berpikir.

“ASPD memperkuat penguasaan substansi, TKA mengasah cara bernalar. Kombinasi keduanya membentuk profil lulusan yang tidak hanya cerdas akademik, tetapi juga tajam secara logika,” kata Budi.

Berdasarkan hasil tiga kali tryout tingkat kabupaten dan provinsi, SMPN 2 Wates menempati peringkat tiga terbaik se-Kulon Progo. Sekolah pun optimistis hasil TKA siswa akan memuaskan.

DIY sendiri selama ini dikenal sebagai “Kota Pelajar”. Sinergi antara kebijakan daerah dan nasional menjadi bagian dari upaya menjaga mutu pendidikan sekaligus mempertahankan reputasi tersebut.

Guru Diperkuat Pelatihan Deep Learning

Penguatan siswa tidak lepas dari peningkatan kapasitas guru. Sejumlah guru SMPN 2 Wates mengikuti Bimbingan Teknis (Bimtek) TKA yang diselenggarakan Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (BBGTK DIY).

Erma Wahyu Utami, guru Matematika, mengaku pelatihan tersebut sangat membantu. Ia juga mengikuti pelatihan pembelajaran mendalam (deep learning) melalui MGMP Kulon Progo.

“Deep learning membuat siswa memahami konsep, bukan sekadar menghafal rumus. Ini penting sebagai fondasi sejak kelas VII dan VIII. Saat kelas IX, mereka tinggal mengasah strategi menghadapi soal-soal yang menuntut HOTS,” jelas Erma.

Menurut Erma, tanpa pemahaman konsep yang kuat sejak awal, siswa akan kesulitan saat menghadapi soal yang menuntut penalaran cepat dan kritis.

Digitalisasi Sekolah: Papan Interaktif Bikin Belajar Lebih Seru

Transformasi pembelajaran di SMPN 2 Wates juga didukung perangkat digital. Sekolah menerima satu unit Papan Interaktif (Interactive Flat Panel/IFP).

Kirana Alfatikha Sari, siswa kelas VIII, mengaku sudah beberapa kali menggunakan IFP untuk berbagai mata pelajaran. “Belajar jadi lebih seru dan mudah dipahami,” katanya.

Sementara siswa kelas VII dan IX berharap jumlah perangkat ditambah agar lebih banyak kelas merasakan pembelajaran interaktif tersebut.

Digitalisasi pendidikan sejalan dengan arah kebijakan nasional yang mendorong pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran untuk meningkatkan kualitas dan pengalaman belajar siswa.

Menunggu Hasil, Menatap Masa Depan

Dengan berakhirnya TKA gelombang kedua, kini siswa tinggal menunggu pengumuman hasil pada Mei 2026. Bagi SMPN 2 Wates, TKA bukan hanya soal nilai, tetapi bagian dari proses membentuk generasi yang kritis, adaptif, dan siap bersaing di jenjang pendidikan berikutnya.

Di tengah dinamika kebijakan asesmen nasional dan otonomi daerah seperti ASPD di DIY, satu hal menjadi benang merah: pendidikan tak lagi sekadar menguji hafalan, melainkan menantang siswa untuk berpikir, memahami, dan memecahkan persoalan secara logis.

(BKHM Setjen Kemendikdasmen)

Posting Komentar untuk "TKA 2026 Bikin Deg-degan, Kepala SMPN 2 Wates: Ini Ujian Nalar Sesungguhnya, Bukan Sekadar Hafalan!"