![]() |
| Ilustrasi pelecehan seksual. (Foto ilustrasi: istimewa) |
GEBRAK.ID; INDRAMAYU – Skandal pelecehan seksual yang melibatkan oknum guru ekstrakurikuler di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memasuki babak baru. Hingga kini, tercatat 22 korban yang terdiri dari 19 siswa laki-laki dan 3 siswi tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP), namun angka tersebut diprediksi akan terus bertambah seiring pendalaman penyelidikan oleh kepolisian.
Anggota Komisi 2 DPRD Indramayu, Edi Fauzi, mengungkapkan kekhawatirannya setelah mengunjungi langsung salah satu rumah korban di Kecamatan Anjatan. Berdasarkan penelusuran di lapangan, ia menduga jumlah korban bisa mencapai puluhan orang, diduga masih banyak yang belum berani bersuara.
"Hasil komunikasi bisa diduga ini korbannya yang awalnya belasan ada puluhan atau lebih banyak. Kemungkinan masih ada yang belum berani melapor karena tekanan dan rasa takut," kata Edi dalam keterangannya pada Sabtu (25/4/2026) .
Intimidasi dan Kelalaian Sekolah
Dalam penelusurannya, Edi menemukan fakta mengejutkan bahwa para pelaku melakukan intimidasi terhadap korban agar tidak berani menjadi saksi. Kondisi ini mengakibatkan trauma mendalam bagi para penyintas yang mayoritas masih di bawah umur, sehingga membutuhkan perlindungan dan pendampingan psikologis ekstra.
Edi juga menyayangkan lambannya respons dari pihak sekolah saat laporan awal muncul. Kelalaian ini dinilai berakibat fatal karena memberikan waktu bagi pelaku untuk melarikan diri sebelum proses hukum dapat berjalan.
"Pelaku ini adalah guru, pembina OSIS, sekaligus pelatih bela diri. Dia punya banyak peran di sekolah sehingga memiliki akses luas kepada siswa. Kami sangat menyayangkan pihak sekolah tidak segera merespons sehingga pelaku keburu kabur," tegasnya .
Satu Ditangkap, Satu Masih DPO
Kasat Reskrim Polres Indramayu, AKP Muchammad Arwin Bachar, mengonfirmasi bahwa kasus ini terjadi di dua lokasi berbeda, yakni di Kecamatan Anjatan dan Kecamatan Haurgeulis.
Dari dua terduga pelaku yang telah dilaporkan, satu orang sudah berhasil diringkus oleh aparat kepolisian. Sementara itu, satu pelaku lainnya yang merupakan oknum guru di Anjatan kini telah resmi masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) setelah melarikan diri saat kasus ini mulai viral di media sosial.
"Saat ini pelakunya sedang kita lakukan pengejaran," tegas Arwin kepada wartawan .
Korban Didominasi Siswa Laki-laki
Kasus ini menjadi perhatian khusus karena para korban didominasi oleh siswa laki-laki. Dari 22 korban yang tercatat, 19 di antaranya adalah murid laki-laki. Pemerintah daerah melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) diminta segera turun tangan untuk memberikan pemulihan psikologis bagi para korban .
Pihak kepolisian mengimbau kepada masyarakat, terutama para orang tua yang mencurigai anaknya menjadi korban, untuk segera melapor ke pihak berwajib guna mempermudah proses penyelidikan dan penangkapan pelaku yang masih buron.
Kasus ini menjadi alarm keras bagi dunia pendidikan di Indramayu untuk memperketat pengawasan terhadap seluruh kegiatan ekstrakurikuler, demi menjamin keselamatan anak didik dari ancaman predator seksual yang menyusup ke lingkungan sekolah.
(berbagai sumber)

Posting Komentar untuk "Tragedi Pendidikan di Indramayu: 22 Siswa Jadi Korban Pencabulan Oknum Guru, Polisi Kejar Pelaku Buron"