![]() |
| Kemendiktisaintek ungkap fakta hanya 6 persen perguruan tinggi di Indonesia yang berakreditasi unggul. (Foto: Freepik) |
GEBRAK.ID; JAKARTA — Dunia pendidikan tinggi Indonesia tengah berada dalam kondisi yang memprihatinkan. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengungkapkan bahwa hanya enam persen perguruan tinggi di seluruh Indonesia yang berstatus "Unggul" atau terakreditasi A.
Direktur Kelembagaan Kemendiktisaintek, Mukhamad Najib, memaparkan bahwa dari total 4.416 perguruan tinggi yang terdaftar di Indonesia hingga akhir 2025 lalu, mayoritas justru menyandang status akreditasi "Baik" atau setara dengan akreditasi C.
"Kalau kita lihat dari sebaran data akreditasi perguruan tinggi dan akreditasi program studi di Indonesia sampai akhir 2025 kemarin itu, untuk perguruan tinggi yang terakreditasi Unggul itu hanya sekitar enam persen," ujar Najib dalam Forum Diskusi Denpasar 12 secara daring, Rabu (6/5/2026).
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa sebanyak 67 persen perguruan tinggi hanya memiliki akreditasi "Baik" atau C. Bahkan, kondisi ini tidak hanya terjadi pada level institusi, tetapi juga pada program studi.
Dari total 33.741 program studi di Indonesia, baru sekitar 22 persen yang terakreditasi Unggul. Sisanya berada di akreditasi Baik, C, bahkan tidak sedikit yang tidak terakreditasi sama sekali.
"Bahkan ada program studi yang tidak terakreditasi, yang menurut undang-undang tentu program studi yang tidak terakreditasi itu tidak memiliki hak untuk mengeluarkan ijazah," tegas Najib.
Akar Masalah: Relevansi Rendah dan Minimnya Lulusan STEM
Menurut Najib, akar permasalahan kualitas pendidikan tinggi ini bukan hanya soal angka di atas kertas, tetapi juga relevansi dengan kebutuhan industri. Ia menyoroti rendahnya jumlah lulusan di bidang Sains, Teknologi, Teknik, dan Matematika (STEM) yang baru mencapai 18,47 persen.
Angka ini terpaut jauh jika dibandingkan dengan negara-negara maju yang rata-rata memiliki lulusan STEM di atas 30 persen. Akibatnya, jumlah tenaga kerja terampil tinggi (highly-skilled worker) di Indonesia masih sangat minim.
"Kita sering mendengar, ketika ada investasi masuk kemudian industri baru terbuka, masyarakat kita hanya menjadi penonton, karena industri baru itu mendatangkan tenaga kerja dari luar negeri," keluh Najib.
Pejabat yang kerap mendampingi riset ini bahkan mencontohkan adanya pernyataan pejabat yang mengatakan bahwa SDM Indonesia tidak cukup memiliki keahlian untuk mengisi sektor-sektor industri baru. "Nah ini harus kita jawab bahwa industrialisasi kita itu bisa diisi oleh anak negeri," tegasnya.
Ancaman Bonus Demografi Berbalas Bencana
Ironisnya, saat kualitas pendidikan tinggi masih terpuruk, Indonesia justru sedang menghadapi puncak bonus demografi. Jika tidak diimbangi dengan perbaikan mutu perguruan tinggi secara masif, bonus demografi yang seharusnya menjadi keuntungan justru bisa menjadi bumerang besar.
"Kita ingin investasi itu berbuah. Karena itu kualitas pendidikan tinggi kita harus kita perbaiki secara berkelanjutan," ujar Najib.
Pemerintah melalui Kemendiktisaintek telah menyiapkan sejumlah langkah strategis, antara lain:
1. Meningkatkan relevansi kurikulum dengan kebutuhan industri agar lulusan siap pakai.
2. Memberikan insentif bagi program studi yang berhasil meningkatkan akreditasi ke Unggul.
3. Mendorong percepatan akreditasi bagi program studi yang belum terakreditasi.
4. Fokus pada peningkatan jumlah lulusan STEM hingga mendekati standar negara maju.
Najib menegaskan bahwa perbaikan ini harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Sebab, masa depan Indonesia sebagai negara maju sangat tergantung pada kualitas sumber daya manusianya saat ini.
(berbagai sumber)

Posting Komentar untuk "Fakta Memprihatinkan Akreditasi Perguruan Tinggi di Indonesia: Hanya 6 Persen Kategori Unggul! "