Kemendikdasmen Luncurkan Kelas SMK 3+1: Siapkan Lulusan Kerja ke Jepang hingga Eropa

Kemendikdasmen melalui Direktorat Sekolah Menengah Kejuruan meluncurkan program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) sebagai program strategis untuk menyiapkan tenaga kerja migran Indonesia yang sesuai kebutuhan pasar global serta perluasan kebekerjaan lulusan SMK di luar negeri di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/5/2026). (Foto:  Humas Kemendikdasmen)

Editor: Devona R 

GEBRAK.ID; SURABAYA — Pemerintah mulai serius membuka jalan bagi lulusan SMK agar mampu bersaing di pasar kerja internasional. Melalui program baru bernama Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1), Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyiapkan generasi muda Indonesia agar siap bekerja di luar negeri dengan bekal bahasa, mental, hingga pemahaman hukum ketenagakerjaan internasional.

Program strategis tersebut resmi diluncurkan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (20/5/2026).

Peluncuran program dilakukan bersamaan dengan pelepasan 3.000 lulusan SMK dan 600 lulusan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) yang akan bekerja di luar negeri.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kemendikdasmen, Tatang Muttaqin, mengatakan program tersebut menjadi langkah strategis untuk menjawab kebutuhan tenaga kerja global yang terus meningkat.

“Mobilitas tenaga kerja global saat ini berkembang sangat cepat. Dunia pendidikan vokasi harus mampu beradaptasi agar lulusan SMK memiliki daya saing internasional,” ujar Tatang dalam keterangannya.

Tambahan Satu Tahun Khusus Persiapan Kerja ke Luar Negeri

Berbeda dengan pola pendidikan SMK pada umumnya, program 3+1 memberikan tambahan masa belajar selama satu tahun. Selama tiga tahun pertama, siswa tetap mengikuti kurikulum nasional reguler. Sedangkan satu tahun tambahan difokuskan pada penguatan keterampilan kerja luar negeri.

Para siswa akan mendapatkan pelatihan bahasa asing, budaya kerja negara tujuan, pemahaman hukum ketenagakerjaan internasional, hingga edukasi terkait hak dan perlindungan pekerja migran Indonesia.

Menurut Tatang, pembekalan tersebut penting agar lulusan SMK tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu beradaptasi dengan lingkungan baru.

“Bekerja di luar negeri bukan sekadar mencari pekerjaan. Mereka juga membawa nama baik bangsa. Karena itu, kesiapan mental, kemampuan bahasa, hingga pemahaman hukum harus benar-benar matang,” katanya.

Saat ini, program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) telah diterapkan di sedikitnya 49 SMK di berbagai daerah di Indonesia. Pemerintah berharap program tersebut dapat memperluas peluang kerja lulusan SMK sekaligus meningkatkan reputasi tenaga kerja Indonesia di dunia internasional.

Mendikdasmen Abdul Mu’ti: Lulusan SMK Harus Siap Bersaing Global

Menteri Abdul Mu'ti menegaskan bahwa pengembangan SMK ke depan tidak lagi hanya berorientasi pada kebutuhan industri dalam negeri, tetapi juga pasar internasional.

Menurutnya, negara memiliki tanggung jawab menyiapkan generasi muda agar memperoleh kehidupan yang layak melalui akses pekerjaan yang lebih luas.

“Program ini merupakan bagian dari upaya pemerintah memenuhi hak konstitusi warga negara untuk mendapatkan pekerjaan dan kehidupan yang layak,” ujar Abdul Mu’ti.

Abdul Mu'ti menilai pendidikan vokasi harus mampu menjadi solusi nyata terhadap tantangan pengangguran usia produktif sekaligus memperkuat daya saing Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.

Sekolah Sambut Antusias, Persiapan Mental Jadi Sorotan

Program tersebut mendapat sambutan positif dari sejumlah sekolah vokasi. Kepala SMKS Muhammadiyah 1 Malang, Kusdarmadi, mengatakan tambahan satu tahun pembelajaran sangat dibutuhkan karena persiapan kerja luar negeri tidak cukup hanya mengandalkan pendidikan reguler tiga tahun.

“Persiapan bahasa, adaptasi budaya, hingga kedisiplinan kerja memang membutuhkan waktu lebih panjang,” ujar Kusdarmadi.

Kusdarmadi menjelaskan sekolahnya bahkan menggandeng TNI untuk melatih fisik dan kedisiplinan siswa. Selain itu, pihak sekolah juga bekerja sama dengan tim psikologi untuk memperkuat mental siswa sebelum diberangkatkan ke luar negeri.

Sejak 2019, sekolah tersebut telah mengirim lulusan ke Jepang di berbagai sektor pekerjaan seperti pertanian, industri manufaktur, hingga caregiver.

Hal senada disampaikan Kepala SMKN 1 Buduran, Agustina. Menurutnya, minat siswa untuk bekerja di luar negeri terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.

“Dengan program ini, sekolah bisa menyiapkan siswa lebih awal sejak kelas 10. Ini menjadi solusi penting untuk meningkatkan kebekerjaan lulusan SMK,” kata Agustina.

Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) diharapkan menjadi salah satu terobosan pemerintah dalam mencetak tenaga kerja muda Indonesia yang kompetitif, profesional, dan siap bersaing di tingkat global.

(Sumber: Humas Kemendikdasmen)