Editor: Devona R
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti. (Foto: Humas Kemendikdasmen)
GEBRAK.ID; JAKARTA – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu'ti, menyoroti budaya perankingan akademik di sekolah yang dinilai berpotensi memicu perundungan di kalangan siswa. Menurutnya, lingkungan pendidikan seharusnya menjadi ruang aman, nyaman, dan inklusif bagi seluruh peserta didik, bukan tempat munculnya tekanan sosial akibat perbandingan nilai maupun prestasi.
Hal itu disampaikan Abdul Mu’ti dalam Seminar Budaya Sekolah Aman dan Nyaman yang digelar di Gedung A Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).
Dalam paparannya, Mendikdasmen menegaskan keamanan di sekolah bukan hanya soal kondisi fisik, tetapi juga menyangkut keamanan sosial dan psikologis siswa selama mengikuti proses belajar mengajar.
“Aman itu juga aman secara sosial dan aman secara psikologis. Sering kali kita melihat sekolah-sekolah kita secara sosial belum cukup aman,” ujar Abdul Mu’ti.
Menurut Abdul Mu'ti, salah satu persoalan yang masih sering muncul di lingkungan pendidikan adalah kebiasaan membandingkan kemampuan akademik antarsiswa. Kondisi tersebut dinilai dapat memunculkan tekanan mental hingga menjadi pemicu tindakan perundungan.
Ranking Akademik Dinilai Bisa Timbulkan Tekanan Sosial
Abdul Mu’ti mencontohkan bagaimana komentar sederhana terkait kemampuan siswa dapat berdampak buruk terhadap kondisi psikologis anak.
“Misalnya yang sudah besar tidak bisa mengerjakan soal yang kecil, lalu muncul komentar ‘yang gede kok enggak bisa, yang kecil saja bisa’. Itu kan tidak sehat,” kata Abdul Mu'ti.
Abdul Mu'ti menilai budaya kompetisi yang terlalu menonjolkan ranking dan angka sering kali membuat siswa merasa rendah diri, tertekan, bahkan menjadi sasaran ejekan teman sebaya.
Karena itu, Mendikdasmen menekankan pentingnya perubahan pendekatan pendidikan di sekolah, terutama dalam cara guru membangun suasana belajar yang sehat dan saling menghargai.
Menurutnya, guru memiliki peran penting dalam mengubah cara pandang siswa terhadap proses belajar, termasuk dalam memahami hasil akademik seperti nilai dan peringkat kelas.
Deep Learning Jadi Pendekatan Baru Pendidikan
Abdul Mu’ti menjelaskan perubahan pola pembelajaran tersebut kini mulai diarahkan melalui kebijakan deep learning yang tengah dikembangkan Kemendikdasmen.
Mendikdasmen menyebut konsep utama dalam pendekatan deep learning adalah memuliakan seluruh pihak yang terlibat dalam proses pendidikan, baik guru maupun siswa.
“Cara kita menyampaikan pengetahuan tidak bisa dilepaskan dari nilai dan penghormatan kepada murid. Semua harus dimuliakan,” ujar Abdul Mu'ti.
Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan budaya sekolah yang lebih manusiawi, suportif, dan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik semata.
Selain itu, konsep pembelajaran mendalam atau deep learning juga dinilai penting untuk membangun karakter siswa, meningkatkan empati, serta mengurangi potensi konflik sosial di lingkungan sekolah.
Pemerintah kini terus mendorong terciptanya sekolah aman dan nyaman sebagai bagian dari penguatan pendidikan karakter di Indonesia.
(Sumber: Kemendikdasmen/Antara)