![]() |
| Yustina, guru honorer di Sikka NTT. ( Foto: istimewa) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID;Sikka, NTT – Potret buram kesejahteraan guru kembali mencuat dari pelosok negeri. Seorang guru honorer di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), harus bertahan hidup dengan gaji hanya Rp150 ribu per bulan yang bersumber dari iuran orang tua siswa.
Guru tersebut diketahui bernama Yustina Yuniarti (30 tahun), yang telah mengabdikan diri selama lebih dari satu dekade di Sekolah Dasar Katolik (SDK) Wukur, Desa Sikka, Kecamatan Lela.
Dalam kesehariannya, Yustina harus berjalan kaki sejauh kurang lebih 6 kilometer menuju sekolah yang berada di wilayah terpencil dengan akses sulit. Perjalanan itu ditempuh selama sekitar dua jam melewati jalan berbatu, bukit, dan lembah.
“Beginilah aktivitas saya setiap pagi selama 11 tahun, harus jalan kaki ke sekolah demi masa depan anak negeri,” ujar Yustina saat ditemui di sela perjalanan menuju sekolah, Kamis (30/4/2026) dikutip dari kaddes.net.
Gaji dari Iuran Komite Sekolah
Mirisnya, penghasilan yang diterima Yustina jauh dari kata layak. Ia hanya memperoleh sekitar Rp150 ribu per bulan yang berasal dari iuran komite sekolah atau orang tua siswa, bukan dari anggaran pemerintah.
Kondisi ini juga dialami oleh sejumlah guru honorer lainnya di sekolah tersebut. Dari total delapan tenaga pendidik, hanya satu yang berstatus aparatur sipil negara (ASN), sementara sisanya masih honorer dengan penghasilan minim.
Yustina mengungkapkan, pada awal mengajar pada 2015 lalu, dirinya bahkan hanya menerima bayaran Rp15 ribu per bulan dan kerap tidak dibayar sama sekali.
“Awal jadi guru tahun 2015 lalu, saya dibayar Rp15 ribu, bahkan kadang tidak dibayar,” tuturnya.
Mengajar di Tengah Keterbatasan
SDK Wukur merupakan satu-satunya sekolah dasar di wilayah Dusun Wukur dengan jumlah siswa sekitar 34 orang. Sekolah ini berada di daerah terpencil yang minim fasilitas, termasuk akses jalan dan jaringan komunikasi.
Meski demikian, Yustina tetap menjalankan tugasnya sebagai pendidik dengan penuh dedikasi. Ia mengajar mata pelajaran Bahasa Indonesia dan terus bertahan demi memberikan pendidikan bagi anak-anak di daerah tersebut.
Harapan untuk Pemerintah
Di tengah keterbatasan yang dihadapi, Yustina berharap pemerintah dapat lebih memperhatikan nasib guru honorer di daerah terpencil.
“Bapak Presiden tolong perhatikan nasib kami guru honorer di pedalaman yang menerima gaji dari belas kasihan komite sekolah,” kata Yustina dalam kesempatan wawancara tersebut.
Ia juga berharap adanya kebijakan pengangkatan guru honorer menjadi ASN serta pembangunan fasilitas penunjang seperti rumah dinas guru agar para pendidik tidak perlu menempuh perjalanan jauh setiap hari.
Kisah Yustina menjadi gambaran nyata tantangan dunia pendidikan di daerah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar), sekaligus pengingat bahwa pemerataan kesejahteraan guru masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah.
(berbagai sumber)

Posting Komentar untuk "Pilu Guru di Sikka NTT: Digaji Rp150 Ribu dari Iuran Orang Tua, Rela Jalan Kaki 6 Km demi Mengajar"