Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID; JAKARTA---Pernahkah Anda membayangkan bagaimana rasanya "melihat" mimpi seseorang? Bagi para ilmuwan yang mempelajari gurita, hal ini mungkin bukan lagi fiksi ilmiah. Makhluk laut yang dikenal super cerdas ini menyimpan rahasia menakjubkan di balik kelopak matanya yang terpejam: kulit mereka yang berubah warna diduga kuat sebagai layar yang menayangkan alam mimpi.
Lantas, apakah gurita benar-benar bisa bermimpi? Dan jika iya, apa yang mereka lihat dalam tidurnya? Mari kita selami temuan ilmiah terbaru tentang "mimpi berwarna" gurita.
Siklus Tidur Dua Fase: Mirip Manusia
Untuk waktu yang lama, para ilmuwan beranggapan bahwa tidur dengan dua fase yang berbeda (tenang dan aktif) hanya dimiliki oleh burung dan mamalia, termasuk manusia. Namun, sebuah terobosan besar di tahun 2021 mengubah pandangan itu.
Sekelompok peneliti di Brasil mengamati gurita biasa (Octopus vulgaris) dan menemukan bahwa mereka memiliki siklus tidur dua tahap yang bergantian secara teratur.
· Tidur Tenang (Quiet Sleep): Pada tahap ini, gurita tampak pucat pasi, diam, dan pupil matanya menyempit seperti garis lurus.
· Tidur Aktif (Active Sleep): Fase inilah yang paling menarik. Sekitar setiap 30-40 menit, gurita akan memasuki fase ini selama kurang lebih satu menit. Kulitnya yang tadinya pucat tiba-tiba berubah menjadi gelap, bertekstur, dan memancarkan cincin warna cemerlang, sementara tentakel dan matanya bergerak-gerak aktif.
Perlambang Mimpi di Atas Kulit
Fenomena tidur aktif pada gurita ini semakin kuat kaitannya dengan mimpi setelah penelitian dipublikasikan di jurnal terkemuka Nature pada tahun 2023. Dalam studi tersebut, tim dari Okinawa Institute of Science and Technology (OIST) Jepang melakukan pengukuran aktivitas listrik otak gurita (Octopus laqueus) secara langsung.
Hasilnya mencengangkan: Aktivitas gelombang otak selama tidur aktif ternyata sangat mirip dengan saat mereka terjaga. Ini adalah analogi langsung dengan fase Rapid Eye Movement (REM) pada manusia, yaitu fase di mana mimpi paling intens terjadi.
Lebih lanjut, penelitian ini mengonfirmasi bahwa perubahan warna kulit bukanlah gerakan acak. Kulit gurita yang bermuatan pigmen (chromatophores) itu berkedip dalam pola yang sama persis seperti ketika mereka sedang berburu atau bersembunyi dari predator.
"Ini seperti layar monitor," jelas Dr. Sam Reiter, penulis senior studi tersebut, "Jika pada manusia kita harus menanyakan apa yang mereka mimpikan setelah bangun, pada gurita, pola kulit mereka bertindak sebagai pembacaan visual dari aktivitas otak mereka selama tidur".
Apakah Gurita Bisa Mimpi Buruk?
Jika pola warna positif bisa muncul, bagaimana dengan mimpi buruk?
Satu studi kasus yang menarik datang dari pengamatan terhadap seekor gurita jantan (Octopus insularis) di The Rockefeller University. Para peneliti melihat momen mengejutkan ketika gurita itu tiba-tiba terbangun dari tidurnya sambil menyemprotkan tinta dan mengayunkan tubuhnya, persis seperti gerakan menghindari serangan predator.
Meskipun studi ini masih dalam tahap pracetak (belum ditinjau sejawat), para ilmuwan berspekulasi bahwa ini adalah bukti awal adanya parasomnia pada cephalopoda atau dalam istilah awam adalah mimpi buruk. Mereka menduga gurita itu "memutar ulang" ingatan tentang pertemuannya dengan musuh di alam liar.
Evolusi Konvergen Kecerdasan
Mengapa hal ini penting? Karena gurita dan manusia adalah makhluk yang sangat jauh secara evolusi. Nenek moyang terakhir kita hidup sekitar 750 juta tahun lalu. Namun, secara independen, kita mengembangkan struktur otak kompleks yang menghasilkan fenomena tidur REM yang mirip.
"Fakta bahwa tidur dua tahap telah berevolusi secara independen pada makhluk yang berkerabat jauh menunjukkan bahwa memiliki tahap aktif seperti bangun mungkin merupakan ciri umum dari kognisi yang kompleks," ujar Leenoy Meshulam, fisikawan dari University of Washington yang terlibat dalam studi Nature tersebut.
Mimpi atau Hanya Memori?
Walaupun bukti sangat kuat mengarah pada "mimpi", para ilmuwan tetap berhati-hati. Ada hipotesis lain yang menyebutkan bahwa tayangan warna di kulit gurita saat tidur hanyalah bentuk "latihan otomatis" (rehearsal) atau perawatan jaringan saraf motorik, tanpa disertai narasi visual seperti mimpi manusia.
Profesor Sidarta Ribeiro, salah satu pelopor penelitian ini, mengakui hal tersebut. "Ada lebih banyak pekerjaan yang harus dilakukan sebelum kita dapat mengatakan dengan pasti bahwa gurita bermimpi," katanya.
Namun, para ilmuwan sepakat pada satu hal: aktivitas otak yang kompleks selama tidur ini menunjukkan ada "sesuatu" yang sangat penting terjadi, sebuah mekanisme yang melindungi ingatan dan kelangsungan hidup makhluk cerdas ini, baik di darat maupun di laut.
Gurita tidak hanya tidur, mereka mengalami tidur aktif yang kompleks. Meskipun kita belum bisa bertanya langsung kepada mereka tentang mimpinya, perubahan warna kulit mereka yang dramatis memberikan petunjuk visual paling jelas yang pernah ditemukan sains tentang isi mimpi hewan.
Apakah itu memori tentang karang tempat mereka bersembunyi, atau mimpi mengejar kepiting, satu hal yang pasti: dunia tidur gurita jauh lebih berwarna dari yang kita bayangkan.
(berbagai sumber)

Posting Komentar untuk "Rahasia Tidur Gurita: Kulit Berwarna-warni Pertanda Mereka Sedang Bermimpi?"