Alarm Ekonomi Berbunyi, Rupiah Terkoreksi ke Rp17.725 Usai Ancaman Tarif Impor AS

Mata uang Indonesia ditutup melemah 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp17.725 per dolar Amerika Serikat (AS), di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap rencana kebijakan tarif impor baru dari pemerintah AS. (Foto: AI) 
Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID; JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan pada penutupan perdagangan Selasa (16/6/2026). Mata uang Indonesia ditutup melemah 16 poin atau 0,09 persen ke level Rp17.725 per dolar Amerika Serikat (AS), di tengah meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap rencana kebijakan tarif impor baru dari pemerintah AS.

Pelemahan rupiah dipicu oleh munculnya rencana penerapan tarif tambahan terhadap sejumlah produk Indonesia yang masuk ke pasar Amerika Serikat. Kebijakan tersebut dinilai dapat mengurangi daya saing produk nasional sekaligus meningkatkan risiko perlambatan ekspor manufaktur.

Analis mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menjelaskan bahwa pasar merespons negatif rencana penerapan tarif berbasis Pasal 301 Trade Act 1974 yang dijadwalkan mulai berlaku secara bertahap pada 24 Juli 2026.

Saat ini produk Indonesia telah dikenai tarif global sebesar 10 persen. Namun pemerintah memperkirakan besaran tarif dapat meningkat hingga 18 persen setelah investigasi mengenai dugaan kelebihan kapasitas produksi (excess capacity) selesai dilakukan.

Jika kebijakan tersebut benar-benar diterapkan, sejumlah sektor andalan Indonesia seperti industri alas kaki, tekstil, pakaian jadi, mesin listrik, dan aksesori diperkirakan akan menghadapi tekanan permintaan dari pasar Amerika Serikat.

Pasar Amerika Masih Sangat Penting

Amerika Serikat masih menjadi salah satu tujuan ekspor nonmigas terbesar Indonesia. Nilai ekspor ke negara tersebut mencapai 14,79 miliar dolar AS pada periode Januari–Juni 2025 atau sekitar 11,52 persen dari total ekspor nonmigas nasional.

Besarnya kontribusi tersebut membuat setiap perubahan kebijakan perdagangan AS berpotensi memberikan dampak langsung terhadap pertumbuhan industri, investasi, hingga penyerapan tenaga kerja di dalam negeri.

Sentimen Global Masih Beragam

Di tengah tekanan perang dagang, pasar global justru memperoleh sentimen positif setelah adanya kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran untuk meredakan konflik serta membuka kembali jalur pelayaran Selat Hormuz.

Perkembangan tersebut membuat harga minyak dunia turun ke level terendah dalam tiga bulan terakhir sehingga meredakan kekhawatiran inflasi global. Kondisi ini ikut meningkatkan optimisme investor terhadap aset berisiko, meski ketidakpastian geopolitik masih membayangi.

Investor Menunggu Keputusan The Fed

Pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan juga diperkirakan dipengaruhi keputusan bank sentral utama dunia.

Bank Sentral Jepang telah menaikkan suku bunga menjadi 1 persen, sementara Bank Cadangan Australia memilih mempertahankan suku bunga acuannya di level 4,35 persen.

Fokus investor kini tertuju pada pengumuman kebijakan Federal Reserve (The Fed) dan Bank of England. Pernyataan pejabat The Fed mengenai arah suku bunga diperkirakan menjadi faktor penting yang menentukan pergerakan dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Prospek Rupiah

Pengamat menilai nilai tukar rupiah masih akan bergerak fluktuatif selama ketidakpastian perdagangan global belum mereda. Di sisi lain, penguatan fundamental ekonomi domestik, diversifikasi pasar ekspor, serta stabilitas inflasi menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan investor terhadap aset Indonesia.

Dengan kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan tetap berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi dalam jangka pendek.

(berbagai sumber)