Editor: A. Rayyan K
Presiden Iran Masoud Pezeshkian. (Foto:irangov.ir)
GEBRAK.ID; TEHERAN – Harapan baru bagi hubungan Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai terlihat setelah kedua negara menyepakati sebuah nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) sebagai langkah awal menuju penyelesaian sengketa nuklir yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Berdasarkan dokumen yang dipublikasikan kantor berita resmi Iran, IRNA, Amerika Serikat menyatakan komitmennya untuk menghapus berbagai sanksi terhadap Iran apabila perjanjian damai final berhasil disepakati oleh kedua belah pihak.
Dalam isi MoU tersebut disebutkan bahwa Washington akan mencabut seluruh bentuk sanksi, termasuk yang diberlakukan melalui Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Dewan Gubernur Badan Energi Atom Internasional (IAEA), hingga sanksi sepihak AS, baik yang bersifat primer maupun sekunder.
"Amerika Serikat berkomitmen untuk mengakhiri semua jenis sanksi terhadap Iran dalam jangka waktu yang disepakati para pihak sebagai bagian dari perjanjian akhir," demikian bunyi salah satu poin dalam dokumen yang dikutip IRNA, Kamis (18/6/2026).
Kesepakatan tersebut menjadi fondasi awal bagi proses negosiasi lanjutan yang dijadwalkan berlangsung selama 60 hari setelah penandatanganan MoU. Dalam periode itu, kedua negara akan merumuskan perjanjian komprehensif yang diharapkan mampu mengakhiri berbagai persoalan terkait program nuklir Iran.
Meski demikian, dokumen tersebut juga membuka peluang bagi Iran dan AS untuk memperpanjang masa perundingan apabila dibutuhkan. Ketentuan itu tertuang dalam salah satu pasal MoU yang memberikan fleksibilitas kepada kedua pihak demi mencapai kesepakatan yang dapat diterima bersama.
Di sisi lain, Iran kembali menegaskan sikap resminya terkait program nuklir nasional. Pemerintah Teheran menyatakan tidak memiliki niat untuk memproduksi maupun memperoleh senjata nuklir.
"Iran menegaskan kembali bahwa negara tidak akan memproduksi atau memperoleh senjata nuklir," demikian isi pernyataan yang tercantum dalam memorandum tersebut.
Selain komitmen mengenai sanksi dan senjata nuklir, kedua negara juga sepakat menyelesaikan persoalan material nuklir Iran di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Keterlibatan lembaga tersebut dinilai penting untuk memastikan seluruh proses berjalan secara transparan dan sesuai standar internasional.
Jika implementasi MoU berjalan sesuai rencana, kesepakatan ini berpotensi menjadi salah satu terobosan diplomatik terbesar dalam hubungan Washington dan Teheran dalam beberapa tahun terakhir. Penghapusan sanksi diyakini dapat memberikan dampak signifikan terhadap pemulihan ekonomi Iran, sementara penyelesaian isu nuklir diharapkan mampu meredakan ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Meski demikian, berbagai tahapan negosiasi masih harus dilalui sebelum komitmen yang tertuang dalam MoU benar-benar diwujudkan dalam perjanjian final yang mengikat secara hukum.
(Sumber: Sputnik/RIA Novosti-OANA)