![]() |
| Ilustrasi tentara AS. ( Foto: freepik) |
Editor: Devona R
GEBRAK.ID, Washington D.C. - Beban anggaran perang Amerika Serikat melawan Iran terus membengkak. Kementerian Pertahanan AS (Pentagon) dilaporkan akan meminta persetujuan Kongres untuk anggaran tambahan sebesar US$ 80 miliar atau setara Rp1.428 triliun guna menutup biaya operasi militer di Iran dan berbagai pengeluaran pertahanan lainnya.
Permintaan dana jumbo itu disampaikan langsung oleh Wakil Menteri Pertahanan AS, Stephen Feinberg, kepada para anggota Kongres dalam serangkaian percakapan telepon pada pekan ini, sebagaimana dilaporkan oleh media terkemuka AS, The Wall Street Journal, yang mengutip sejumlah sumber yang mengetahui diskusi anggaran tersebut.
Ancaman Kehabisan Dana Operasional
Para pemimpin Pentagon telah memperingatkan bahwa militer AS berisiko kehabisan dana untuk operasi dalam beberapa bulan mendatang, kecuali Kongres segera mengesahkan rencana anggaran masa perang yang baru . Kondisi ini dikhawatirkan dapat memaksa militer AS mengurangi pelatihan dan pengerahan pasukan, termasuk di sepanjang perbatasan AS-Meksiko sebagai bagian dari penindakan keras terhadap imigrasi.
Menurut laporan, sebagian dari dana US$80 miliar tersebut akan dialokasikan untuk kebutuhan amunisi, pembayaran gaji personel, dan operasional kapal-kapal militer. Selain itu, permintaan anggaran ini juga disebut akan mencakup sejumlah prioritas non-pertahanan, seperti bantuan untuk sektor pertanian dan penanganan bencana.
Perdebatan Angka Biaya Perang
Angka pasti yang telah dikeluarkan AS untuk perang dengan Iran masih menjadi perdebatan sengit di parlemen. Sebelumnya pada April lalu, seorang pejabat Pentagon memberikan estimasi resmi pertama kepada Reuters, menyebut bahwa perang Iran telah menghabiskan sekitar US$25 miliar atau sekitar Rp445 triliun . Namun angka tersebut dianggap sebagai estimasi awal karena total biaya keseluruhan belum diketahui secara pasti.
Bahkan pada bulan Maret, para pejabat Pentagon sempat memberi tahu Kongres bahwa perang tersebut menelan biaya US$11,3 miliar dalam enam hari pertama . Angka ini jauh lebih kecil daripada US$200 miliar yang awalnya diminta oleh pemerintahan Trump untuk perang tersebut.
Sementara itu, Direktur Anggaran Gedung Putih Russell Vought dalam sebuah dengar pendapat di Komite Anggaran DPR AS pada April lalu, mengaku belum memiliki estimasi pasti soal biaya perang tersebut. Pernyataan itu disampaikan Vought saat mempertahankan permintaan Presiden Trump atas anggaran militer tahunan senilai US$1,5 triliun .
Biaya Tersembunyi dan Dampak Ekonomi
Para pemimpin Partai Demokrat dan sejumlah ekonom meyakini bahwa perkiraan resmi Pentagon merupakan angka yang jauh lebih rendah dari biaya sebenarnya. Mereka menyebut biaya riil bagi perekonomian AS dan 330 juta penduduknya bisa mencapai antara US$630 miliar hingga US$1 triliun.
Ekonom dari Universitas Harvard, Linda Bilmes, yang terbiasa menghitung ongkos perang, menyebut AS bisa mengeluarkan dana hingga US$1 triliun atau setara Rp17 ribu triliun . Biaya itu mencakup ketidakseimbangan anggaran secara langsung, seperti rudal pencegat AS senilai US$4 juta yang digunakan untuk menjatuhkan drone Iran yang hanya berharga US$30.000 untuk diproduksi.
Lebih jauh lagi, biaya perawatan kesehatan veteran juga menjadi faktor signifikan. Pengerahan puluhan ribu pasukan AS ke wilayah konflik membuat mereka terpapar bahaya yang akan membutuhkan kompensasi cacat jangka panjang dan perawatan medis, yang secara historis dapat menelan biaya ratusan miliar dolar.
Konflik dan Respons Politik
Perang yang dikobarkan oleh AS dan Israel di Timur Tengah pada 28 Februari lalu, telah memicu dampak yang dirasakan secara global . Kesepakatan untuk mengakhiri perang telah dicapai oleh Washington dan Teheran, namun menghadapi tekanan setelah Tel Aviv terus menggempur Lebanon dan pembicaraan di Swiss ditunda.
Beberapa anggota Kongres AS menyatakan mereka tidak akan memberikan suara untuk mendukung pendanaan tambahan, kecuali konflik tersebut mendapatkan izin resmi dari kongres . Partai Demokrat menuduh Trump melanggar Konstitusi AS dengan memulai perang tanpa dukungan Kongres.
Di tengah tekanan fiskal ini, Presiden Trump menghadapi kecaman dari warga dan pejabat Washington yang menuduhnya menghabiskan miliaran dolar uang pajak untuk konflik Timur Tengah, sementara harga minyak dan inflasi meroket di AS. Permintaan anggaran tambahan ini diperkirakan akan memicu perdebatan sengit di Kongres, di mana Partai Republik berupaya mempertahankan kendali dalam pemilu paruh waktu pada November mendatang.
( berbagai sumber)
