BMKG Buka Suara Soal Viral Sesar Kendeng: Potensi Gempa M 7, Warga Diharap Tak Panik

 

Ilustrasi gempa bumi. ( Foto: National Geographic) 


Editor: Devona R

GEBRAK.ID, Malang – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan klarifikasi resmi terkait isu yang viral di media sosial mengenai potensi gempa bumi dahsyat berkekuatan Magnitudo 7 yang dipicu oleh aktivitas Sesar Kendeng di Pulau Jawa. BMKG membenarkan adanya potensi tersebut berdasarkan kajian ilmiah, namun menekankan agar masyarakat tidak panik dan lebih fokus pada upaya mitigasi bencana.

Kabar mengenai potensi gempa ini ramai diperbincangkan di platform Threads, di mana seorang pengguna mengaitkan gempa Palu dengan potensi dampak di Bojonegoro serta menyebut Sesar Kendeng dapat memicu gempa darat hingga M 7 .

Penjelasan BMKG: Skenario Terburuk Berbasis Data

Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Malang, Ricko Kardoso, menjelaskan bahwa potensi gempa M 7 dari Sesar Kendeng memang mengacu pada data terbaru dalam Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) 2024. Dalam kajian tersebut, Sesar Kendeng, bersama dengan Sesar Baribisa dan Sesar Semarang, kini diklasifikasikan dalam satu sistem besar bernama Java Back-arc Thrust .

"Magnitudo tertarget dalam PuSGeN 2024 yang dimungkinkan terjadi sebagai skenario terburuk dari tiap segmen sesar aktif di segmen tersebut bervariasi, Magnitudo enam sampai tujuh," ujar Ricko kepada detikJatim, Jumat (19/6/2026) .

Meskipun potensi ini nyata, Ricko menegaskan bahwa angka tersebut adalah skenario pemodelan dan bukan prediksi waktu kejadian. "Namun kita jangan menjadi panik dengan angka-angka tersebut, tapi marilah kita meningkatkan kapasitas kita dengan mengetahui langkah-langkah apa yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan setelah kejadian gempa bumi," tegasnya. 

BMKG juga menekankan bahwa hingga saat ini belum ada teknologi yang dapat memprediksi secara pasti kapan, di mana, dan berapa besar magnitudo sebuah gempa akan terjadi. 

Mengenal Sesar Kendeng: Patahan Aktif dengan Pergerakan Lambat

Sesar Kendeng merupakan jalur patahan aktif yang membentang sepanjang kurang lebih 300 kilometer di bagian utara Pulau Jawa, dari selatan Semarang di Jawa Tengah hingga ke wilayah Jawa Timur. Jalur sesar ini terbagi menjadi enam segmen utama yang melintasi sejumlah kota padat penduduk, yakni Segmen Demak, Segmen Purwodadi, Segmen Cepu, Segmen Blumbang (Lamongan), Segmen Surabaya, dan Segmen Waru (Sidoarjo). 

Secara administratif, jalur ini meliputi Salatiga, Grobogan, Blora, Madiun, Nganjuk, Jombang, Bojonegoro, Lamongan, Mojokerto, Sidoarjo, hingga Kota Surabaya. 

Ricko menjelaskan bahwa Sesar Kendeng dikategorikan sebagai sesar dengan pergerakan yang sangat lambat, sekitar 5 milimeter per tahun. Hal ini menyebabkan siklus pengulangan gempa besar memakan waktu hingga ratusan tahun. 

"Karena itu, gempa besar merusak atau destructive earthquake akibat sesar ini sebagian besar tercatat dalam sejarah masa lalu," imbuhnya. 

Catatan Sejarah Gempa Sesar Kendeng

Ricko membeberkan sejumlah catatan sejarah gempa merusak yang disebabkan oleh Sesar Kendeng. Di antaranya adalah gempa yang melanda Mojokerto dan Ploso, Jombang pada tahun 1836-1837 dengan estimasi kekuatan M 6-7, serta gempa di Madiun pada tahun 1862 dan 1915, dan gempa kuat di Surabaya pada tahun 1867 .

Kondisi Terkini dan Klarifikasi Isu Viral

Terkait isu yang mengaitkan gempa Palu dengan potensi gempa di Bojonegoro, BMKG dan pakar geologi memberikan klarifikasi. Pakar Geologi ITS, Dr. Ir. Amien Widodo, menegaskan bahwa posisi Palu yang berada di Sulawesi sangat jauh dari Pulau Jawa dan arah pergerakan sesarnya tidak segaris dengan Jawa, sehingga tidak ada kaitan langsung. 

Lebih lanjut, BMKG memastikan bahwa hingga saat ini kondisi Sesar Kendeng, termasuk di wilayah Bojonegoro, masih dalam status normal. "Kami terus memonitor, hingga saat ini masih dalam kondisi normal dan tidak ada lonjakan aktivitas seismik di Java Back-arc Thrust (JBT)," jelas Ricko . Dalam beberapa tahun terakhir, aktivitas seismik yang terdeteksi di sepanjang jalur sesar ini hanya berupa gempa-gempa dangkal berskala kecil hingga menengah dengan Magnitudo 4 sampai 5.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang, tidak terpengaruh isu yang tidak berdasar, dan terus meningkatkan kesiapsiagaan terhadap potensi bencana gempa bumi.

( berbagai sumber)