![]() |
| Piala Dunia 2026, hunian hotel dan pemesanan tiket pesawat tidak seperti yang diharapkan. Hal ini memicu sejumlah hotel banting harga hingga separuh. (Foto: AI) |
Editor: Dinar Kencana
GEBRAK.ID; JAKARTA- Gelaran Piala Dunia 2026 yang baru saja dimulai di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko justru berubah menjadi mimpi buruk bagi industri pariwisata dan perhotelan Negeri Paman Sam. Alih-alih kebanjiran wisatawan asing, para pelaku usaha justru kebingungan karena tingkat hunian hotel yang rendah, dipaksa melakukan aksi diskon besar-besaran untuk menarik pengunjung.
Alih-alih menjadi 'durian runtuh' seperti prediksi awal, ajang olahraga terbesar di planet ini saat ini malah menghadapi fenomena 'El Nino' ekonomi yang kering kerontang. Apa penyebabnya? Simak ulasan lengkapnya berikut ini.
'Kekecewaan di Segala Hal'
Para penggemar sepak bola yang diharapkan membanjiri kota-kota seperti New York, Los Angeles, dan Miami tak kunjung tiba. Kondisi ini memaksa banyak hotel menurunkan tarif kamar secara drastis.
Vijay Dandapani, CEO Hotel Association of New York City, mengungkapkan kekecewaannya secara blak-blakan. "Ini adalah kekecewaan di segala hal. Saya tidak punya kata lain untuk menggambarkannya," ujarnya kepada Reuters.
Asosiasi tersebut bahkan telah memangkas proyeksi pendapatan hotel yang terkait dengan Piala Dunia hingga 60% menjadi sekitar US$ 60 juta .
Harga Tiket & Visa Jadi Biang Kerok
Setidaknya ada tiga faktor utama yang menyebabkan lesunya pariwisata Piala Dunia 2026:
1. Harga Tiket Pesawat dan Pertandingan Selangit: Biaya penerbangan yang melonjak drastis serta harga tiket pertandingan yang fantastis menjadi faktor penghalang terbesar. Menjelang pertandingan, harga tiket termurah di kota-kota besar seperti New York dan Miami mendekati angka US$ 1.000 (sekitar Rp 16 juta) .
2. Kendala Visa dan Iklim yang Tidak Ramah: Suporter dari lebih dari setengah negara peserta memerlukan visa untuk masuk ke AS. Proses yang rumit, biaya mahal, serta kebijakan perbatasan yang diperketat membuat banyak penggemar internasional urung melancong.
3. Logistik yang Rumit: Piala Dunia kali ini tersebar di 16 kota di tiga negara berbeda (AS, Kanada, Meksiko). Mobilitas yang rumit dan mahal ini membuat penggemar enggan bepergian antar kota untuk menonton tim kesayangan mereka.
Data Pahit: Pembelian Tiket Pesawat Turun, Okupansi Hotel Stagnan
Data statistik semakin memperkuat gambaran suram ini. Menurut perusahaan analitik Cirium, pemesanan penerbangan dari Eropa ke sebagian besar kota tuan rumah untuk periode Juni-Juli rata-rata turun 3,8% dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan paling tajam terjadi pada rute menuju New York, yakni anjlok hingga 15,8%.
Sementara itu, data dari firma analitik CoStar menunjukkan bahwa rata-rata tingkat pemesanan hotel di seluruh kota tuan rumah hanya naik 0,5% dibanding tahun lalu, angka yang sangat kecil mengingat skala acara sebesar Piala Dunia.
Strategi Banting Harga dan 'Pelarian' ke Airbnb
Sebagai gambaran, New York Hilton Midtown, hotel terbesar di kota New York, terpaksa memangkas tarif kamar selama turnamen menjadi sekitar US$ 415 per malam atau hanya setengah dari tarif yang dipasarkan pada Desember lalu.
Namun, di tengah kesuraman ini, ada satu sektor yang justru mencatatkan lonjakan positif: sewa jangka pendek (vacation rentals) seperti Airbnb. Karena memungkinkan kelompok pendukung untuk berbagi biaya, pemesanan di platform ini justru terpantau meningkat di kota-kota seperti Boston dan Los Angeles .
"Saya punya teman-teman yang memilih berlibur ke Ibiza untuk menonton TV daripada datang langsung. Biayanya jauh lebih murah," ujar Andy Milne, superfan Inggris, menggambarkan perubahan perilaku suporter saat ini .
Dampak Berantai ke Industri Lain
Industri periklanan pun terkena imbasnya. Meskipun Piala Dunia 2026 secara total mencatatkan belanja iklan global yang besar, tingkat pertumbuhannya tidak sebesar edisi sebelumnya.
Menurut laporan WARC Media, Piala Dunia 2026 diperkirakan hanya menambah pertumbuhan belanja iklan global sekitar 1,1%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan Piala Dunia Rusia 2018 yang menghasilkan tambahan belanja iklan sebesar US$ 12,6 miliar atau setara pertumbuhan 2,8%.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bisnis "durian runtuh" bagi negara tuan rumah Piala Dunia bukan lagi keniscayaan. Dominasi faktor ekonomi dan kebijakan politik kini mampu mengalahkan euforia olahraga itu sendiri.
(berbagai sumber)
