Gas Bumi Jadi Primadona, Pemerintah Kebut Interkoneksi Pipa untuk Kedaulatan Energi


Pemerintah kebut interkoneksi pipa gas nasional. Gas bumi kini primadona energi, 70% produksi untuk domestik. Cisem II beroperasi, Dusem konstruksi. Cadangan gas 55,85 TSCF. ( Foto: esdm) 

Editor: Dinar Kencana

GEBRAK.ID,JAKARTA – Pemerintah semakin serius menempatkan gas bumi sebagai tulang punggung transisi energi nasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi bersih dan tuntutan kedaulatan energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mempercepat pembenahan tata kelola gas bumi sekaligus membangun jaringan pipa transmisi nasional yang saling terhubung.

Hal itu ditegaskan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, dalam forum Luncheon Talk bertajuk "Roadmap Akselerasi Peran Gas Bumi sebagai Energi Transisi Guna Kedaulatan Energi" yang digelar oleh Ikatan Ahli Perpipaan Migas Indonesia di Pullman Jakarta, Rabu (24/6/2026).

Menurut Laode, posisi gas bumi kini telah berubah drastis dalam peta energi nasional. Jika dulu Indonesia dikenal sebagai eksportir besar LNG, kini mayoritas produksi gas justru diprioritaskan untuk kebutuhan dalam negeri.

"Sekarang sekitar 70 persen gas dalam negeri kita manfaatkan untuk masyarakat dan industri. Ini menunjukkan gas bumi telah menjadi primadona," ujar Laode.

Peningkatan konsumsi domestik itu, kata dia, menjadi sinyal positif, tetapi sekaligus memunculkan tantangan baru. Pemerintah harus cermat menyeimbangkan pemanfaatan gas sebagai bahan bakar sekaligus bahan baku industri strategis, mulai dari pupuk, pembangkit listrik, hingga metanol untuk mendukung program biodiesel .

Cadangan Gas 55,85 TSCF, Pemerintah Tolak Opsi Impor

Di tengah kebutuhan yang terus naik, pemerintah juga menghadapi kenyataan bahwa pasokan dari sumur-sumur migas eksisting mulai mengalami penurunan alami. Sementara cadangan-cadangan gas besar hasil temuan terbaru diperkirakan baru bisa berproduksi dalam tiga hingga empat tahun mendatang. 

"Kita butuh tata kelola yang lebih baik agar transisi menuju produksi lapangan besar bisa berjalan mulus," katanya.

Data pemerintah mencatat, pada 2025 Indonesia masih memiliki cadangan gas bumi sebesar 55,85 TSCF . Cadangan terbesar berada di Maluku dengan total 15,78 TCF, diikuti Kalimantan 11,58 TCF, dan Papua 10,25 TCF. 

Dengan modal itu, pemerintah tetap konsisten menolak opsi impor LNG meskipun tawaran dari luar negeri terus berdatangan hampir setiap pekan. Laode menegaskan, selama Indonesia masih memiliki sumber daya sendiri, maka prioritas utamanya adalah memaksimalkan pemanfaatan gas nasional. 

"Kalau energi itu bisa kita hasilkan sendiri, maka sebesar-besarnya harus dimanfaatkan untuk kepentingan dalam negeri," tegasnya .

Tak hanya soal pasokan, Laode juga mengingatkan bahwa minyak dan gas bumi kini menjadi instrumen strategis geopolitik. Kepemilikan cadangan energi, menurutnya, bisa memperkuat posisi tawar Indonesia di level global. 

Infrastruktur Pipa Transmisi Terus Dibangun

Untuk mengatasi ketimpangan antara wilayah surplus gas dan pusat konsumsi, pemerintah kini mempercepat pembangunan infrastruktur pipa transmisi nasional. Selama ini, wilayah seperti Aceh, Natuna, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua memiliki surplus pasokan, sementara Jawa dan sebagian Sumatera justru menjadi pusat permintaan terbesar .

Dalam forum tersebut, Laode mengungkapkan bahwa proyek strategis nasional pipa transmisi gas Cisem Tahap 1 dan Cisem Tahap 2 telah rampung. Pipa Cisem II sepanjang 242 kilometer yang menghubungkan Batang di Jawa Tengah hingga Kandang Haur Timur di Jawa Barat telah resmi beroperasi penuh setelah melalui proses commissioning pada awal Juni 2026.

Direktur Jenderal Migas Laode Sulaeman menyampaikan bahwa commissioning Cisem II merupakan capaian penting dalam pembangunan infrastruktur energi nasional.

"Setelah keberhasilan Cisem I, hari ini kita menyaksikan commissioning Cisem II yang melengkapi keterhubungan jaringan pipa gas bumi di Pulau Jawa. Infrastruktur ini memperkuat ketahanan energi nasional dan meningkatkan kemampuan sistem dalam menyalurkan gas ke berbagai wilayah dan sektor pengguna," ujar Laode saat seremonial di Kandang Haur Timur, Sabtu (6/6/2026). 

Proyek yang menyerap 1.981 tenaga kerja lokal pada masa konstruksi ini juga mencatatkan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) mencapai 60,58 persen . Sumber pasokan utama aliran gas tahap awal berasal dari Lapangan Jambaran Tiung Biru yang diharapkan mampu meningkatkan produktivitas Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) di Jawa Tengah. 

Sementara proyek Dusem (Dumai-Sei Mangkei) kini mulai masuk tahap konstruksi. Pembangunan pipa transmisi gas sepanjang sekitar 541,8 km ini ditargetkan rampung pada Desember 2027 dengan nilai investasi Rp6,5 triliun. 

Tak berhenti di situ, pemerintah juga telah menyiapkan desain dasar jaringan lanjutan Semarang-Solo-Yogyakarta, Cirebon-Bandung, hingga pengembangan jaringan gas kota (jargas) di sekitarnya. 

"Infrastruktur ini harus terus dibangun. Setelah pipa transmisi selesai, cabang-cabangnya akan terus tumbuh dan saling terhubung," jelas Laode .

Jaringan Gas Rumah Tangga Jadi Prioritas

Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi Arief Wardono mengungkapkan, Indonesia saat ini memiliki jaringan pipa gas sepanjang 22.821 kilometer yang dikelola badan usaha pengangkutan dan niaga gas bumi. Infrastruktur tersebut terdiri atas pipa transmisi, distribusi, hingga jaringan gas rumah tangga (jargas). 

Pengembangan jargas dinilai semakin penting seiring bertambahnya infrastruktur pipa gas bumi nasional. Pertumbuhan paling signifikan terjadi pada periode 2020-2022 dengan penambahan pipa jargas sebagai bagian dari program substitusi LPG bersubsidi. 

Dengan jaringan interkoneksi nasional, distribusi gas dari daerah surplus diharapkan menjadi lebih efisien, mampu menutup defisit di wilayah lain, sekaligus menjamin pasokan energi yang aman, terjangkau, dan berkeadilan bagi masyarakat serta industri. 

Pemerintah berharap sinergi antara regulator, pelaku usaha, asosiasi profesi, dan seluruh pemangku kepentingan dapat mempercepat pengembangan infrastruktur gas bumi nasional, sehingga gas benar-benar menjadi "jembatan emas" menuju masa depan energi bersih Indonesia .

(berbagai sumber) 


Meta Deskripsi: Pemerintah kebut interkoneksi pipa gas nasional. Gas bumi kini primadona energi, 70% produksi untuk domestik. Cisem II beroperasi, Dusem konstruksi. Cadangan gas 55,85 TSCF.