Editor: Damar Pratama
Deretan mobil bekas siap jual. (Foto: OLXmobbi)
GEBRAK.ID, JAKARTA – Pasar mobil bekas di Indonesia menunjukkan fenomena menarik. Di tengah permintaan yang masih cukup stabil, mobil bekas merek China ternyata mengalami penurunan nilai jual yang lebih tajam dibandingkan mobil merek Jepang pada segmen yang sama.
Temuan tersebut diungkapkan Direktur OLXmobbi, Agung Iskandar, yang menyebut mobil bermesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE) asal China yang telah beredar selama tiga hingga lima tahun mulai memperlihatkan tingkat depresiasi yang lebih tinggi.
"Faktanya memang disayangkan mobil-mobil China yang ICE-nya sudah masuk itu depresiasi lebih besar dibandingkan mobil-mobil Jepang," ujar Agung di Jakarta, Jumat (26/6/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut terlihat jelas pada sejumlah model yang berada di kelas serupa. Salah satu contohnya adalah Wuling Cortez yang selama ini sering dibandingkan dengan Toyota Kijang Innova di segmen Multi Purpose Vehicle (MPV).
Agung menjelaskan, nilai jual kembali Toyota Kijang Innova masih relatif stabil dibandingkan pesaingnya dari China. Perbedaan tersebut tercermin dari tingkat penyusutan harga setiap tahunnya.
"Depresiasinya itu sekitar 20-30 persen lebih besar dibandingkan mobil-mobil Jepang. Jadi kalau misalnya Innova, dalam setahun depresiasinya antara 6-10 persen, Cortez bisa 8-15 persen lebih tinggi," jelas Agung.
Fenomena tersebut, lanjut Agung, tidak hanya terjadi pada dua model tersebut. Secara umum, mobil-mobil merek China di berbagai segmen juga menunjukkan pola penyusutan harga yang lebih besar dibandingkan kendaraan asal Jepang.
Menurut Agung, salah satu penyebab utama adalah usia kehadiran merek-merek China di pasar otomotif Indonesia yang masih relatif singkat. Sebagian besar produk baru memasuki siklus penggunaan tiga hingga lima tahun sehingga belum memiliki rekam jejak jangka panjang terkait ketahanan produk maupun nilai jual kembali.
Di sisi lain, mobil-mobil Jepang telah puluhan tahun menguasai pasar nasional sehingga memiliki tingkat kepercayaan konsumen yang lebih tinggi. Faktor jaringan layanan purna jual, ketersediaan suku cadang, hingga likuiditas di pasar mobil bekas turut menjadi alasan mengapa harga jual kendaraan Jepang cenderung lebih stabil.
Dalam industri otomotif, depresiasi atau penyusutan nilai kendaraan memang menjadi salah satu pertimbangan penting sebelum membeli mobil. Selain kondisi kendaraan, harga bekas biasanya dipengaruhi oleh citra merek, permintaan pasar, biaya perawatan, hingga kemudahan mendapatkan suku cadang.
Agung mengatakan, saat ini pasar mobil bekas merek China masih didominasi oleh Wuling karena menjadi salah satu produsen asal Tiongkok yang lebih awal masuk ke Indonesia.
Sementara itu, merek lain seperti DFSK juga mulai muncul di bursa mobil bekas. Namun, kontribusinya masih sangat kecil karena populasi kendaraannya di Indonesia belum sebanyak merek-merek Jepang maupun Wuling.
Meski demikian, Agung menilai perkembangan merek China di Indonesia masih memiliki peluang yang besar. Seiring bertambahnya usia kendaraan dan semakin luasnya jaringan layanan purna jual, bukan tidak mungkin nilai jual kembali mobil-mobil asal China akan menjadi lebih kompetitif di masa mendatang.
Saat ini, konsumen disebut masih menjadikan reputasi merek dan kestabilan harga jual kembali sebagai dua faktor utama sebelum memutuskan membeli kendaraan, baik baru maupun bekas.
Bagi calon pembeli mobil bekas, kondisi ini juga dapat menjadi peluang. Harga mobil China yang mengalami depresiasi lebih cepat memungkinkan konsumen mendapatkan kendaraan dengan usia relatif muda dan fitur yang lengkap dengan harga yang lebih terjangkau dibandingkan kompetitornya.
(Sumber: OLXmobbi)